Mengalami Post Holiday Blues Sehabis Libur Panjang? Ini Trik Mengatasinya

Rehat bekerja atau cuti sebenarnya merupakan mekanisme refreshing alias penyegaran dari rutinitas sehari-hari. Back to work seharusnya memberikan suntikan semangat baru untuk kembali berkarya di tempat kerja.
Dika Irawan/Eva Rianti/Doni Tolok | 01 Juli 2018 14:20 WIB
langkah kaki akan terasa lebih berat untuk ke kantor ketika melewati masa libur panjang. Namun, ada beberapa tips yang bisa membuat kamu tetap bersemangat walaupun habis cuti panjang

Bisnis.com, JAKARTA – Rehat bekerja atau cuti sebenarnya merupakan mekanisme refreshing alias penyegaran dari rutinitas sehari-hari. Back to work seharusnya memberikan suntikan semangat baru untuk kembali berkarya di tempat kerja.

Akan tetapi, kembali ke rutinitas bekerja kerap menimbulkan masalah tersendiri setelah melewati masa liburan yang panjang.

Fenomena psikologis pascar liburan panjang diangkat menjadi headline Bisnis Indonesia Weekend edisi cetak Minggu (1/7/2018). Berikut laporan lengkapnya.

Semangat bekerja seolah menjadi turun atau tidak sekuat sebelum liburan. Di dunia psikologi, fenomena itu disebut dengan post holiday blues, di mana setelah liburan motivasi bekerja menjadi agak menurun dan terkesan kurang bersemangat

Meninggalkan pekerjaan untuk menyambut libur, baik hari raya maupun cuti harus memiliki persiapan yang matang. Jangan sampai liburan yang seharusnya menjadi momen untuk menyegarkan diri, justru malah membawa beban pikiran.

Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Santoso menegaskan perlunya menciptakan budaya yang baik sebelum libur, seperti mengetahui skala prioritas pekerjaan, yaitu pekerjaan yang bisa dikerjakan sendiri, dan didelegasikan.

“Ketika liburan telah usai maka kita harus siap kembali bekerja,” ungkapnya.

Jika motivasi bekerja menurun, Santoso selalu melihat kembali moto hidupnya, yakni “hidup ini untuk berkarya dan memberikan warna untuk dunia dan akhirat”.

Bagi direktur yang bertanggung jawab pada pengembangan bisnis dan pemasaran transaksi perbankan, pengembangan solusi kerja sama transaksi perbankan, pengembangan produk transaksi perbankan, serta layanan dan pendukung bisnis transaksi perbankan, moto tersebut selalu mengembalikan mood-nya dalam bekerja.

Dia menjelaskan, pada saat menikmati liburan bersama keluarga harus benar-benar dinikmati. Liburan itu membutuhkan waktu dan biaya yang merupakan salah satu kenikmatan dan hasil kerja keras. Santoso pun mensyukuri nikmat tersebut sehingga saat kembali kerja mutlak untuk kembali berkarya. “Moto tersebut menjadi motivasi yang terus saya tanamkan setiap hari.” Menurutnya, sebelum bekerja selalu merencanakan apa yang harus dikerjakan dalam jangka panjang, menengah, dan pendek.

Rencana harian juga harus disiapkan dengan baik. Selanjutnya, dia melakukan refl eksi atas pencapaian serta adjustment terhadap perencanaan karena perubahan dan lainnya setiap bulan. Dia menyadari bahwa dalam bekerja tidak selalu menemukan keberhasilan.

Ada kalanya terjadi kegagalan atau terjadi sesuatu yang tidak seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, sambungnya, diperlukan refl eksi diri, pengendalian diri, dan perencanaan yang matang serta agile atau fl eksibel agar tidak putus asa ketika gagal.

“Ora et labora atau berdoa dan bekerja harus dijalankan karena manusia berencana tetapi dalam realita ada bagian yang tidak berada dalam kendali, dan berserah kepada yang Maha Kuasa.”

Koko Rachmadi, Kepala Divisi Unit Usaha Syariah Bank OCBC NISP, mengatakan bahwa liburan menjadi momentumnya untuk mengisi ulang semangat dalam bekerja. Menurutnya, cuti itu mendorong karyawan untuk refreshing di luar.

“Jadi ketika masuk kantor, kita harus paham cuti bersama atau sendiri itu adalah bagian recharging diri,” tegasnya.

Guna mendongkrak semangat, sambungnya, selama liburan mutlak fokus untuk diri sendiri dan keluarga sehingga benar-benar refresh. Tidak boleh ada pikiran atau mengerjakan urusan kantor. Dengan demikian, saat masuk kantor akan menemukan semangat kembali.

