Manfaat Terapi Mindfullness untuk Obati Kecanduan Alkohol

Mengubah kebiasaan buruk merupakan hal yang sulit. Apalagi jika kebiasaan tersebut telah menahun, dan menjadi sebuah rutinitas sehari-hari. Misalnya saja kebiasaan menenggak minuman beralkohol secara berlebihan.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 27 September 2017  |  09:08 WIB
Manfaat Terapi Mindfullness untuk Obati Kecanduan Alkohol
Depresi - cadasorg

Bisnis.com, JAKARTA - Mengubah kebiasaan buruk merupakan hal yang sulit. Apalagi jika kebiasaan tersebut telah menahun, dan menjadi sebuah rutinitas sehari-hari. Misalnya saja kebiasaan menenggak minuman beralkohol secara berlebihan.

Pecandu alkohol mungkin menyadari bahwa kebiasaan mereka mengganggu kesehatan, tetapi mereka tidak mampu lepas dari candu tersebut. Namun, belum lama ini sekelompok peneliti di Inggris menemukan sebuah terapi yang diprediksi ampuh mengobati para peminum.

Tim peneliti University College London memparkan sesi latihan singkat terapi mindfulness akan membantu para peminum kelas berat utuk lepas dari kebiasaan mereka. Terapi itu mengajak peserta untuk fokus pada hidup mereka saat ini.

Para ilmuwan tersebut menggandeng 68 peminum alkohol kelas berat, tetapi yang belum memasuki tahap abuser atau alkoholik. Mereka diminta memilih untuk berpartisipasi dalam sesi latihan strategi relaksasi atau sesi latihan teknik mindfulness selama 11 menit.

Selama proses latihan, mereka diajak untuk mengenali lebih dekat masalah kecanduan mereka. Pekan berikutnya, partisipan yang mengikuti sesi pelatihan mindfulness terpantau mengonsumsi alkohol jauh lebih sedikit dibandingkan pekan sebelum memulai terapi.

Sebaliknya, partisipan yang memilih sesi latihan strategi relaksasi terpantau tidak mengurangi jumlah minuman beralkohol yang mereka konsumsi dalam jumlah siginifikan, sebagaimana mitra mereka yang mengikuti kelas mindfulness.

Peneliti University College London, Damla Irez, menjelaskan studi tersebut masih bersifat uji coba dan belum melibatkan tes klinis. Riset tersebut juga tidak melibatkan tindakan medis untuk mengobati para pecandu alkohol.

“Namun, dari riset sederhana ini dapat dibuktikan bahwa orang yang mengonsumsi terlalu banyak alkohol, tetapi tidak menyalahgunakan konsumsi alkohol [disorder], berpeluang mengurangi konsumsi mereka dalam jangka pendek melalui terapi mindfulness,” tegasnya, dikutip dari Reuters.

Lalu, apa sebenarnya terapi mindfulness itu? Selama sesi terapi psikologis ini, peserta dimina untuk lebih fokus pada masalah kecanduan mereka, ketimbang dipaksa menekan hasrat mereka untuk mengonsumsi alkohol.

Mereka diminta untuk lebih peka pada gejala-gejala fisik yang dirasakan tubuh, untuk mengetahui sejauh mana mereka dapat menoleransi gejala-gejala tersebut tanpa membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Setelah mendapatkan satu sesi pelatihan mindfulness, para peserta diminta untuk terus mempraktikkan apa yang mereka pelajadi di kelas ke dalam kehidupan sehari-hari mereka selama satu pekan.

Terapi mindfulness berbeda dengan terapi relaksasi yang lebih menekankan pesertanya untuk meregangkan otot, membuat pikiran lebih santai, dan melepas ketegangan dalam tubuh untuk menekan hasrat atau rasa kecanduan.

Seusai mengikuti pelatihan, baik peserta yang mengikuti terapi mindfulness maupun relaksasi dilaporkan sama-sama mengalami penurunan hasrat mengonsumsi alkohol. Penurunan hasrat terutama terjadi pada peserta terapi relaksasi.

Meskipun demikian, peserta terapi mindfulness tercatat menurnkan angka konsumsi alkohol hingga 9,3 unit alkohol atau setara dengan 3 gelas bir dalam sepekan setelah mengikuti sesi terapi tersebut. Sebaliknya, peserta terapi relaksasi hanya menurunkan konsumsi sebanyak 3 unit alkohol.

Kelemahan dari riset terapi mindfulness untuk mengobati candu alkohol adalah waktunya yang terlalu singkat untuk menentukan seberapa permanen dampaknya terhadap penurunan kebiasaan mengonsumsi minuman keras.

William Marchand, profesor dari University of Ultah di Salt Lake City, berpendapat dibutuhkan jumlah sesi terapi yang lebih banyak untuk benar-benar mengubah kebiasaan seseorang.

“Bagaimanapun, langkah pertama untuk menangani masalah kecanduan adalah dengan fokus pada psikologis mereka. Sebab, manusia cenderung membentuk sebuah kebiasaan dan perilaku sebagai hasil dari kondisi dan situasi di sekitar mereka,” terangnya.

Itu berarti, seorang pecandu alkohol akan cenderung sulit lepas dari kebiasaannya jika dia dikelilingi oleh orang-orang atau tempat-tempat yang memudahkannya mengakses minuman beralkohol, misalnya saja bar.

Memesan satu atau dua putaran minuman bisa menjadi sebuah kebiasaan. Namun, dengan menyadari bahwa hal tersebut dapat memicu kecanduan, seseorang bisa belajar mengambil keputusan untuk merespons situasi tersebut.

“Inilah pentingnya terapi mindfulness dalam mengubah kebiasaan seseorang. Terapi ini dapat menghentikan perilaku atau kebiasaan menular dengan cara membuat kita lebih reflektif terhadap diri kita sendiri,” ujar William.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pencandu narkotika

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top