Sepatu Orthotik untuk Penderita Diabetes

Diabetes melitus adalah momok. Penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah tersebut cukup identik dengan orang dewasa atau yang sudah berusia lanjut, meskipun tidak menutup kemungkinan telah terdeteksi di usia muda
Alif Rizki | 05 November 2018 07:10 WIB
Diabetes - boldsky.com

Bisnis.com, SEMARANG - Diabetes melitus adalah momok. Penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah tersebut cukup identik dengan orang dewasa atau yang sudah berusia lanjut, meskipun tidak menutup kemungkinan telah terdeteksi di usia muda.

Berdasarkan data yang dirilis World Health Organization (WHO), pada 2015 estimasi jumlah pasien diabetes di dunia mencapai 415 juta jiwa atau setara 1 dari 11 orang dewasa (8,5%). Angka tersebut membengkak 4 kali lipat dari total 108 juta jiwa pada 1980-an.

Pada 2012, sebanyak 3,7 juta kematian disebabkan oleh gula darah tinggi dan 1,5 juta di antaranya karena diabetes. Penyakit tersebut merupakan penyebab kematian ke-8 pada kedua jenis kelamin dan kematian ke-5 pada perempuan.

Dampak dari diabetes tersebut tentu saja berpotensi bertambah buruk. Pasalnya, jumlah penderita diabetes diprediksi membengkak hingga 642 juta jiwa atau 1 dari 10 orang dewasa pada 2040.

Yang patut diwaspadai juga, diperkirakan 1 dari 2 orang penyandang diabetes masih belum terdiagnosis dan belum menyadari dirinya telah terkena penyakit tersebut. Adapun 80% penderita diabetes tersebut ada di negara berpenghasilan rendah dan sedang.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Masih berdasarkan data dari WHO, pada 2015 Indonesia menempati peringkat ke-7 untuk jumlah penderita diabetes bersama China, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia, dan Meksiko.

Penderita diabetes di Indonesia pun cenderung meningkat. Pada 2007, persentasenya sebesar 5,7% lalu pada 2013, persentasenya telah mencapai 6,9%.

Adapun sebanyak 2 dari 3 orang pengidap diabetes di Indonesia tidak menyadari dirinya telah terkena penyakit tersebut. Hal itu berpotensi meningkatkan risiko komplikasi sebelum terlayani oleh layanan kesehatan yang memadai.

Di tengah potensi meningkatnya penderita diabetes di Indonesia, baru-baru ini muncul inovasi baru dari hasil penelitian Paulus Wisnu Anggoro (Anggoro) yang berhasil memperoleh gelar doktor pada Program Studi Doktor Teknik Mesin Universitas Diponegoro dibawah bimbingan Promotor Prof Dr ret. nat. A.P. Bayuseno MSc beserta Co Promotor Dr Jamari ST, MT dan Dr M. Tauviqirrahman ST,MT.  Anggoro berhasil menciptakan sebuah sepatu orthotik yang didesain khusus untuk penderita diabetes dengan menyesuaikan bentuk kaki pasien. Hal tersebut tentunya menjadi terobosan baru bagi teknologi medis mengenai penemuan yang sangat bermanfaat untuk penderita diabetes.

Anggoro mengatakan deformity foot atau kelainan bentuk kaki dapat digolongkan menjadi signifikan atau tidak signifikan, tergantung pada kondisi kaki dari pasien.  Definisi tentangdeformity yang signifikan oleh Munro (2005), Uccioli dan Giacomozzi (2012) menurut Anggoro sangat erat terkait dengan aspek-aspek dari sepatu normal seperti hell, ball dan toe. 

Apabila kondisi kaki tidak sejajar atau selaras dengan ketiga aspek ini, maka parameter desain desain sepatu akan memunculkan adanya potensi gesekan, gaya geser sehingga berimplikasi besar pada tekanan kaki sehingga pasien merasa sakit atau nyeri dan tidak nyaman saat beraktivitas sehari-hari (berdiri, duduk, berlari, melompat).

Menurutnya, orang dengan kelainan bentuk kaki cenderung akan selalu mengalami kesakitan saat menggunakan sepatu atau sandal sebagai alas kaki ketika beraktivitas. Umumnya umur sepatu yang mereka kenakan tidak lama karena terjadinya gesekan antara swollen bone dengan bagian upper shoe yang berakibat sobeknya material sepatu. Kesulitan menemukan bentuk dan ukuran sepatu yang pas dengan dimensi kaki pasien juga menjadi faktor utama.

Dikatakan Anggoro, sepatu orthotik merupakan alat bantu untuk alas kaki yang didesain khusus untuk mendukung bagian ankle dan kaki selama melakukan aktivitas harian dan membantu proses penyembuhan atau pengurangan rasa nyeri pada pasien deformity foot.

"Sepatu ini sangat berguna bagi penderita diabetes khususnya diabetes kering (pasien diabetes yang tidak memiliki riwayat amputasi pada anggota tubuhnya). Tapi untuk penyakit diabetes basah belum dilakukan penelitian sampai saat ini karena terkendala pasien yang bersedia menjadi obyek penelitian dan baru pada penelitian ini ditemukan sepatu orthotik khusus penderita diabetes kering ," ujarnya.

Sepatu orthotik ini dibentuk dari dua komponen utama, yaitu insole dan shoe last yang didesain khusus menyerupai bentuk kaki pasien. Sementara itu, untuk bahan baku pembuatan sepatu yang  terdiri dari insole (materiale EVA rubber foam), Outsole (bagian bawah sepatu yg berhubungan langsung ke tanah) adalah material EVA foam atau Poly Urethane (PU) yg memiliki kekerasan tinggi diatas 50HRc. Sedangkan Upper shoe (bagian atas tempat tutup kaki) dari material kulit sapi.

