Tantangan Utama Penenun di Mata Mantan Ibu Negara

Menenun bukanlah pekerjaan yang langsung menghasilkan produk dengan cepat. Diperlukan proses yang tidak cepat serta ketersediaan bahan baku yang mencukupi.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 17 November 2018  |  22:55 WIB
Tantangan Utama Penenun di Mata Mantan Ibu Negara
Pengunjung mengamati seorang penenun menyelesaikan tenunannya di Pavilion Indonesia di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018, Nusa Dua, Bali, Senin (8/10/2018). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA--Menenun bukanlah pekerjaan yang langsung menghasilkan produk dengan cepat. Diperlukan proses yang tidak cepat serta ketersediaan bahan baku yang mencukupi.

Mantan ibu negara Ani Yudhoyono mengatakan pemenuhan bahan baku bagi penenun harus menjadi fokus. Hal itu perlu diperhatikan supaya para perajin tenun dapat memproduksi kain tenun dengan optimal dan berkualitas.

“Menurut saya para penenun banyak yang mengeluhkan tentang bahan baku,seperti pewarn, ini yang mesti dicarikan [solusinya],” ujar Ani saat ditemui di Pasific Place Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ani mengaku sempat berkomunikasi dengan beberapa penenun di sejumlah daerah. Itu terjadi kala dirinya menjadi ibu negara.

Dia bercerita tentang kebutuhan bahan pewarna yang tak mudah didapat para penenun. Apabila penenun memilih menggunakan pewarna kimia, bahan baku yang digunakan harus diimpor dari luar negeri. Perkara impor bahan baku ini menjadi masalah tersendiri.

Bisa saja para penenun menggunakan pewana alam. Namun, lanjut Ani, hal tersebut juga tidak mudah. Butuh pembudidayaan yang berkelanjutan. Apalagi, untuk memproduksi kain tenun yang banyak, diperlukan bahan baku yang sangat banyak pula.

“Harus ngumpulin dulu, misalnya pakai bahan kulit manggis, sudah ngumpulin sekian kilo aja hanya untuk beberapa tenun, Kalau pewarna alam sebenarnya bisa membuat sendiri, tapi harus dibudidayakan yang lebih banyak," ujar Ani.

Ani berharap nantinya akan ada inovasi baru untuk membantu memecahkan permasalahan tersebut.

Mengingat peluang tenun akan semakin tinggi. Dari segi pemasaran, lanjutnya, perajin tenun memang harus selalu berdampingan dengan perancang busana. Dengan begitu, lanjutnya, tenun dapat dipasarkan tidak hanya di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri.

Regenerasi Penenun

Di sisi lain, perancang busana Didi Budiardjo menyoroti soal regenerasi di kalangan penenun.  Menurut Didi, masalah klasik yang masih terjadi adalah soal regenerasi. 

Banyak orang lebih memilih menjadi pegawai daripada menjadi penenun. "Padahal mereka memiliki kemampuan untuk menjadi penenun," ujar Didi.

Menurut Didi, hal tersebut akan terus berlarut-larut apabila tidak ditangani secara serius. Salah satu solusi yang ditawarkan Didi adalah apresiasi kepada para perajin.

Cara yang harus dilakukan adalah membeli kain tenun dengan harga yang pantas.

“Karena tenun dikerjakan dengan sangat lama, bahkan untuk membuat hanya 10 cm dalam sehari, orang bilang tenun mahal, tapi mereke tidak tahu rasanya [menenun],” kata Didi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ani yudhoyono, wastra, tenun

Editor : Saeno
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top