Inilah Antisipasi dari Serangan Kanker Paru-Paru

Masyarakat di seluruh penjuru bumi pun kembali diingatkan untuk peduli terhadap kanker, penyakit yang telah merenggut nyawa begitu banyak manusia itu.
Wike Dita Herlinda | 10 Februari 2018 16:59 WIB
Ilustrasi kanker paru - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Belum lama ini, Hari Kanker Sedunia  diperingati pada 4 Februari. Masyarakat di seluruh penjuru bumi pun kembali diingatkan untuk peduli terhadap penyakit yang telah merenggut nyawa begitu banyak manusia itu.

Berbagai aktivitas dilakukan oleh organisasi-organisasi di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan tentang penyakit kanker. Salah satunya seperti yang dilakukan PT AstraZeneca Indonesia dalam program Health Lung untuk menggalang awareness soal kanker paru-paru.

Perusahaan farmasi dan biofarmasi Anglo-Swedish itu membuka akses untuk mendeteksi kanker paru-paru dan meningkatkan kapabilitas ahli pulmonologi dan patologi di Indonesia dengan menggandeng Kementerian Kesehatan, Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dan Cancer Information Support Center (CISC).

Direktur PT AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri, menjelaskan kanker paru-paru merupakan jenis penyakit kanker yang paling banyak menyebabkan kematian di seluruh dunia, tanpa terkecuali di Tanah Air.

Menurut studi Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC), terdapat 14,1 juta kasus baru kanker dengan jumlah kematian sebesar 8,2 juta. Riset itu turut mengungkap fakta bahwa kanker paru-paru adalah penyebab kematian utama pada penduduk pria (30%) dan wanita (11,1%).

“Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar [Riskesdas] 2013, menyebutkan prevalensi kanker untuk semua kelompok umur di Indonesia adalah 1,4 per mil atau 347.392 orang,” papar Rizman pada Kamis (8/2).

Dia berpendapat tingkat kesadaran masyarakat Indonesia tentang kanker paru-paru masih sangat rendah. Bahkan, beberapa dari pasien kanker paru-paru mengalami kesalahan diagnosis dimana mereka justru kerap divonis menderita TB.

“Jadi, banyak pasien dengan kanker paru-paru terlambat terdiagnosis terhadap penyakit mereka. Hal tersebut dapat berkontribusi untuk mendiagnosis stadium lanjut dan kelangsungan hidup jangka panjang yang tidak berkualitas,” lanjutnya.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan sebuah studi kasus di RS Moewardi, Surakarta. Di sana, 28,7% pasien kanker paru-paru mengalami kesalahan diagnosis dengan TB pulmonary dan memiliki sejarah pengobatan anti-TB.

Sejumlah 73,4% dari pasien tersebut telah menjalani pengobatan anti-TB selama lebih dari 1 bulan, tetapi hanya 2,5% yang terdiagnosis ganda menderita kanker paru-paru dengan TB pulmonary.

Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Niken Wasty Palupi, mengatakan hal-hal semacam itu harus segera diatasi agar tidak menjadi kebiasaan di dunia media.

“Melihat fenomena keterlambatan diagnosis pasien kanker paru-paru, diperlukan kesadaran masyarakat untuk menyadari gejala sejak dini dan berkonsultasi kepada tenaga medis untuk meningkatkan keberhasilan proses penyembuhan,” tuturnya.

Selain itu, kata Niken, langkah pengendalian penyakit kanker paru-paru di Indonesia memerlukan adanya sinergi atau kerja sama yang solid dan baik dari seluruh lapisan masyarakat. Sejauh ini, sebenarnya sudah ada beberapa inisiatif yang dilakukan pemerintah dan pihak swasta.

“Kami telah melakukan berbagai upaya guna menghambat hal tersebut seperti penyuluhan dan promosi kesehatan, serta melakukan sosialisasi gaya hidup sehat CERDIK, yaitu; Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet gizi seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress.”

