Awas, Terlalu Banyak Duduk Perpendek Umur!

Jika Anda termasuk tipe pegawai yang kerap menghabiskan waktu seharian di meja kerja tanpa banyak beranjak, berhati-hatilah. Sebuah riset menunjukkan orang yang terlalu banyak duduk memiliki peluang untuk mati cepat, meskipun mereka suka berolahraga.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 26 September 2017  |  19:35 WIB
Awas, Terlalu Banyak Duduk Perpendek Umur!
Ilustrasi - Venusbuzz

Bisnis.com, JAKARTA - Jika Anda termasuk tipe pegawai yang kerap menghabiskan waktu seharian di meja kerja tanpa banyak beranjak, berhati-hatilah. Sebuah riset menunjukkan orang yang terlalu banyak duduk memiliki peluang untuk mati cepat, meskipun mereka suka berolahraga.

Sebaliknya, orang yang cenderung lebih aktif bergerak setiap setengah jam sekali memiliki peluang untuk lebih panjang umur ketimbang orang yang menghabiskan waktu lebih lama di atas kursi.

Peneliti Pusat Perilaku Kesehatan Kardiovaskular di Columbia University Medical Center New York, Keith Diaz, menjelaskan temuan tersebut mengindikasikan pentingnya bergerak dan hidup aktif setiap hari.

“Kita harus sering-sering bergerak dalam sehari, karena berolahraga saja tidak cukup,” tegasnya, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Riset yang dilakukan Diaz dan timnya ditujukan untuk membuktikan kaitan antara kematian dan gaya hidup tidak aktif. Salah satunya adalah dengan menghitung berapa banyak seseorang perlu bergerak setiap harinya untuk menurunkan risiko kematian dini.

Diaz menganalisis data dari 7.985 orang dewasa berusia 45 tahun ke atas. Mereka diminta untuk menggunakan alat accelerometer untuk menghitung tingkat aktivitas mereka selama sepekan penuh.

Secara umum, hasil dari riset tersebut menunjukkan gaya hidup tidak aktif (sedentary) mendominasi 77% kehidupan orang-orang dewasa tersebut. Lebih dari 12 jam per hari mereka menghabiskan waktu untuk berdiam diri atau hanya duduk di kursi kerja.

Selain itu, hasil riset tersebut menemukan fakta bahwa rata-rata waktu istirahat orang dewasa dalam sehari adalah 11 menit, dan lebih dari separuh waktu yang dihabiskan untuk duduk dan berdiri terjadi dalam waktu kurang dari setengah jam.

Bagaimanapun, sekitar 14% dari orang-orang yang dianalisis pada umumnya melakukan peregangan di sela-sela gaya hidup tidak aktif mereka selama kurang dari 90 menit. Selama proses analisis, terlihat bahwa 340 orang meninggal setelah 4 tahun.

Diaz dan timnya membagi partisipan ke dalam empat kelompok, mulai dari yang gaya hidupnya paling aktif atau menghabiskan 11 jam per hari untuk duduk, hingga yang paling tidak aktif atau hanya duduk selama lebih dari 13 jam per hari.

Mereka juga membagi partisipan ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan berapa lama setiap orang berdiam diri sebelum melakukan pergerakan di sela-sela gaya hidup tidak aktifnya. Hasilnya beragam antara 7,7 menit hingga 12,4 menit.

“Dibandingkan dengan kelompok orang yang sesekali melakukan peregangan, mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu duduk seharian terpantau berisiko dua kali lipat meninggal lebih awal selama rentang waktu studi kami,” kata Diaz.

Sayangnya, studi ini memiliki kelemahan yaitu alat accelerometer tidak dapat membedakan waktu tidak aktif saat duduk dan berdiri. Studi tersebut juga tidak didukung dengan pengalaman untuk membuktikan apakah ada kausalitas langsung antara gaya hidup tidak aktif dan kematian dini.

Kepala Penelitian Kardiovaskular dan Metabolisme di University Health Network-Toronto Rehabilitation Institute, David Alter, berpendapat gaya hidup tidak aktif bisa mempercepat kematian karena menyebabkan apa yang disebut di dunia medis sebagai ‘toksisitas metabolik’.

“Jika otot kita kurang beraktivitas, hal tersebut bisa memengaruhi kemampuan tubuh untuk mengolah gula dengan efisien. Lama kelamaan, tubuh akan mengakumulasi lemak ekses yang bisa berujung pada obesitas, diabetes, penyakit jantung, kanker, dan kematian.”

Alter menambahkan salah satu trik yang dapat membantu seseorang untuk tidak melupakan peregangan adalah dengan menggunakan stopwatch. Sebab, alat tersebut dapat membantu mengingatkan orang kapan harus berdiri dan bergerak untuk menghindari terlalu banyak duduk.

Meskipun saat ini sudah mulai banyak perusahaan yang memproduksi ‘bangku berdiri’ (standing desk) untuk membantu mengatasi masalah gaya hidup tidak aktif, hingga saat ini bangku berdiri masih belum terbukti dapat membantu seseorang hidup lebih sehat.

“Lebih baik menggunakan peralatan yang dapat membantu kita bergerak, seperti treadmill, sepeda statis, atau sekadar berjalan kaki. Itu adalah hal-hal yang mudah diimplementasikan bahkan di kantor,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top