Jangankan Menikah, Orang Korea Bahkan Tak Lagi Berkencan!

Tidak seperti di Indonesia, pernikahan masih dianggap lumrah atau bahkan diwajibkan untuk beberapa golongan millenial, di Korea Selatan, kaum muda bahkan tidak berkeinginan untuk memiliki hubungan asmara.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  07:10 WIB
Jangankan Menikah, Orang Korea Bahkan Tak Lagi Berkencan!
Ilustrasi - Thinkstock

Bisnis.com, JAKARTA – Tidak seperti di Indonesia, pernikahan masih dianggap lumrah atau bahkan diwajibkan untuk beberapa golongan millenial, di Korea Selatan, kaum muda bahkan tidak berkeinginan untuk memiliki hubungan asmara.

Dengan bertambahnya jumlah pria dan wanita yang memilih untuk tidak memiliki anak, tidak menikah atau bahkan memiliki hubungan asmara, tak heran jika angka kelahiran di salah satu negara maju di Asia tersebut terbilang sangat kecil di dunia.

Dengan tingkat kompetisi pencarian kerja yang sangat tinggi di Korea Selatan, banyak sekali anak muda yang melihat pernikahan bahkan hubungan asmara sebagai beban karirnya.

“Daripada menjadi bagian dari sebuah keluarga, aku lebih memilih independen dan hidup sendiri mencapai mimpiku,” ujar Yun -hwa seorang web comic artist kepada bbc.com saat ditanyai alasannya memilih untuk tidak berpacaran.

Yun-hwa bukan satu-satunya wanita muda yang melihat karir dan keluarga adalah dua hal yang rumit. Sebagian besar wanita Korea Selatan melihat keluarga akan menjadi prioritas utamanya setelah menikah dibanding meniti karirnya di masa depan.

Namun, bukan berarti anak muda asal Korea Selatan ini tidak menerima tekanan dari orangtua dan saudaranya.

Tekanan Orangtua

Dikutip dari South China Morning Post, seorang pria berusia 34 tahun yang tinggal di Seoul seringkali mendapati pertanyaan tentang pernikahan ketika ia mengunjungi orangtuanya yang tinggal di luar kota.

“Orangtuaku selalu menekanku [tentang pernikahan] kapanpun aku mengunjungi mereka. Awalnya mereka hanya bercanda, tapi akhirnya mereka jadi serius,” tuturnya.

Survei yang dilakukan oleh Korea Institute for Health and Social Affair pada tahun 2012 menyebutkan kalau kurang dari 40 persen dari populasi warga Korea Selatan berusia 20 hingga 44 tahun yang aktif berkencan, bahkan menjadi sangat rendah untuk persentase warga yang melaksanakan pernikahan tradisional.

Pada tahun 2015, 90 persen dari pria dan 77 persen dari wanita dari rentang usia 25 hingga 29 tahun memilih untuk tidak menikah dikutip dari Korea Herald.

Tingkat kelahiran di Korea Selatan juga menurun setiap tahunnya, dan hasilnya menurut beberapa sosiolog adalah lingkungan yang nantinya akan banyak dipenuhi oleh warga yang sudah tak produktif lagi dilihat dari umurnya.

Karena orang yang lebih tua memiliki produktivitas kerja yang sangat rendah, hal ini akan berdampak pada angka pertumbuhan ekonomi. Pemerintah pun nantinya akan mengeluarkan banyak uang untuk kesejahteraan mereka, dalam arti generasi muda harus lebih banyak membayar pajak.

 Beban Finansial Mengurus Anak

Beberapa peraturan yang mulai meringankan beban orangtua yang mengurus anak seperti memperpanjang masa cuti kehamilan baik bagi ibu dan ayah yang bekerja mulai diberlakukan, namun ternyata hal ini tidak membuat keinginan millennial yang bekerja di Korea Selatan  berkeinginan untuk berkeluarga.

“Peraturan ini tidak berlaku karena pandangan generasi muda kalau biaya [sosial dan ekonomi] pernikahan dan mengurus anak terlalu tinggi dan kemampuan pemerintah untuk membantu sangat rendah,” ungkap Kang seorang ekonomis kepada South China Morning Post.

Shin Gi Wook, seorang professor sosiologi di Stanford University yang memiliki spesialisasi di bidang politik Korea menyebutkan kalau wanita di Korea Selatan memiliki kesulitan untuk menyeimbangkan antara karir dan ekspektasi sosial.

“Sistem pendukung sosial masih digerakkan oleh kaum pria. Banyaknya peran seorang wanita karir membuat wanita sulit untuk memprioritaskan suami dan anak dibandingkan karirnya.

Sementara itu, Michael Hurt dari Universitas Seoul menyebut kalau orang Korea perlu melepaskan seksisme di lingkungan sosialnya.

Kultur di Korea sendiri masih mengedepankan pria untuk beberapa posisi penting dan penghasilan yang jauh lebih besar dibanding kaum hawa.

“Seksisme di Korea Selatan dianggap sebagai anti-Korea, karena Korea sedang menuju ke arah demografi holokaus. Setiap kali wanita dituntut untuk meninggalkan posisinya di instansi tempatnya bekerja karena ia sudah menikah, hal inilah yang membuatnya tidak ingin menikah. Jika orang Korea ingin menambah populasi, mereka harus memotong habis kultur seksisme,” tutup Michael Hurt.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
karir, korea selatan, menikah

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top