LABORATORIUM DIAGNOSIS

Guna menindaklanjuti program pemerintah itu, sejak 2016 AstraZeneca bekerja sama dengan perusahaan diagnostik (Qiagen) unuk mengembangkan sejumlah laboratorium epidermal growth factor receptor (EGFR) di Indonesia. Pada 2017, perusahaan itu juga bermitra dengan perusahaan diagnostik Bio-Rad.

Kerja sama tersebut menghasilkan teknologi paling sensitif dalam mendeteksi mutasi T790M bagi Indonesia (Digitak PCSR). AstraZeneca juga menggandeng Prodia Lab untuk pemeriksaan, sehingga membantuk pasien untuk menjadi resisten terhadap pengobatan EGFR Tirosine Kinase Inhibitor (TKI) pertama dan kedua.

Direktur Medis AstraZeneca Indonesia, Andi Marsali, menjelaskan sejak 2014 perusahaannya telah mendukung penyediaan 2.000—3.000 tes diagnostik EFGR secara gratis, baik bagi pasien pribadi maupun pengguna BPJS setiap tahunnya.

“Mulai 2018, kami akan memanfaatkan dukungan bagi tes diagnostik untuk T790M dan menyediakan tes ct-DNA inovatif guna melengkapi tes biopsi. Kami juga bekerja sama dengan asosiasi medis untuk meningkatkan kapabilitas diagnosis bagi ahli patologi anatomi dan pulmonologi.”

Di sisi lain, perwakilan PDPI dan RSUP Persahabatan, Elisna Syahruddin, menambahkan saat ini perkembangan medis di Indonesia sedang dalam tahap personalized medicine alias terapi yang diberikan ke pasien harus sesuai dengan targetnya.

Terapi semacam itu membutuhkan biomaker untuk menentukan pasien yang tepat bagi terapi tersebut. Biomaker EGFR digunakan untuk mengidentifikasi pasien kanker paru-paru, khususnya jenis adenokarsinoma bukan sel kecil, dimana kejadian di Asia mencapai 40%--60% dari populasi.

Elisna berpendapat meskipun kanker paru-paru merupakan salah satu momok di Indonesia, pasien dengan penyakit tersebut masih memiliki peluang pengobatan yang tepat guna meningkatkan kualitas hidup mereka.

“Penatalaksanaan kanker paru-paru harus disesuaikan dengan stadium kanker atau kondisi pasien, seperti operasi bedah, radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, dan terapi yang ditargetkan atau targeted therapy,” ujarnya.

Lebih lanjut, pasien kanker paru-paru yang sudah menjalani terapi lini pertama dengan EGFR TKI generasi 1 dan 2 biasanya akan mengalami pemburukan pada 8—10 bulan. Sebanyak 2 dari 3 pasien yang mengalami pemburukan kondisi akan mendapatkan mutasi sekunder, yaitu T790M6.

Di Indonesia, dulunya terapi untuk kanker paru-paru dengan mutasi T790M itu tidak ada. Namun, saat ini terapi untuk mutasi T790M, yakni dengan generasi ketiga EGFR TKI, telah disetujui BPOM. Sehingga, pengobatan tersebut dapat menjadi harapan baru bagi para pasien.

Sementara itu, Ketua Umum CISC, Aryanti Baramuli, menambahkan salah satu hal yang paling dibutuhkan pasien kanker adalah dukungan dari lingkungan sekitarnya. Sebab, hal itu sangat mempengaruhi tingkat motivasi penderita kanker dalam melakukan proses pemulihan.

“Menurut kami, upaya bersama oleh seluruh pihak sangat dibutuhkan menuju penanggulangan kanker yang efektif dalam membantu pasien kanker paru-paru di Indonesia dalam meningkatkan harapan dan semangat untuk terus menjalani hidup melawan kanker.”

Tag : kanker paru-paru
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top