Bekerja di Kota Lebih Menarik, Regenerasi Perajin Batik & Tenun Mengkhawatirkan

Desainer Merdi Sihombing mengkhawatirkan regenerasi perajin batik di Tanah Air masih jauh dari optimal.
Asteria Desi Kartika Sari | 24 Juli 2018 20:38 WIB
Penenun menyelesaikan tenun sarung adat khas Suku Muna di Desa Tongkuno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Kamis (6/4). - Antara/Jojon

Bisnis.com, JAKARTA -- Desainer Merdi Sihombing mengkhawatirkan regenerasi perajin batik di Tanah Air masih jauh dari optimal.

Dia mengklaim bahwa lebih banyak yang memilih untuk bekerja di kota-kota besar daripada menjadi perajin batik ataupun tenun. Pasalnya, mayoritas masih beranggapan upah dari bekerja sebagai penenun ataupun perajin batik kurang mencukupi.

“Menurut saya masih mengkhawatirkankan. Makanya kami memulai dari anak kami sendiri dan lingkungan kami sendiri,” kata Merdi kepada Bisnis, dikutip Selasa (24/7/2018).

Dia mengatakan program inkubator memang dibutuhkan untuk memberikan edukasi para perajin supaya pengelolaan kain tradisional tersebut dapat berkelanjutan. Dia mengakui pemerintah memang telah membantu dalam memberikan inkubator, namun menurutnya hal tersebut belum maksimal.

“Banyak yang belum tepat sasaran dan belum ada standar inkubasi yang tepat dan konsep yang tidak holistik,” katanya.

Belum lagi, katanya, euforia budaya melalui kain-kain tradisional masih sekadar di permukaan karena penggarapan kain-kain masih belum total, bahkan belum mencapai yang maksimal karena industrinya belum tertata.

POTONG JARINGAN

Lebih lanjut, industri lokal dinilai membutuhkan pasokan bahan baku seperti benang dalam jumlah dan mutu yang memadai. Presiden Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Poppy Dharsono mengatakan material benang yang masih begitu mahal karena disuplai oleh kelompok tertentu.

Oleh karena itu, Poppy berharap pemerintah paling tidak dapat membantu menyiapkan jalur distribusi yang benar sehingga tidak hanya bergantung dengan satu kelompok.

“Pemerintah harus memotong jaringan mereka yang sering memainkan harga benang dan penyediaan yang sering tidak konsisten pengadaannya,” jelas Poppy.

Selain itu, pemerintah, perancang busana, masayarakat, dan juga para pembatik dan penenun harus memiliki kesadaran bahwa batik tetap harus dilestarikan serta dapat memberikan sumber kehidupan bagi perajin. Dia mengatakan para desainer sebenarnya sudah banyak yang mencoba untuk terus mengangkat kebudayaan dengan bekerjasama dengan beberapa perajin lokal.

Tag : batik, perajin
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top