HARI KARTINI: Perempuan di Dunia Startup

Pada edisi menyambut Hari Kartini ini, Bisnis Indonesia Weekend mengulas tuntas perjuangan para perempuan Indonesia dalam merintis bisnis startup hingga mencapai kesuksesan.
Eva Rianti & Roni Yunianto | 19 April 2019 11:40 WIB
Kartini - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Perkembangan dunia digital yang makin cepat ternyata mendorong perempuan Indonesia—yang biasa disebut sebagai Kartini masa kini—untuk lebih unjuk gigi di dunia karier. Berbekal kemampuan dan pendidikan tinggi, para perempuan modern ini masuk ke seluruh sektor bisnis, tak terkecuali industri startup berbasis teknologi digital.

Kesan bahwa startup hanya didominasi oleh laki-laki ternyata bisa dipatahkan oleh sebagian perempuan. Kaum hawa ini bahkan berhasil mendirikan bisnis startup yang mendunia, sekaligus memegang puncak pimpinan. Perempuan modern yang saat ini sukses meniti karier adalah Diajeng Lestari, pendiri Hijup.

Selain Hijup, ada juga Reblood yang didirikan oleh Leonika Sari.

Diajeng Lestari yang mengawali bisnisnya pada 2011 di sebuah ruangan berukuran 2x2 meter. Dengan bantuan dua karyawan, dia menawarkan platform Hijup kepada para desainer. Dari pintu ke pintu dan dari bazar ke bazar dia terus berupaya mengenalkan label perusahaannya.

Siapa sangka, kini HijUP menjadi katalisator pertumbuhan industri fesyen muslim Indonesia, bahkan menjadi e-commerce fesyen muslim pertama di dunia. Sekarang ini, lebih dari 200 desainer dan pemegang merek tergabung dengan Hijup. Besarnya sumber daya yang dimiliki Aulia membuatnya mudah berekspansi ke lebih dari 50 negara di dunia.

Merintis bisnis sendiri diakui Diajeng tidak semudah membalik telapak tangan. Diajeng mengungkapkan bahwa pada awal 2000-an saat pertama merintis bisnis, belum banyak perempuan mengenakan hijab. Selain itu, penjualan barang secara daring belum begitu dikenal sehingga sehingga perkembangannya kurang maksimal.

Berbeda dengan pengalaman Leonika Sari, Chief Executive Officer (CEO) Reblood, mengatakan bahwa yang mendorongnya untuk mendirikan bisnis startup pada 2015 adalah untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa melalui donor darah.

Melalui publikasi dan kampanye di media sosial, Reblood mampu menarik perhatian kaum milenial sehingga dapat membantu memenuhi 400 kantong darah yang diperlukan di Surabaya, dan sekitar 800—1.000 kantong darah yang dibutuhkan di Jakarta.

Melalui bisnis rintisannya itu, Leonika masuk dalam jajaran 30 pemuda berprestasi di bawah 30 tahun untuk kategori healthcare & science versi majalah Forbes, 45 perempuan penembus batas versi majalah Tempo, dan 100 Women dari BBC. Penghargaan-penghargaan tersebut diraihnya lewat Reblood.

Dua contoh Kartini Masa Kini ini memang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Diajeng Lestari, dan Leonika Sari merupakan sedikit dari banyaknya Srikandi modern yang mampu berjuang, mandiri, dan berdiri sejajar dengan pria.

Kemampuan perempuan yang begitu beragam tersebut bertambah paripurna ketika bersentuhan dengan dunia teknologi. Kartini Masa Kini membuat semuanya mungkin terwujud.

Pada edisi menyambut Hari Kartini ini, Bisnis Indonesia Weekend mengulas tuntas perjuangan para perempuan Indonesia dalam merintis bisnis startup hingga mencapai kesuksesan. Anda bisa mengaksesnya lewat Epaper Bisnis Indonesia.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, gaya hidup

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup