Pameran Gerakan Kesenian di Tepian Arus Dibuka Hari ini

Sanggar kesenian Yogyakarta, Sanggarbambu mengadakan pameran bertajuk Gerakan Kesenian di Tepian Arus di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta pada 30 November 2017 - 15 Desember 2017.
Ilman A. Sudarwan | 30 November 2017 13:19 WIB
Galeri RJ Katamsi - istimewa

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Sanggar Kesenian Yogyakarta, Sanggarbambu mengadakan pameran bertajuk Gerakan Kesenian di Tepian Arus di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta pada 30 November 2017 - 15 Desember 2017.

Pameran ini mengangkat semangat dari Sanggarbambu untuk menghadirkan karya seni yang menolak pasar yang kian rakus dan hanya menempatkan karya seni sebagai benda-benda tertentu saja. Penyelenggara pameran berharap bisa mengeksplorasi potensi berkesian setiap orang dengan cara mengolahnya dan menumbuhkan keragaman dalam berkarya.

Keragaman ini yang menjadi nilai penting dalam pameran ini. Bagiamana keragaman yang muncul dari kesenian bisa dihargai secara bersama-sama. Tema di Tepian Arus menggambarkan bagiamana semangat itu dipegang oleh Sanggarbambu sebagai gerakan kesenian yang mencoba menghampiri berbagai kalangan dan tanpa usaha tipu daya sama sekali dalam kegiatan berkesenian mereka.

Kegiatan ini akan memuat tiga rangkaian acara yaitu pameran, seminar, dan Workshop. Pameran akan dibuka pada 30 November pukul 19.00 WIB oleh Budayawan & mantan pemimpin umum Kantor Berita Antara Mohamad Sobary.

Sementara kegiatan seminar akan diselenggarakan pada 7 Desember 2017 pada pukul 09.00-12.00 WIB dengan menghadirkan beberapa pembicara yaitu Danarto, Totok Buchori dan Dr. Suwarno Wisetrotomo,M.Hum.

Selain itu akan ada pula workshop menong dan topeng kertas yang akan diselenggarakan 12 Desember 2017 pukul 09.00-12.00 WIB. Seluruh rangkaian acara akan diselengarakan di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta dengan kurator Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., Drs. Anusapati, M.F.A., dan Kumbo Adiguno.

Sanggarbambu sendiri adalah sebuah sanggar yang dideklarasikan pada 1959, dan tetap menyala apinya hingga kini. Sanggar ini memilih jalan di luar arus utama politik tahun 1950-1960-an dan pasca1960. Sanggarbambu menghadirkan diri sebagai ruang berekspresi kesenian yang tidak digantungi pesan-pesan politik.

Berkesenian mereka letakkan sebagai kebutuhan dasar berekspresi, merekam alam dengan segenap denyut kehidupannya, dan mengeluarkan berbagai detak nadi dan batin dalam melihat kehidupan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pameran

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top