Banyak Penderita Diabetes Tak Sadar Dirinya Diabetesi, Cek Gejalanya

Diabetes atau penyakit kencing manis merupakan salah satu dari penyakit kronis yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi.
Dewi Andriani | 17 November 2018 08:44 WIB
Ilustrasi pengecekan kadar gula darah terhadap penderita diabetes melitus - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Diabetes atau penyakit kencing manis merupakan salah satu dari penyakit kronis yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi.

Sayangnya, belum banyak masyarakat yang menyadari ketika dirinya menderita diabetes sebelum munculnya gangguan yang lebih serius.

Diabetes terbagi menjadi 2 yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 1, tubuh benar-benar berhenti memproduksi insulin karena adanya kerusakan pada sel pankreas yang memproduksi insulin.

Insulin memiliki banyak peran di dalam tubuh yaitu memecah karbohidrat, lemak, dan protein menjadi glukosa atau gula darah. Glukosa tersebut kemudian diubah menjadi energi yang akan disebarkan ke seluruh tubuh.  

Diabetes tipe 1 sulit untuk dideteksi karena terjadi secara tiba-tiba dan belum diketahui penyebab pastinya, tetapi berkurangnya sistem imun atau daya tubuh sering dianggap sebagai salah satu penyebab. Biasanya, diabetes tipe ini lebih banyak menyerang anak-anak dan orang dewasa muda.

Dokter Spesialis Anak yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Aman Bhakti Pulungan mengatakan faktanya seorang yang menderita diabetes tipe 1 tidak dapat disembuhkan. Pasalnya, sel pankreas yang memproduksi insulin sudah tidak lagi berfungsi sehingga satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga kelangsungan hidup adalah dengan melakukan terapi insulin seumur hidup.

Meski demikian, sambungnya, bukan berarti seorang anak atau remaja yang menderita diabetes tipe 1 tidak dapat hidup layaknya orang normal pada umumnya.

“Mereka tetap dapat hidup normal dan memiliki harapan untuk tetap bisa menggapai impian dan cita-citanya," ujar Aman, belum lama ini.

Sementara itu, diabetes tipe 2 merupakan jenis penyakit yang umum terjadi di masyarakat. Sekitar 90% kasus merupakan diabetes tipe 2.

Pada diabetes tipe ini, pankreas masih bisa menghasilkan insulin tetapi jumlahnya tidak memadai atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin yang ada secara benar. Hal ini memunculkan terjadinya resistensi insulin yaitu ketika insulin yang dihasilkan pankreas tidak lagi dapat menyerap glukosa sebagaimana mestinya sehingga kadar gula darah dalam tubuh menjadi tinggi, yang kemudian menyebabkan diabetes tipe 2.

Sayangnya, tidak ada tanda khusus yang ditunjukan ketika seseorang mengalami resistensi insulin. Kecuali, jika orang tersebut memeriksakan kadar gula darahnya.

Tak mengherankan jika angka prevalensi penderita diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasa (Riskesdas) 2018, prevalensi diabetes naik menjadi 8,5% dari sebelumnya 6,9% pada 2013 dan 5,7% pada 2007.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Cut Putri Ariane mengungkapkan bahwa banyak masyarakat yang beranggapan bahwa diabetes bukan masalah besar sehingga sering kali dianggap sepele.

Padahal, jika terus dibiarkan tanpa pemeriksaan diabetes bisa menyebabkan komplikasi serius bahkan bisa menyebabkan kematian lebih cepat dari seharusnya. Pasalnya, seorang penderita diabetes akan memiliki risiko dua kali lebih besar terkena serangan jantung.

“Diabetes juga menjadi penyebab utama kebutaan, gagal ginjal, amputasi tungkai bawah,” terangnya.

Menurut Putri, 80% kejadian diabetes sebetulnya dapat dihindari dengan mengubah gaya hidup sehat, mengatur pola makan, dan melakukan olah raga rutin. Terutama, jika menemukan beberapa gejala seperti sering buang air kecil, mudah lapar dan makan lebih banyak dari biasanya, terjadi penurunan berat badan meskipun nafsu makan meningkat.

Selain itu, seseorang yang menderita diabetes biasanya akan lebih mudah haus dan cenderung minum berlebih sebagai kompensasi tubuh terhadap cairan yang hilang melalui urine. Selain itu, luka akan sulit sembuh karena tingkat gula darah yang tinggi menyebabkan tubuh sulit melawan infeksi, serta sering mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki.

“Tanda-tanda ini harus diwaspadai dan jangan dianggap ringan. Lakukan pemeriksaan gula darah karena 2/3 orang diabetes tidak sadar kalau dirinya menderita diabetes dan biasanya baru mengakses layanan kesehatan setelah terjadi komplikasi,” paparnya.

Ketidaksadaran ini pun juga muncul di kalangan remaja dan dewasa muda karena adanya anggapan bahwa diabetes merupakan penyakit yang dialami oleh orang yang berusia di atas 50 tahun. Padahal, ini merupakan anggapan yang keliru karena dalam beberapa tahun terakhir kejadian diabetes tipe 2 telah meningkat secara signifikan pada remaja, dewasa muda, bahkan anak-anak.

Penyebabnya bukan hanya karena faktor keturunan atau riwayat keluarga saja, tetapi juga disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat, diet yang salah, kegemukan atau obesitas, serta kurangnya aktivitas fisik.

“Namun, diabetes tipe 2 bukan hanya berisiko dialami oleh seseorang yang obesitas saja. Seseorang yang tidak kelebihan berat badan pun jika gaya hidupnya tidak sehat bisa berisiko terkena penyakit diabetes tipe 2,” tambah Putri.

Pengecekan gula darah harus dilakukan secara rutin bukan hanya oleh penderita tetapi juga masyarakat pada umumnya, terutama yang memiliki risiko tinggi yaitu penderita obesitas.

Alasannya, gejalanya mungkin sangat ringan sehingga sering terabaikan selama bertahun-tahun dan tidak pernah diobati. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya komplikasi, apalagi diperparah dengan pola hidup dan pola makan yang tidak sehat.

Tag : kesehatan, diabetes
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top