Stres Munculkan Berbagai Penyakit, Autoimun Salah Satunya

Pekerjaan, ambisi, dan berbagai pilihan berat dalam hidup memang menjadi penyebab utama munculnya rasa cemas, dan cenderung tidak produktif.
Asteria Desi Kartika Sari | 03 Juli 2018 13:06 WIB
Ilustrasi - Indiatimes

Bisnis.com, JAKARTA - Pekerjaan, ambisi, dan berbagai pilihan berat dalam hidup memang menjadi penyebab utama munculnya rasa cemas, dan cenderung tidak produktif.

Stres bisa dan harus dihindari, karena beban pikiran terlalu berat dapat mempengaruhi kesehatan mental, dan kesehatan tubuh. Menurut penelitian dari Harvard University, kecemasan dan stres berkaitan dengan berbagai risiko penyakit seperti jantung, migran, gangguan pernapasan kronis.

Kondisi buruk lainnya, berdasarkan hasil penelitian baru menyebut stres dapat meningkatkan kemungkinan penyakit otoimun, kondisi kekebalan badan mengalami gangguan dan menyaring jaringan tubuh itu sendiri.

Sebuah studi di Swedia menemukan orang-orang yang menderita posttraumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma dan masalah kejiwaan terkait stres bisa meningkatkan penyakit otoimun.

Melalui studi itu, peneliti mempelajari 106.464 orang yang didiagnosis dengan gangguan stres, sebanyak 126.652 saudara kandung mereka tanpa gangguan stres, dan lebih dari 1 juta orang lainnya dalam populasi Swedia yang tidak memiliki gangguan stres.

Mereka dapat melacak setengah dari orang-orang ini setidaknya selama 10 tahun. Selama penelitian, individu dengan PTSD, 46% lebih berpotensi mengalami peningkatan gangguan otoimun, dan lebih dari dua kali kemungkinan meningkatnya tiga gangguan otoimun, dibandingkan dengan orang tanpa gangguan stres.

"Stres emosional yang parah atau berkepanjangan menyebabkan perubahan dalam beberapa fungsi tubuh melalui disregulasi dalam pelepasan hormon stres," kata peneliti utama Huan Song dari Universitas Islandia di Reykjavík dan Institut Karolinska di Stockholm, Swedia seperti dikutip Reuters.

Obat Antidepresi

Dia mengatakan ketika pasien PTSD mengambil obat antidepresi yang biasa dikenal sebagai selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) selama tahun pertama setelah didiagnosis, bagaimanapun risiko meningkatnya gangguan imun tampak menurun.

"Pesan utama kepada pasien yang menderita reaksi emosional yang parah setelah trauma atau stres hidup lainnya adalah mencari pengobatan, Sekarang ada beberapa perawatan, baik obat dan pendekatan perilaku kognitif, dengan efektivitas yang terdokumentasi,"jelasnya.

Peneliti mencatat, kebanyakan orang mengalami trauma atau stres yang signifikan di beberapa titik dalam hidup mereka, termasuk kehilangan orang yang dicintai dan paparan berbagai bencana atau kekerasan. Sementara itu, banyak juga  orang pulih secara bertahap, namun beberapa orang memiliki penyakit kejiwaan yang parah dan permanen.

Masalah kekebalan sering dapat terjadi dalam keluarga. Peneliti hingga saat ini belum dapat memberi gambaran yang jelas tentang berapa banyak orangtua atau lingkungan hidup bersama yang bisa menjelaskan hubungan antara stres dan gangguan otoimun.

Gangguan

Ketika orang mengalami gangguan otoimun, sistem kekebalan tubuh menyerang sel yang sehat. Gangguan otoimun yang umum termasuk rheumatoid arthritis, lupus, kolitis ulserativa dan penyakit Crohn, celiac, multiple sclerosis, dan diabetes tipe 1.

Peneliti menilai sekitar 9 dari setiap 1.000 orang yang didiagnosis dengan gangguan stres dalam studi tersebut mengalami gangguan autoimun setiap tahun. Itu sebanding dengan sekitar 6 dari 1.000 orang dalam populasi tanpa gangguan stres, dan 6,5 dari 1.000 saudara kandung.

"Agak mengherankan bahwa tidak ada perbedaan besar antara saudara kandung dan populasi umum. Orang mengharapkan lebih banyak latar belakang karena genetik," kata Ludvigsson Johnny Ludvigsson, peneliti di Universitas Linkoping di Swedia.

Menurutnya, hubungan antara stres dan gangguan otoimun lebih kuat untuk masalah endokrin seperti diabetes dan lebih lemah untuk kondisi kulit dan darah.

Kepala Penelitian Pusat Kesehatan Mental Kopenhagen Denmark Michael Eriksen Benros menuturkan hasil penelitian tersebut menawarkan bukti baru dari cara-cara rumit otak dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, dan sebaliknya.

"Jelas ada interaksi dua arah antara sistem kekebalan dan otak. Stres psikologis jangka panjang dapat mempengaruhi beberapa sistem tubuh termasuk tingkat hormon stres dan sistem saraf otonom yang mengakibatkan gangguan fungsi kekebalan tubuh," tambah Benros.

Tag : stres
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top