Desain Fraktal yang Rumit, tapi Cantik

Mel Ahyar yang seringkali terinspiasi dengan berbagai budaya dan latar belakang suatu daerah di dunia. Dalam panggung Plaza Indonesia Fashion Week kali ini, Mel Ahyar membawa tema fraktal yang cukup rumit, tetapi tetap terlihat cantik
Nindya Aldila | 28 Maret 2017 23:13 WIB
Karya desainer Mel Ahyar yang ditampilkan pada panggung Plaza Indonesia Fashion Week 2017, Sabtu (25/3/2017). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Mel Ahyar yang seringkali terinspiasi dengan berbagai budaya dan latar belakang suatu daerah di dunia. Dalam panggung Plaza Indonesia Fashion Week kali ini, Mel Ahyar membawa tema fraktal yang cukup rumit, tetapi tetap terlihat cantik

Kali ini dia terinspirasi dari seorang seniman kontemporer asal Austria bernama Erwin Wurm yang seringkali melakukan manipulasi realitas ke dalam bentuk yang lebih rumit.

Inspirasi tersebut dituangkan dalam motif-motif yang tampak rumit namun sejatinya indah dan cantik. Tak hanya terinspirasi oleh seni kontemporer, koleksi ini juga mengambil keindahan seni dari persamaan matematika. Sebuah algoritma matematika yang ditampilkan dalam keadaan berulang dan skala yang berbeda-beda akan membentuk pola simetris yang disebut fraktal.

Berbeda dari bentuk geometris pada umumnya, bentuk fraktal dapat menciptakan pola yang bermacam-macam dengan skala yang berbeda.

Bentuk fraktal sendiri diakui dalam dunia matematika dan seni digital sebagai sesuatu yang rumit namun indah dan fungsional. Bentuk-bentuk fraktal telah banyak terdapat di alam seperti mahkota bunga matahari, rumah siput, motif sayap kupu-kupu, dan capung.

Beberapa seniman menyebut teori fraktal sebagai chaos theory, keindahan yang tercipta dari kekacauan dan kerumitan.

“Dalam salah satu tema karyanya berjudul One Minute Sculpture, Wurm menunjukkan hubungan unik antara model seni dengan benda sehari-hari. Keindahan dari hal-hal rumit yang diangkat oleh Wurm inilah yang menginspirasi Mel Ahyar First dalam proses penciptaan koleksi Fraktal Gradina Prefall 2017,” kata Mel Ahyar dalam konferensi pers yang diterima Bisnis, Selasa (28/3/2017).

Mel Ahyar First mengejawantahkan teori fraktal ini dalam motif-motif percampuran geometris dan bentuk fraktal dari alam seperti ngengat, capung, dedaunan, dan bunga. Indahnya taman bunga direka ulang dengan algoritma dan persamaan matematika.

Tak melupakan prinsip “Captivating through Art”, Mel Ahyar First memilih warna-warna terang dan kontras serta motif-motif geometris berulang dari kupu-kupu, capung dan dedaunan yang merupakan aplikasi dari teori fraktal dan karya seni kontemporer.

Dalam koleksi kali ini bahan-bahan yang dipilih adalah bahan organdy silk, silk, dan linen dengan detail bordir, embellishment manik-manik, dan batu mulia dalam setiap item yang dibuat.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fashion

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top