Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Investasi Barang Mewah

Investasi di sektor properti, komoditas, maupun saham sudah dikenal mampu memberikan pemasukan pasif yang menggiurkan. Namun, masih ada acara untuk berinvestasi seperti melalui barang mewah.Ketika membeli sebuah barang mewah, pernahkah terpikir untuk melihatnya sebagai bentuk “investasi”?.
Asteria Desi Kartika Sari | 25 November 2018 22:46 WIB
Jam tangan Rolex - Bobswatches

Bisnis.com, JAKARTA -- Investasi di sektor properti, komoditas, maupun saham sudah dikenal mampu memberikan pemasukan pasif yang menggiurkan. Namun, masih ada acara untuk berinvestasi seperti melalui barang mewah.Ketika membeli sebuah barang mewah, pernahkah terpikir untuk melihatnya sebagai bentuk “investasi”?.

Perlu mindset yang berbeda ketika investor memutuskan membeli barang mewah untuk investasi. Perlu sedikit cermat, pasalnya tidak semua barang mewah dapat dijadikan investasi. Knight Frank Luxury Investment Index 2018 mencatatkan pergerakan kelas menengah ke kelas atas secara global menunjukkan tren yang terus meningkat.

Hal ini ternyata menyebabkan permintaan terhadap barang-barang mewah dan koleksi juga ikut naik, seperti barang seni, jam tangan, sampai wine. Selain itu, tren konsumsi barang-barang bermerek dengan harga fantastis itu terungkap dalam laporan Asia Luxury Index 2016 yang dilansir Reebonz, situs belanja online terbesar di Asia khusus untuk segmen produk fesyen prestisius.

Segmentasi produk fesyen mewah di Asia, termasuk Indonesia, telah berevolusi dan tidak lagi hanya diminati oleh segelintir kalangan. Di pasar Asia, salah satu jetset brand yang masih menjadi primadona adalah Chanel. Namun, belakangan ini konsumen mulai keranjingan produk-produk mewah dari label cult seperti Givenchy, Burberry, Valentino Garavani, Balenciaga, Saint Laurent, dan Tory Burch.

Dalam laporan Knight Frank Luxury Investment Index 2018 tercatat permintaan terhadap barangmewah seperti benda seni, selama 10 tahun belakangan meningkat sebesar 78%, sedangkan permintaan jam tangan meningkat sebesar 69%, perhiasan meningkat sebesar 138%, wine meningkat sebesar 192%, dan mobil sebesar 334%.

Co-Founder & Chairman Jagartha Advisors Ari Adil mengatakan mengoleksi barang mewah untuk berinvestasi memerlukan pertimbangan yang cermat hingga melalui riset pasar. Paling tidak, menurutnya kolektor ataupun investor harus bisa mengetahui demand dan supply sebuah model tertentu untuk menjadi dasar apakah barang tersebut menghasilakn nilai jual yang lebih tinggi.

Ari menghimbau memandang barang mewah sebagai currency atau mata uang yang bisa dilikuidasi kapan saja, salah satu contoh adalah jam tangan. Konsep mata uang pada jam tangan mewah dimaksudkan agar investor tidak salah sangka dalam memproyeksikan peningkatan nilai finansial pada koleksinya.

“Jam tangan mewah adalah salah satu barang yang punya monetisasi baik, karena pasarnya di Indonesia sudah terbentuk di kalangan yang juga paham tentang value sebuah barang mewah,” kata Ari.

Sederhananya, apabila menyimpan deposito berjangka selama kurun waktu tertentu, nilai deposito Anda akan bertambah pada saat deposito Anda jatuh tempo. Di sisi lain, apabila memiliki jam tangan mewah yang bisa dijual kembali dengan nilai melebihi harga beli, Anda tidak perlu menunggu masa “jatuh tempo” untuk mendapatkan keuntungan.

Bicara tentang sisi investasi, Ari menyarankan para kolektor memperhatikan pergerakan nilai tukar rupiah. Mengingat barang mewah didominasi barang impor yang harga jualnya menggunakan mata uang rupiah.

“Harga barang mewah baru dan second menjadi terpengaruh apabila rupiah terdepresiasi maupun terapresiasi,” katanya.

Kendati begitu, Ari juga menambahkan, meski masyarakat kelas atas Indonesia sudah sangat familiar dengan kepemilikan barang mewah, dia menekankan barang mewah ini tidak menjadi satu-satunya portofolio untuk tujuan berinvestasi.

“Risiko kerusakan barang jika berada di tangan yang tidak tepat justru akan merusak nilainya. Sehingga, sangat penting bagi investor untuk mengerti risiko dari kegiatan investasi yang melibatkan barang-barang berharga yang tidak menghasilkan pendapatan tetap,” jelasnya.

Tag : investasi
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top