Pemandangan kota Melbourne, Australia/conference.aifs.gov.au
Fashion

HUT Ke-71 RI di Luar Negeri: Cerita dari KJRI Melbourne

Wike Dita Herlinda
Rabu, 17 Agustus 2016 - 22:07
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, berbagai persiapan dilakukan oleh masyarakat untuk merayakannya dengan antusias. Tidak hanya oleh Warga Negara Indonesia (WNI) di dalam negeri, tetapi juga yang berada di luar negeri.

Persiapan perayaan Agustusan di luar negeri juga selalu membuat sibuk perwakilan Pemerintah Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Mereka berupaya agar momentum tersebut bisa menjadi ajang pemersatu WNI yang terserak di negeri orang.

Para panitia acara peringatan 17 Agustus di masing-masing kantor perwakilan Pemerintah Indonesia sibuk mengumpulkan WNI di sekitar wilayah kerja mereka. Sebisa mungkin mereka menjangkau seluruh warga Indonesia untuk berpartisipasi.

Kesibukan tersebut pernah juga dirasakan oleh Aurora Dwita Pangestu pada 2014, ketika menjadi panitia perayaan Agustusan saat sedang dinas di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne, Australia.

Perempuan yang betugas di Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Humum Indonesia Kementerian Luar Negeri itu mengatakan perayaan Agustusan di Negeri Kanguru selalu dilakukan dengan antusiasme luar biasa, bahkan oleh warga lokal.

Seperti apa cerita perayaan Agustusan dari KJRI Melbourne? Apa saja kegiatannya? Bagaimana juga persiapannya? Berikut penuturan perempuan yang akrab disapa Audi itu:

Pernahkah Anda menjadi panitia perayaan Agustusan di luar negeri?

Pernah. Pada 2014, saat sedang ditempatkan di KJRI Melbourne. Waktu itu, saya juga sempat dipercaya menjadi pembawa UUD saat gelaran upacara Hari Kemerdekaan.

Bisa digambarkan, seperti apa bentuk perayaan Agustusan di Melbourne?

Setiap tahun selalu ada upacara bendera yang diadakan oleh KJRI Melbourne. Namun, untuk petugasnya, kami banyak melibatkan unsur masyarakat, terutama para mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di sana.

Upacara tersebut dihadiri oleh masyarakat Indonesia di Melbourne dan sekitarnya, baik yang masih menjadi WNI maupun yang eks WNI, dan baik yang berstatus pelajar maupun yang sudah memiliki pekerjaan tetap di sana.

Setelah upacara, kami mengadakan ramah tamah [dengan Konjen], diselingin acara makan-makan dengan berbagai menu khas Indonesia. Selain itu juga ada bazaar dan lomba-lomba khas Agustusan untuk anak-anak.

Lalu, di sela-sela itu juga ada door prizeyang hadiahnya adalah tiket pulang-pergi [waktu itu PP Melbourne-Bali] yang disponsori oleh Garuda Indonesia.

Apakah dari tahun ke tahun prosesinya selalu sama? Bagaimana dengan temanya?

Biasanya tema perayaan Agustusan di kantor Perwakilan RI disamakan dengan ketentuan dari Kementerian Luar Negeri di pusat [Jakarta]. Setiap tahun berbeda-beda, karena dari Kemlu setiap tahun selalu ada pergantian tema.

Masing-masing KBRI atau KJRI boleh mengorganisir acara perayaannya sendiri-sendiri, tetapi tema besarnya harus tetap disamakan dan mengacu seperti yang di pusat. Jadi, supaya pesan yang disampaikan bisa seragam di manapun.

Apa tema untuk tahun ini?

Setiap tahun, [Kemlu menunjuk] unit tertentu untuk menjadi panitia perayaan Agustusan. Biasanya ada 1 pejabat [eselon] yang menjadi koordinator umum dan ada juga beberapa unit yang menjadi tim pendukung.

Tema besar dari pemerintah pusat tahun ini sebenarnya adalah seputar ‘Indonesia Kerja Nyata’, jadi tema untuk memperingati hari Kemerdekaan masih terkait dengan semangat tersebut.

Untuk tahun ini, tema besar perayaan Agustusan yang dilansir Kemlu kurang lebih adalah; ‘Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Dukung Suksesi Kepemimpinan Nasional demi Kelanjutan Pembangunan Menuju Indonesia yang Semakin Maju dan Sejahtera.’

Selain upacara dan ramah tamah, apa kegiatan perayaan lainnya?

Selain upacara di KJRI, ada juga acara besar di Federation Square Melbourne. Itu semacam alun-alun besar di Kota Melbourne. Acara itu digelar oleh KJRI melalui kerjasama dengan komunitas masyarakat Indonesia di sana.

Acaranya berupa sajian tari-tarian tradisional. Waktu itu kami pernah menyuguhkan tari Saman [Aceh] dengan penari dalam jumlah banyak; 69 orang, menyesuaikan dengan usia Republik Indonesia saat itu.

Nah, penarinya sendiri adalah mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan WNI yang sudah menjadi warga tetap di Melbourne. Selain tari Saman, kami juga mengadakan upacara penurunan bendera di Federation Square. Jadi [upacara sore] tidak lagi di kantor KJRI.

Bagaimana dengan antusiasme WNI di sana? Berapa pesertanya?

Saya rasa animonya cukup besar. Acara di KJRI saja dihadiri lebih dari 200 WNI. Acara yang di KJRI memang tidak bisa [memuat] terlalu banyak orang karena lahannya tidak terlalu besar. Namun, acara yang di Federation Square jauh lebih banyak partisipannya karena di sana areal umum.

Bagaimana cara KJRI merangkul seluruh WNI di Melbourne dan sekitarnya? Apakah sudah semua dijangkau?

Untuk mengadakan acara-acara semacam itu, KJRI bekerjasama dengan simpul-simpul komunitas masyarakat yang ada di Melbourne dan sekitarnya. Selain itu, gaung informasinya biasanya disebar melalui website KJRI.

Bagaimana dengan respons warga lokal terhadap perayaan Agustusan ini?

Mereka antusias sekali, karena acara seperti [tari Saman di Federation Square] baru pertama kali diadakan, dan mereka sangat tertarik. Bahkan, acara perayaan Agustusan turut diberitakan oleh media setempat.

Selain itu, mungkin juga karena kedekatan hubungan antara Indonesia—Australia, sehingga masyarakat lokal di sana sudah banyak tahu mengenai budaya Indonesia. Jadi, mereka lebih tertarik untuk datang dan melihat acara kami.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro