Ratusan Tenun NTT dan Sulawesi Dipamerkan di Museum Tekstil

Indonesia dikenal dengan kekayaan wastra nusantara yang sangat beragam. Oleh karena itu, mencintai dan menjaga warisan budaya ini telah menjadi kewajiban setiap orang.
Ramdha Mawaddha | 19 November 2017 00:07 WIB
Sekelompok penenun sedang menenun tenun ikat dalam Festival Tenun Ikat di kota Waikabubak, Sumba Barat NTT, Sabtu (8/7). Festival Tenun Ikat yang menampilkan 150 penenun tersebut dalam rangka memperkenalkan potensi tenun ikat di daerah itu sekaligus memeriahkan parade 1001 Kuda Sandelwood di Sumba Barat. ANTARA FOTO - Kornelis Kaha

Bisnis.com, JAKARTA-- Indonesia dikenal dengan kekayaan wastra nusantara yang sangat beragam. Oleh karena itu, mencintai dan menjaga warisan budaya ini telah menjadi kewajiban setiap orang.

Selain wastra batik, Indonesia juga dikenal dengan keanegaragaman kain tenunnya. Dari Sabang hingga Merauke, tiap-tiap wilayah memiliki ciri dan sejarah tenun masing-masing.

Dalam rangka turut melestarikan kain tenun, Yayasan Toraja Melo bersama para pegiat wastra nusantara menggelar pameran tenun bertajuk Sole Oha di Museum Tekstil, Jakarta, Sabtu (18/11/2017).

Secara resmi, pameran ini dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Tinia Budiati yang didampingi oleh Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon dan sejumlah organisasi yang ikut mendukung pameran ini.

Pameran yang akan berlangsung hingga Desember ini menghadirkan sekitaar 220 kain tenun dari empat wilayah, yaitu Toraja dan Mamasa dari Sulawesi serta Adonara dan Lembata dari Nusa Tenggara Timur. Pameran ini juga menghadirkan cerita para pengrajin tenun yang hadir di tengah-tengan pameran sembari membuat kain tenun.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Tinia Budiati mengatakan, pameran yang digelar ini tak sekadar memaerkan kain. Lebih dari itu, ada serangakain prosesi upacara adat yang juga dihadirkan dan jarang ditemui.

Sementara itu, Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon mengharapkan jika tenun juga bisa ke pasar internasional seperti batik. "Kalau batik bisa mendunia, kenapa tenun tidak bisa," uajarnya.

Selain itu, Antonius juga mengungkapkan bahwa tenun tak sekadar produk kebudayaan bagi masyarakat NTT, tetapi menjadi jalan keluar dari permasalahan ekonomi para perempuan di sana. Terutama bagi perempuan yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

"Tenun jalan keluar yang tepat bagi para perempuan di Flores Timur," ujarnya.

Foto: Jibi

Tag : tenun
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top