Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Batik Banyumasan: Antara Negarigung dan Pangeran Diponegoro

Selain Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan, masih ada batik daerah lainnya di Indonesia, salah satunya adalah batik Banyumasan.
Agnes Savithri
Agnes Savithri - Bisnis.com 22 November 2014  |  19:49 WIB
Batik Banyumasan: Antara Negarigung dan Pangeran Diponegoro
Salah satu motif Batilk Banyumas - facebook/batik sokaraja banyumas/Anto Djamil

Bisnis.com, JAKARTA -- Selain Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan, masih ada batik daerah lainnya di Indonesia, salah satunya adalah batik Banyumasan.

Batik Banyumasan ini merupakan batik pedalaman khas Banyumas, Purwokerto.

Seperti diketahui, batik merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sudah diakui di mata internasional.

Pada 2 Oktober 2009, batik ditetapkan sebagai warisan budaya milik Indonesia oleh Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Warisan budaya batik yang identik dengan masyarakat Jawa ini tidak hanya memiliki nilai keindahan namun berperan sebagai visualisasi simbol religius.

Di balik motif dan warna batik menyimpan maknanya masing-masing.

Batik di Indonesia tidak hanya terkenal di satu daerah saja.

Beberapa wilayah terkenal dengan corak dan warna batiknya masing-masing. Seperti Yogyakarta dan Solo yang terkenal dengan motif Kawung dan Parang. Sedangkan Pekalongan terkenal dengan motif Jlamprang.

Bambang Widodo, dosen Universitas Jenderal Soedirman sekaligus pengamat budaya dan batik Banyumas menceritakan mengenai asal-asul batik Banyumas.

Dalam bahasa Banyumas, batik merupakan akronim dari ngambani titik, yani berawal dari satu titik yang kemudian dibuat menjadi besar dan lebar.

“Kapan batik Banyumas masuk ke dalam kultur masyarakatnya memang tidak ada sumber tertulis, tetapi menurut dugaan batik masuk pada saat Banyumas berada dalam wilayah Negarigung,” tutur Bambang yang ditemui di Purwokerto, pekan lalu.

Negarigung merupakan wilayah kebudayaan yang berada di Keraton Yogyakarta dan Surakarta sekitar abad ke-15.

Batik Banyumas diduga mendapatkan pengaruh dari Negarigung karena pada saat itu pemerintahan Kabupaten Banyumas berada di bawah kesultanan Yogyakarta.

Menurut Bambang, ketika Kesultanan Yogyakarta mulai mengenal batik, dengan perlahan ditularkan ke Kabupaten Banyumas melalui kaum priyayi. Dahulu di Jawa terkenal dengan kelas sosial, yakni kaum priyayi dan non-priyayi.

Pengguna batik pertama merupakan kaum priyayi Banyumas yang terdiri dari bupati dan jajarannya.

Walaupun semula digunakan oleh kaum priyayi, perlahan batik ini ditularkan juga kepada rakyat biasa.

Namun mengingat pakaian merupakan salah satu unsur penanda kelas sosial, tentunya kain batik yang digunakan para priyayi dan rakyat berbeda motif.

Motif batik yang digunakan kaum priyayi mendapatkan pengaruh dari Yogyakarta dan Surakarta. Sedangkan yang digunakan rakyat berasal dari Banyumas langsung.

Namun ada anggapan lain, yakni batik Banyumasan merupakan batik yang dibawa oleh para pengikut Pangeran Diponegoro yang tersingkir dan pada akhirnya menetap di daerah Banyumas.

Mereka mendirikan pusat batik di daerah Sokaraja yang masih ada hingga saat ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batik
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top