Penyakit Kardiovaskuler: Kenali Tingkat Kerentanan Anda Terhadap Hipertensi

Salah satu penyakit umum yang paling ditakuti di dunia ini adalah hipertensi alias tekanan darah tinggi. Pasalnya, penyakit ini mememiliki kaitan erat dengan pembuluh darah dan sistem kardiovaskuler.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 21 Agustus 2016  |  20:55 WIB
Penyakit Kardiovaskuler: Kenali Tingkat Kerentanan Anda Terhadap Hipertensi
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu penyakit umum yang paling ditakuti di dunia ini adalah hipertensi alias tekanan darah tinggi. Pasalnya, penyakit ini mememiliki kaitan erat dengan pembuluh darah dan sistem kardiovaskuler.

Penyakit ini pun berpotensi menimbulkan penyakit jantung koroner, stroke hingga gangguan pada ginjal. Selain faktor gaya hidup, seseorang berpotensi terkena hipertensi karena faktor genetik, faktor usia, dan juga riwayat hipertensi dalam keluarga.

Lantas, bagaimana ciri-ciri seseorang yang rentan mengidap hipertensi? Apa saja gejala-gejalanya? Serta, bagaimana cara jitu untuk mencegah Anda terjangkit hipertensi?

Dokter mitra Konsula, Sri Habibah Sari Melati, menjelaskan hipertensi pada umumnya menyerang pria usia antara 35 tahun hingga 50 tahun, dan perempuan yang sudah memasuki masa menopause.

Penyakit ini jarang menyerang seseorang yang berusia kurang dari 20 tahun. Jikalau memang terkena hipertensi pada usia di bawah 20 tahun, bisa merupakan hipertensi essensial ataupun karena penyakit ginjal.

“Berdasarkan beberapa penelitian, pada pembuluh darah aorta, akan terjadi peningkatan ketebalan dinding pembuluh darah antara usia 20 tahun sampai dengan usia 90 tahun. Sehingga faktor pertambahan usia juga menentukan terjadinya,” jelasnya.

Terkait faktor genetika dalam terjadinya penyakit hipertensi, Habibah menegaskan kembali bahwa potensi seseorang terserang penyakit hipertensi cukup besar bila salah satu anggota keluarganya memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi.

“Jika kedua orang tua menderita hipertensi, maka angka kejadian hipertensi pada keturunannya meningkat 4 sampai 15 kali dibanding bila kedua orang tuanya adalah normotensi [bertekanan darah normal],” ujarnya.

Apabila kedua orang tuanya menderita hipertensi essensial, maka 44,8% anaknya akan menderita hipertensi. Jika hanya salah satu orang tua yang menderita hipertensi maka 12,8% keturunannya akan mengalami hipertensi.

Adapun, gejala-gejala yang kerap dialami oleh penderita hipertensi antara lain adalah sakit kepala, rasa tidak nyaman di tengkuk, migrain, mudah marah, palpitasi, dan sering buang air kecil terutama di malam hari, serta gejala-gejala lainnya.

Untuk menghindari ancaman hipertensi, Habibah mengatakan seseorang harus berkomitmen mengubah pola hidup terutama dari makanan dengan cara membiasakan untuk tidak mengonsumsi makanan yang terlalu asin.

Diet tinggi garam setiap hari, akan mengubah pilihan rasa asin seseorang. Perubahan pilihan rasa tinggi garam tersebut akan membuat seseorang mengkonsumsi garam dalam jumlah yang banyak.

Seperti diketahui, konsumsi garam berlebihan setiap harinya akan meningkatkan risiko terkena hipertensi.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa pengurangan konsumsi garam dapat menurunkan tekanan darah sistolik rata-rata 3-5 mmHg, dengan efek yang lebih besar pada orang tua yang menderita hipertensi berat.

“Di Indonesia, makanan tinggi garam dan lemak hampir ada di semua makanan tradisional pada sebagian besar daerah. Selain itu, kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya, juga dapat menjadi penambahan asupan garam dalam tubuh.”

Habibah menganjurkan untuk konsumsi garam tidak melebihi 2 gram per hari. Selain itu, juga sebaiknya melakukan olahraga rutin 3 kali seminggu, menghindari rokok, membatasi makan makanan berlemak dan menghindari minuman beralkohol.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hipertensi

Editor : Saeno
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top