Tips Mendidik Anak di Meja Makan ala Alyssa Soebandono

Kebersamaan anak dan orang tua di meja makan bisa jadi salah satu momen paling penting dalam tumbuh kembangnya. Melalui interaksi di meja makan, orang tua dapat sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter pada anak.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 Maret 2019  |  18:44 WIB
Tips Mendidik Anak di Meja Makan ala Alyssa Soebandono
Dude Herlino dan Alyssa Soebandono beserta kedua anak mereka. - Instagram @ichasoebandono

Bisnis.com, JAKARTA - Kebersamaan anak dan orangtua di meja makan bisa jadi salah satu momen paling penting dalam tumbuh kembangnya. Melalui interaksi di meja makan, orang tua dapat sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter pada anak.

Selebriti sekaligus ibu rumah tangga, Alyssa Soebandono menceritakan, dalam mendidik dua anaknya tentang etika makan, mula-mula dia membiasakan untuk duduk saat makan. Hal ini terutama untuk memudahkan anak mengenali waktu makan ketika duduk.

Dia menampik bahwa anak bungsunya, Malik, mengacak-acak makanan saat waktu makan bersama di meja makan. 

"Menurut saya yang penting kebersamaan di meja makan," kata Alyssa.

Namun demikian, biasanya Malik akan langsung ikut makan ketika melihat kakaknya, Rendra juga mulai menyantap makanan. Dari situlah menurut Alyssa bonding antar anggota keluarga, bukan hanya orangtua anak bisa dibentuk dan dikuatkan.

Dia melanjutkan, pekerjaan rumah yang lumayan berat datang ketika anak-anaknya tidak selera makan, atau dikenal dengan istilah gerakan tutup mulut atau GTM. Namun Alyssa menegaskan, dalam keadaan apa pun, dia tetap membiasakan anak duduk saat waktu makan.

Dari situ, saat anak tidak selera makan, orang tua bisa melakukan berbagai pendekatan untuk mengembalikan selara makannya.

Misalnya dengan menceritakan dongeng tentang makanan dan membuat suasana makan senyaman mungkin bagi anak. Alyssa mengatakan, dalam kondisi semacam itu yang terpenting adalah tidak memaksa anak untuk menyantap makanan, karena hal itu mungkin saja membekaskan trauma tersendiri saat anak beranjak dewasa. 

Contohnya anak enggan untuk makan buah dan sayur, tetapi oleh orangtua dipaksa, maka besar kemungkinan saat beranjak besar ada konotasi negatif di benak anak soal buah san sayur.

"Suasananya senyaman mungkin supaya mereka tidak merasa makan itu bukan hukuman.  Makan bersama bukan hukuman tetapi kegiatan yang nantinya mereka besar akan ingat bahwa makan di meja makan tanpa ada gadget sama sekali," jelas Alyssa.

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics tahun lalu, makan bersama membuat anak lebih sehat dan bahagia. Selain itu, ternyata anak-anak yang rutin makan bersama keluarga lebih sehat secara fisik, memiliki keterampilan sosial yang lebih baik dan tidak menunjukkan sikap bermusuhan layaknya teman sebaya yang lebih sering makan malam sendirian.

Para periset dalam studi ini meninjau Quebec Longitudinal Study of Child Development dan melibatkan hampir 1.500 anak yang lahir antara tahun 1997 dan 1998. Anak-anak tersebut kemudian diamati peneliti sejak masih berusia 5 bulan. Saat usia anak menginjak 6 tahun, orangtua mulai melaporkan seberapa sering mereka makan bersama.

Dengan menggunakan laporan dari orang tua, guru dan anak-anak tersebut, para peneliti ingin mengamati pengaruh jangka panjang makan bersama sebagai pengalaman lingkungan keluarga pada usia dini.

Penelitian ini juga menyatakan bahwa kebiasaan makan sehat dalam keluarga yang dimulai sejak usia 6 tahun juga akan memperkecil tingkat konsumsi anak akan minuman soft drink, yang berarti membuat mereka lebih bugar secara fisik. Di usia 10 tahun, dengan kebiasaan baik tersebut anak diprediksi memiliki kenakalan yang tidak agresif dan agresi reaktif pada usia 10 tahun. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
anak, keluarga, parenting

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top