Lebih lanjut Anggoro menjelaskan, untuk harga sepatu orthotik dengan metode CARE system mencapai Rp2,5 – 3 juta untuk sepatu dengan shoe last yang didesain menggunakan metode Computer Aided Reverse Engineering System (CARE System). Sedangkan, untuk pembuatan sepatu orthotik secara konvensional (shoe last dikerjakan manual selama 1-3 bulan) hanya membutuhkan biaya Rp900.000 – 1,5 jt.

"Sepatu orthotik dibanderol dengan harga Rp2,5 – 3 juta untuk pembuatan menggunakan metode CARE system. Sementara untuk yang konvensional harga hanya Rp900.000 – 1,5 jt tergantung dari kelainan kaki yang diderita oleh pasien" ujarnya.

Anggoro menuturkan, waktu pembuatan sepatu orthotik bermacam-macam jika menggunakan metode konvensional (shoe last dikerjakan dengan teknologi konvensional oleh ahli shoe terbaik di Yogyakarta) bisa sampai 3 bulan. Namun, jika dibandingkan dengan metode CARE system yang dipaparkan dalam disertasinya metode ini bisa menghemat waktu. Pasalnya dalam seminggu metode CARE System bisa membuat 2 pasang sepatu untuk 2 pasien.

Anggoro juga menjelaskan, metode konvensional dimulai dengan operator shoe last melakukan pengukuran dan penggambaran bentuk kaki secara manual menjadi gambar 2D kemudian dilanjutkan dengan pembuatan shoe last yang menyerupai kaki pasien menggunakan peralatan tukang kayu seperti pahat, kampak, dan mesin gerinda. 

Semua pengerjaan shoe last dari awal sampai akhir dikerjakan secara manual dengan tangan (hand made) oleh operator. Proses ini menghabiskan waktu sekitar 1-2 bulan sampai diperoleh bentuk shoe last yang mirip dengan kontur kaki pasien, namun hasil akhir shoe last dan sepatu orthotik tidak presisi sehingga sering dilakukan perbaikan bentuk berulang-ulang.


Sementara metode CARESystem menurut Anggoro terbukti mampu menghasilkan sepasang sepatu orthotik yang benar-benar presisi, fit dan akurat sesuai bentuk kaki pasien karena insole yang didesain menggunakan metode Curve Base Surface Modeling didasarkan pada hasil scanning kaki pasien menggunakan alat scanning yang handal, yaitu Handyscan 700TM. 

Dengan alat scanning ini, akan didapatkan gambar 3D mesh kaki yang benar-benar akurat dan presisi yang kemudian di lanjutkan oleh Anggoro dalam pembuatan insole pada software CAD berbasis surface sampai didapatkan 3D CAD insole dan shoe lastyang sesuai bentuk kaki pasien dan dapat diproses lanjut pada mesin CNC atau 3D printer sesuai kebutuhan.

Hasil produk insole dan shoe last yang dikerjakan dengan mesin CNC ini secara kualitas bentuk dan geometri benar-benar presisi dan fit sesuai kontur kaki pasien sehingga saat difabrikasi menjadi sebuah sepatu orthotik oleh industri sepatu di daerah Ganjuran Bantul Yogyakarta akan didapatkan sepatu orthotik seperti yang diinginkan oleh pasien diabetes. Penelitian ini sudah diujicobakan pada kedua pasien diabetes dengan hasil sangat memuaskan dan sudah dipublikasikan pada beberapa jurnal internasional terindeks scopus.


Bentuk dan kualitas sepatu orthotik sangat bergantung pada desain shoe last yang dihasilkan. "Butuh waktu sampai 2-3 bulan untuk mengerjakan satu pasang sepatu dengan metode konvensional. Sementara dengan CARESystem lebih hemat dengan waktu pengerjaan mencapai hanya 1 Minggu," katanya.

Anggoro berharap, penelitian yang dia kembangkan bisa bermanfaat bagi orang banyak terutama penderita diabetes pada khususnya maupun pada pasien deformity foot lainnya seperti Flat Feet, Pronation, Metatarsalgia ataupun trauma akibat kecelakaan atau cacat akibat lahir.

Sementara itu, Dekan Fakultas Tekhnik Universitas Diponegoro Agung Wibowo menambahkan, penemuan ini sangat bagus karena memberikan solusi kepada penderita diabetes melitus agar dapat menggunakan sepatu. Menurutnya, penemuan tersebut sangat berguna untuk masyarakat penderita penyakit diabetes melitus yang mempunyai kelainan bentuk kaki.

"Bagi kami di Fakultas Tekhnik  penemuan ini sangatlah bermanfaat. Dan sangat menjanjikan jika dikembangkan dan disempurnakan," ujarnya.

Dia menjelaskan, penyempurnaan harus dilakukan. Pasalnya beberapa bahan baku pembuat sepatu masih import, selain itu harga sepatu yang ditawarkan cukup mahal. Kendati demikian, meskipun mahal namun penemuan ini sangat berguna untuk penderita penyakit diabetes melitus.

"Dari data yang dipaparkan tadi memang harga cukup mahal. Dan penemuan ini harus disempurnakan lagi, agar penderita penyakit diabetes melitus dapat menggunakan sepatu serta berjalan normal," katanya. (K28 / Lucky L Leatemia) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
diabetes

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top