'Baby Smoker' Asal Sukabumi Sempat Viral, Begini Kisah Sebenarnya

Baby Smoker Asal Sukabumi Sempat Viral, Begini Kisah Sebenarnya
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 21 Agustus 2018  |  15:05 WIB
'Baby Smoker' Asal Sukabumi Sempat Viral, Begini Kisah Sebenarnya
Perokok pasif bisa mempengaruhi anak-anak menjadi perokok aktif. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Rapi Ananda Pamungkas, batita perokok berusia 2 tahun asal Sukabumi sontak terkenal dan didatangi berbagai pihak. Media nasional hingga internasional banyak memberitakan kasusnya sebagai salah satu baby smoker. Lantaran viral, kini dia akhirnya tidak lagi terjerat candu rokok.

Ketua No Tobacco Community Bambang Priyono berkesempatan menelurusi jejak Rapi Ananda hingga ke kediamannya di Cibadak, Sukabumi.  

“Awal mula anak ini memungut putung-putung rokok yang ada di halaman rumahnya. Dari situlah dia mulai kecanduan,” ujarnya dalam konferensi pers “Baby Smoker” di Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Lebih jauh, Bambang menemukan bahwa kondisi Rapi dipicu oleh ayahnya yang seorang perokok dan ibunya memiliki warung yang menjual rokok. Banyak orang-orang sekitarnya yang merokok dan membuang putung rokok di dekat rumahnya. Puntung-puntung rokok itulah yang selalu dihisapnya.

Di samping itu, Rapi juga terbilang anak yang “cerdas”. Dia amat sadar dengan iklan rokok walaupun iklannya tidak menampilkan produk rokok.

Jika melihat produk rokok, Rapi langsung minta dibelikan rokok dan tidak akan berhenti memaksa orang tuanya dengan segala cara alias tantrum (ngambek) hingga keinginannya dapat terpenuhi. Orangtuanya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menurutinya. 

“Terkait jumlah rokok yang dihisap Rapi sebenarnya bukan 40 batang seperti yang diberitakan. Yang benar ketika saya tanya ke orang tuanya ternyata 5 batang. Tapi ayahnya bilang, jika dituruti bisa saja Rapi menghabiskan sebanyak 40 batang rokok,” jelas Bambang.

Setelah Rapi viral, sang ayah, Misbabhudin (36 tahun) bertobat dari merokok. Dia berhenti merokok dan meminta orang-orang yang merokok di dekat rumahnya untuk menjauh dari kediamannya.   

Ketika Bambang mengunjungi kediaman Rapi sekitar tiga hari, diakuinya bahwa anak tersebut tidak lagi merokok. Apalagi, dia telah diberi stimulus berupa mainan sehingga membuatnya beralih dari rokok. Sebelumnya, Rapi dikabarkan memang tidak memiliki mainan sama sekali.

Melihat kasus tersebut, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mengungkapkan bahwa pola pengasuhan orangtua dan model lingkungan jadi poin pentingnya.

“Pasti ada stimulus yang membuat Rapi sampai memasukkan rokok ke dalam mulutnya,” ujarnya.

“Kreativitas orangtua dalam memberikan mainan sangat penting sehingga sang anak bisa tidak ingat lagi sama rokok,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perokok

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top