Rahasia agar Puasa Tak Bikin Maag Kambuh

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa pembatasan asupan makanan, keteraturan dan pengendalian diri adalah sesuatu yang seharusnya konsisten kita laksanakan baik pada saat berpuasa dan setelah berpuasa.
Yoseph Pencawan | 27 Mei 2018 15:24 WIB
Lambung dan gangguan maag - stomachpicture.com

Puasa berdampak positif terhadap kesehatan karena dalam menjalankannya ada pembatasan asupan makanan, keteraturan dan pengendalian diri, bahkan bagi orang dengan gangguan maag (dispepsia) sekalipun.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa pembatasan asupan makanan, keteraturan dan pengendalian diri adalah sesuatu yang seharusnya konsisten kita laksanakan baik pada saat berpuasa dan setelah berpuasa.

Puasa membuat seseorang mengurangi frekuensi makan sehingga akan terjadi pembatasan asupan makan dan pembatasan kalori (restriksi kalori). Pembatasan ini akan membuat tubuh melakukan penghancuran lemak serta menekan radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh.

Sejalan dengan pembatasan makan, berat badan dan kolesterol juga akan turun, begitupun kadar gula darah akan lebih terkontrol. Selain itu, dengan berpuasa sepanjang hari juga akan membuat kita mengurangi konsumsi camilan tidak sehat.

“Karena itu, puasa akan membuat orang yang sehat menjadi tambah sehat dan orang dengan berpenyakit kronis, seperti hipertensi, kencing manis, kegemukan dan kolesterol tinggi, akan menjadi lebih baik dan terkontrol,” kata Ari.

Kendati demikian, lanjut dia, kondisi tersebut akan sangat sulit tercapai bila ketika berbuka kita mengonsumsi minuman dan makanan secara berlebihan.

Adapun bagi penderita maag, tak perlu khawatir untuk ikut berpuasa karena justru berfaedah. Secara umum, maag yang diderita mayoritas orang adalah maag fungsional, yaitu yang jika dilakukan evaluasi maka tidak ditemukan adanya kelainan.

“Bagi pasien dengan maag fungsional biasanya dengan berpuasa, keluhan sakit maagnya berkurang dan merasa lebih sehat pada saat berpuasa,” katanya.

Hal ini, jelasnya, terjadi karena keluhan sakit maag timbul akibat ketidakteraturan makan serta konsumsi makanan camilan, seperti makanan yang berlemak serta berasa asam dan pedas, sepanjang hari. Begitu juga mengonsumsi minuman bersoda, minum kopi, merokok dan juga faktor-faktor lain, seperti stres.

Nah, selama berpuasa pola makan lebih teratur karena hanya dua kali dengan waktu yang lebih kurang sama setiap hari. “Keteraturan inilah yang bisa membuat pasien dengan sakit maag tersebut bisa sembuh,” sambung Dekan FK UI.

Memang tidak semua penderita maag bisa berpuasa, yakni mereka yang mengalami dispepsia organik. Dispepsia organik terjadi karena adanya sesuatu yang tidak normal di dalam lambung, seperti tukak lambung, tukak usus duabelas jari, GERD (Gastroesophageal reflux disease), polip atau kanker di kerongkongan, usus duabelas jari dan lambung.

Pasien dengan sakit maag organik yang sedang mengalami perdarahan lambung dengan gejala muntah darah atau buang air besar hitam, muntah berulang dan setiap makan muntah tidak diperbolehkan puasa. Bahkan mereka harus dirawat di rumah sakit untuk mengatasi gangguan sakit maag tersebut. Pasien dengan kanker saluran cerna juga tidak dianjurkan untuk berpuasa.

Untuk menghindari rasa tidak nyaman yang berlebihan tersebut mereka dianjurkan untuk mengonsumsi obat penekan asam lambung seperti antagonis reseptor H2 (ranitidine, famotidine, simetidine, nizatidine) atau penghambat pompa proton (omeprazole,lansoprazole, rabeprazole, esomeprazole, pantoprazole).

Adapun obat-obatan yang beredar di pasaran, seperti antasida, bukan obat yang mencegah agar tidak terkena sakit maag. Obat antasida hanya berfungsi menghilangkan gejala selama 6-8 jam sehingga penggunaannya tidak bersifat umum.

 

Tag : Puasa, sakit
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top