TIPS PARENTING: Belajar dari Kasus Anak SD Tawuran

Beberapa pekan lalu, publik dikejutkan dengan adanya tawuran bocah SD di Semarang
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 10 Desember 2016  |  15:25 WIB
TIPS PARENTING: Belajar dari Kasus Anak SD Tawuran
Siswa-siswi di Aceh mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional - Antara/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA-Beberapa pekan lalu, publik Indonesia dikejutkan dengan pemberitaan tentang bocah SD di Semarang yang berniat melakukan aksi tawuran dengan membawa senjata tajam. Peristiwa tersebut membuat miris banyak orangtua di Indonesia.

Tidak sedikit pula yang heran dan tak habis pikir. “Duh, bisa-bisanya masih SD sudah tawuran. Pakai bawa senjata tajam lagi. Itu orangtua dan gurunya bagaimana sih,” celetuk seorang ibu rumah tangga di Jakarta saat menyimak pemberitaan tersebut di televisi.

Banyak orang yang lantas memberikan label anak tersebut sebagai ‘anak nakal’. Padahal, jika ditelaah lebih jauh, orangtua dan orang dewasa di sekitar anak itu juga turut memiliki andil dan bertanggungjawab atas apa yang diperbuat oleh si bocah

Agar kejadian serupa tak terulang, apalagi sampai dilakukan oleh buah hati Anda, kenali terlebih dahulu mengapa seorang bocah bisa tumbuh menjadi ‘anak nakal’. Bisa jadi, tanpa disadari, tindakan orangtua justru yang membentuk karakter si kecil menjadi negatif.

Secara psikologis, anak tidak akan tumbuh menjadi nakal apabila menerima perhatian dan pola asuh yang seimbang dari ayah dan ibunya. Menurut psikolog klinis Kasandra Putranto, anak yang tidak diasuh seimbang berpotensi lebih besar tumbuh menjadi anak nakal.

“Selama ini, kita memang diajarkan bahwa ibu berperan sebagai provider dan ayah lebih ke mencari uang. Fungsi itu ternyata tidak baku, bisa saja berbalik; ketika ibu yang bekerja, ayah yang menjadiprovider,” ujarnya.

Dia berpendapat dalam pola didik anak, sebaiknya orangtua mengenyahkan pola pikir bias tentang fungsi gender bahwa sosok ayah lebih kaku dan tugas mengasuh anak hanya ditumpukan pada ibu semata.

“Ketika sosok ayah hadir dalam perkembangan anak, ternyata anak tersebut bisa tumbuh lebih lengkap dan maksimal dibandingkan jika fungsi pengasuhan ayah itu tidak ada dan hanya ditumpukan sepenuhnya pada salah satu pihak [orangtua],” tegasnya.

Senada, psikolog Universitas Indonesia Rini Hildayani mengatakan anak yang diasuh secara seimbang dan proporsional oleh kedua belah pihak orangtuanya sejak dini biasanya memiliki kemampuan kognitif lebih tinggi saat menginjak usia enam bulan hingga satu tahun.

Saat si anak memasuki usia tiga tahun, biasanya dia akan memiliki IQ yang lebih tinggi, dan berkembang menjadi individu yang mampu mencari solusi permasalahan dengan cara yang lebih baik. Bukan dengan cara pintas atau pikiran pendek seperti melakukan kekerasan.

“Dalam mengasuh anak, kedua belah pihak orangtua harus menumbuhkan ikatan emosional yang kuat dengan buah hatinya. Dengan demikian, hubungan antara suami dan istri akan lebih hangat dan terbuka, dan ini akan berdampak positif bagi tumbuh kembang anak.”

Seorang anak yang nakal di sekolah biasanya merefleksikan kurangnya perhatian dan kasih sayang yang dia terima dari lingkungan keluarganya di rumah. Itulah mengapa, dia berusaha mencari perhatian di sekolah dengan cara berbuat onar.

Saat dia dijahili atau menjadi korban bullying di sekolah, jalan yang diambilnya pun tak jarang adalah melalui balas dendam. Sebab, mungkin di rumah dia terbiasa dengan bentuk-bentuk kekerasan, seperti; kekerasan ekonomi (kemiskinan), fisik, atau verbal.

Jika tidak ada kendali atau perhatian yang seimbang dari kedua belah pihak orangtua, anak-anak juga rentan terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Biar bagaimanapun, keluarga tetap harus menjaga fungsinya sebagai benteng bagi pergaulan anak.

Perlu diingat, anak nakal tidak melulu dipicu oleh kurangnya perhatian atau kasih sayang yang penuh dari kedua orangtua. Dalam beberapa kasus, seorang anak yang membuat ulah justru dipicu oleh perhatian berlebihan dengan cara yang salah dari orangtuanya.

Psikolog Jagadnita Consulting Clara I. Kriswanto berkata banyak orangtua yang memberikan perhatian dengan cara yang salah pada anaknya. Mereka memberi perhatian justru pada saat anak berbuat salah. Misalnya, menuruti keinginan anak saat dia tantrum di mal.

“Anak akan mendapat presepsi bahwa jika ingin mendapat perhatian, dia harus berbuat nakal. Jadi, berikanlah perhatian pada saat yang tepat, yaitu saat anak melakukan hal yang baik. Perhatian yang salah akan membuat anak menjadi pribadi yang tak taat aturan,” jelasnya.

Kasus bocah SD yang niat tawuran dengan senjata tajam di Semarang sejatinya adalah tamparan bagi seluruh orangtua di Indonesia. Sudahkah pola asuh dan pola didik Anda tepat selama ini? Mudah-mudahan kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parenting

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top