Perawatan Paliatif Tumbuhkan Harapan Penderita Kanker

Dia lantas menceritakan pengalaman pasien yang mampu bertahan hidup hingga 7 tahun meski telah divonis dokter masa hidupnya hanya tinggal 3 sampai 6 bulan.
Dewi Andriani | 08 September 2018 13:20 WIB
Sel kanker - Istimewa

Suasana haru seketika menyelimuti ruang pertemuan di salah satu hotel berbintang saat seorang pejuang kanker menceritakan kekhawatiran terhadap penyakit yang dideritanya. Wanita paruh baya tersebut divonis terkena kanker stadium lanjut. Dokter memperkirakan masa hidupnya hanya tinggal beberapa waktu.

Mendengar curahan tersebut Maria Witjaksono, dokter spesialis perawatan paliatif yang semula duduk di atas panggung sebagai pembicara, langsung turun dan menghampirinya. Dengan lembut diusapnya punggung wanita tersebut.

Dia lantas menceritakan pengalaman pasien yang mampu bertahan hidup hingga 7 tahun meski telah divonis dokter masa hidupnya hanya tinggal 3 sampai 6 bulan. Sebaliknya, ada pula pasien dengan kanker stadium dini yang kehidupannya penuh dengan perasaaan takut, stress, dan khawatir, justru memiliki masa hidup yang relatif singkat karena penyakitnya semakin ganas.

“Yakinlah kalau kita semua bisa sembuh. Karena ternyata arti sembuh bagi seorang dokter dan pasien itu berbeda. Ada pasien yang mengatakan dirinya sembuh jika bisa bertemu dengan teman-temannya, bisa pergi pengajian, ikut arisan, dan reuni.

Kalau bicara tentang kematian, kita tidak ada yang tahu, itu semua kuasa Yang Di Atas. Jadi bukan pendek atau panjang sisa hidup, tapi bagaimana kita mengisi kehidupan kita dengan lebih berkualitas setiap hari,” tuturnya lembut dalam talkshow untuk para Penyintas (survivors) yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia Pusat dan ROICAM.

Untuk menjaga kualitas hidup, pasien harus dapat terus merasa bahagia dan menerima segala kondisinya dengan ikhlas. “Apakah ibu merasa sembuh, sehat, dan bahagia?” ujarnya sambil memberi sugesti. “Ya, saya merasa sehat dan bahagia,” balasnya yang disambut tepuk tangan dari para peserta lain yang hadir memberi semangat.

Cek Mitos atau Bukan Soal Perawatan Kulit Bayi Di Sini

Ya, seorang pasien yang sudah berada dalam stadium lanjut dan sulit disembuhkan dengan pengobatan kuratif, dapat menjalani perawatan paliatif dengan fokus pada pengurangan stress, mengontrol rasa sakit, serta membuat perasaan lebih nyaman. Tujuannya bukan untuk memberi kesembuhan karena biasanya pasien sudah berada dalam stadium akhir tetapi untuk membuatnya hidup lebih nyaman sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik sebagai kebutuhan manusia dan hak asasi

Memang belum banyak yang mengenal perawatan paliatif tapi secara tidak sadar perawatan ini mungkin sudah dilakukan oleh sejumlah masyarakat. Paliatif berasal dari kata palliate yang berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab, sehingga dapat dikatakan bahwa upaya paliatif merupakan suatu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan.

 “Perawatan ini penting karena pada dasarnya tidak ada seorang pasien yang diizinkan menderita. Perawatan paliatif dapat mempertahankan kualitas hidup pasien, bahkan mungkin bisa memperpanjang usianya,” tutur Maria.

Adityawati Ginggaswari dari Yayasan Kanker Indonesia mengatakan perawatan paliatif yang disebut hospice care dapat menjadi pilihan bagi para pasien stadium akhir dengan memberikan pasien pelayanan fisik, psikologis sosial dan spiritual.

Persona Dian Pelangi dalam Gaya Retro

“Peran serta dan dukungan keluarga serta kerabat menjadi kunci penting keberhasilan. Buatlah suasana senyaman mungkin yang disenangi pasien demi memaksimalkan pengurangan rasa depresi. Biarkan mereka melakukan berbagai kegiatan yang disenanginya sehingga menimbulkan perasaan bahagia dan mengurangi fokusnya pada rasa sakit,” ujarnya.

Selain di rumah sakit dengan bantuan perawat dan tim medis, hospice care juga dapat dilakukan di rumah karena pasien akan merasa nyaman dikelilingi keluarga. Namun, memang terkadang masih banyak keluarga yang belum mempercayai metode tersebut, mereka tetap menginginkan adanya tindakan medis meski harapan pasien untuk sembuh sudah tidak ada.

“Tidak semua pasien kanker stadium akhir ingin terus dapat perawatan medis. Mereka ingin menjelang akhir hayat bisa bersama keluarga, berkumpul bersama, berdoa bersama, bermain bersama sehingga perasaan dan kualitas hidupnya menjadi lebih baik,” ujarnya.

Menurut WHO jumlah pengidap kanker tiap tahun bertambah 7 juta orang, dan dua per tiga diantaranya berada di negara-negara yang sedang berkembang. Di Indonesia, kanker menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Setiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100.000 penduduk. Ini berarti dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, ada 240.000 pengidap kanker baru setiap tahunnya.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Aru Sudoyo mengatakan kondisi yang ditemukan, hampir sebagian penyakit kanker ditemukan pada stadium lanjut, sehingga angka kesembuhan dan angka harapan hidup pasien kanker belum seperti yang diharapkan meskipun tatalaksana kanker telah berkembang dengan pesat.

“Pasien dengan kondisi tersebut mengalami penderitaan yang memerlukan pendekatan terintegrasi berbagai disiplin ilmu agar pasien memiliki kualitas hidup yang baik dan pada akhir hayatnya meninggal secara bermartabat,” ujarnya.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top