“Saya langsung kerja karena sudah tuntutan dari kantor. Tidak boleh menunda-nunda. Dengan liburan yang cukup, saya semangat ketika di kantor. Saat liburan harus dimanfaatkan betul untuk refreshing,” ujarnya.

Menurut Koko, untuk mencapai kehidupan atau pekerjaan yang berprestasi diperlukan olah raga yang rutin. Dia berusaha olah raga secara rutin, yakni 1 jam per hari dan dilakukan 4-5 hari dalam sepekan. Olah raga yang dilakukan sederhana, yakni berjalan kaki atau senam, serta terkadang diselingi dengan meditasi.

Andi Kurniawan, CEO Indonesian Sports Medicine Centre, mengatakan bahwa sebelum memulai segala aktivitas harian, Anda harus menyadari dan menerima bahwa liburan telah usai.

Di samping itu, lanjutnya, memeriksa kondisi tubuh perlu dilakukan karena membutuhkan penyesuaian setelah ‘bebas’ selama liburan.

“Setelah Anda mempersiapkan mental untuk kembali bekerja, barulah mulai mempersiapkan tubuh supaya tetap bugar dalam melakukan segala aktivitas harian. Anda dapat mulai berolah raga ringan untuk menstimulus tubuh tetapi dengan durasi yang singkat dan rutin.”

Dia menambahkan, beberapa jenis fi tness seperti latihan beban, boleh dilakukan tetapi dengan beban yang ringan. Bila terbiasa olah raga kardio seperti lari dan bersepeda, dapat dilakukan dengan durasi yang pendek terlebih dahulu.

Hanya saja, kata Andi, setelah liburan tidak disarankan untuk langsung memaksa diri karena tubuh belum siap. Bagi para pemudik, imbuhnya, tubuh juga perlu beristirahat sejenak setelah melalukan perjalanan jauh.

ASPEK PSIKOLOGI

Menurut Psikolog Klinis Dewasa Inez Kristanti, meningkatkan motivasi bekerja setelah liburan bisa diatasi dengan mengelola ekspektasi dan mencermati gejala post holiday blues.

“Sebenarnya dari segi psikologi tidak ada istilah resminya dari fenomena tersebut. Biasanya orang menyebutnya dengan istilah post holiday blues, di mana setelah liburan motivasi bekerja menjadi agak menurun dan terkesan kurang bersemangat,” tegasnya.

Di samping itu, sambungnya, dikenal juga contrast effect. Rutinitas yang dijalani sehari-hari itu tidak buruk.

Hanya saja karena dibandingkan dengan momen liburan yang menyenangkan dan masa santai, menjadi terkesan kurang menyenangkan. Jadi orang yang baru kembali bekerja merasa mengalami pengalaman yang drastis berbeda. Ini sebenarnya bukan karena pekerjaan menjadi buruk setelah Lebaran. Sebaliknya, itu karena pikiran saja yang membuat merasa seperti itu. “Efek dari pikiran yang mengalami pengalaman yang kontras ini yang disebut contrast effect.”

Menurutnya, ada dua kunci untuk meningkatkan semangat bekerja setelah liburan. Biasanya setelah liburan, pekerjaan menumpuk sehingga ketika balik dari liburan ada keinginan untuk mengerjakan kerjaan itu sampai selesai dalam waktu yang cepat.

Dengan demikian, pekerja memberikan ekspektasi yang tinggi atau memaksa diri pada sesuatu yang tidak sesuai dengan kapasitas atau yang tidak seharusnya.

“Beri dulu waktu bagi otak kita untuk adaptasi. Lama-lama kita akan merasa di level yang sebelumnya. Jangan sampai membuat ekspektasi di hari pertama. Intinya yang perlu dihindari adalah overwork.” Psikolog Rose Mini Agoes Salim menegaskan bahwa memompa semangat kerja usai libur panjang dari sudut pandang psikologis dapat dilakukan dengan menumbuhkan motivasi. Tanpa motivasi sulit bagi seseorang untuk semangat bekerja. Motivasi seperti melihat pekerjaan sebagai peluang untuk mengembangkan diri merupakan cara untuk membangun semangat. Selain itu jangan terlalu terlena oleh liburan. “Sebaiknya segera move on dari liburan dan kembali ke hidup normal. Bila tidak diatasi, maka hal itu dapat menyumbat semangat dalam bekerja.” (Bambang Supriyanto)

Tag : Mudik Lebaran 2018
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top