Apa Itu Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)?

Tahukah Anda Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau yang lebih akrab di sebut dengan Gangguan Stress Pasca Trauma merupakan penyakit mental yang mampu mempengaruhi banyak orang?
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 06 Juli 2018  |  08:26 WIB
Apa Itu Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)?
Ilustrasi PTSD.

Bisnis.com, JAKARTA -- Tahukah Anda Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau yang lebih akrab di sebut dengan Gangguan Stress Pasca Trauma merupakan penyakit mental yang mampu mempengaruhi banyak orang?

Dilansir dari Boldsky.com, Kamis (5/7/2018), data statistik WHO menunjukkan 300 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan depresi dan 260 juta orang menderita gangguan kecemasan. Gangguan stres pasca trauma adalah kondisi mental berkembang setelah si penderitanya mengalami kejadian traumatis.

Kejadian traumatis yang dimaksud sangat banyak, bisa trauma karena kecelakaan, kehilangan sesuatu yang berharga, pelecehan seksual, perang dan sebagainya.

Meskipun ada banyak orang yang pulih dari gejala PTSD secara singkat, beberapa orang yang mengalami gejala PTSD tidak dapat mengatasinya selama berbulan-bulan atau bahkan lebih lama.

Penderita PTSD yang sulit mengobati traumanya secara tidak sadar mengembangkan ketakutan irasional dan akan merasa terancam dalam kondisi normal. Jelas hal tersebut sangat membutuhkan bantuan dari profesional.

Ada empat ciri orang yang terkena efek PTSD. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang baru mengalami kejadian traumatis langsung terlihat terkena gejala PTSD, banyak dari penderitanya baru terlihat satu bulan kemudian atau lebih.

Berikut adalah ciri-ciri orang yang terkena PTSD:

1. Selalu merasa dihantui gejala tersebut

Penderitanya akan selalu teringat kembali momen traumatis yang pernah menimpa dirinya, melalui kilas balik, mimpi buruk, pikiran menakutkan, dan sebagainya. Jelas, hal tersebut akan menghambat aktivitas rutin mereka. Pemicunya bisa dari pikiran mereka sendiri atau benda-benda yang ada di sekitarnya mengingatkannya kembali pada kejadian tersebut.

2. Gejala penghindaran

Penderitanya akan mencoba sebaik mungkin untuk mengisolasi diri mereka dari peristiwa, benda, tempat atau bahkan perasaan juga pikiran yang mengingatkan mereka tentang kejadian traumatis yang mereka alami. Gejala-gejala ini juga secara signifikan mengganggu aktivitas di dalam kehidupan mereka sehari-hari dan bisa sangat sulit untuk diatasi.

3. Reaktivitas atau gejala gairah

Dalam kondisi ini, orang yang mengekspresikan kelelahan, ketegangan atau kecemasan yang tidak terkendali, tidak dapat tidur dengan baik, memiliki frekuensi perubahan suasana hati dan ledakan suasana hati yang tidak normal atau selalu khawatir tentang peristiwa berbahaya yang terjadi (hiper-rangsangan). Sebagai akibatnya, mereka mungkin menggunakan narkoba dan kegiatan tidak sehat untuk mengatasi gejala PTSD ini.

4. Gejala kognitif

Gejala ini juga termasuk kesulitan dalam mengingat atau berkonsentrasi, kehilangan minat dalam kegiatan yang pernah mereka nikmati, menyalahkan diri sendiri atau merasa bersalah, merasa tidak bahagia dan hampa, bersikap skeptis terhadap niat orang lain, dan berpikir negatif secara umum hampir pada semua hal. Gejala-gejala ini dapat dengan cepat memburuk dan membuat si penderita menarik diri atau mengasingkan diri dari keluarga, teman, dan sebagainya.

Hasil paling umum dari pengembangan gejala-gejala tersebut adalah depresi, kecemasan, keputusasaan, kecanduan narkoba dan gejala-gejala fisik lainnya seperti rasa sakit, kehidupan pribadi dan hubungan pribadi, dan lain-lain.

Bagaimana cara mengatasi atau mengobatinya? PTSD tidak cukup diobati dengan mendatangi seorang dokter dan segera mengobatinya.

Anda harus berbicara dan datang kepada seorang terapis yang berkualifikasi untuk melakukan psikoterapi. Psikoterapi merupakan solusi pertama untuk mengobati gelaja PTSD.

Ada juga obat-obatan yang tersedia untuk penyakit mental ini. Tetapi, beberapa obat memiliki sifat adiktif sehingga Anda harus mendapatkan obat-obatan ini sesuai dengan yang ditentukan oleh psikoterapis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan jiwa

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top