Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Persahabatan Daniel dan Burung Paruh Bengkok

Rasa letih terbayar saat mendengar kicauan burung-burung paruh bengkok. Daniel juga bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol bersama burung-burungnya.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 19 Februari 2020  |  21:24 WIB
Tjong Nyuk Hao yang kini dikenal dengan nama Daniel Johan memiliki hobi berbincang dengan burung paruh bengkok. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama burungnya. - istimewa
Tjong Nyuk Hao yang kini dikenal dengan nama Daniel Johan memiliki hobi berbincang dengan burung paruh bengkok. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama burungnya. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Sejak lima tahun lalu, Tjong Nyuk Hao yang kini dikenal dengan nama Daniel Johan mengumpulkan paruh bengkok hingga jumlahnya 18 ekor.

Burung paruh bengkok diklasifikasikan sebagai burung yang kicauannya banyak digemari. Jenisnya seperti macaw, kakatua, lovebirds, nuri, betet, cockatiel atau palek, ringneck, parkit, sampai dengan lovebird.

Daniel mengaku memiliki hampir semua jenis tersebut. Dia juga memiliki burung generasi kedua dari burung yang masuk dalam daftar Apendiks Cites seperti jalak bali dan nuri kepala hitam dari Sumatra dan Sulawesi lengkap dengan sertifikat.

Chucky, Google, Yahoo, Blue, White, Greeni, Greeno, Sun, Conur dan belasan burung paruh bengkok lainnya seketika riuh ketika Daniel menginjakkan kakinya di depan pintu rumah. Burung-burung bersenandung riang, menyambut Daniel.

Kegemarannya mengoleksi burung muncul ketika anak tertuanya, Mahardhika Siddhartha Johan memelihara kura-kura. Namun lama kelaman jadi Daniel yang merawat kura-kura tersebut.

Rutinitas merawat kura-kura itu membuat kecintaannya untuk memelihara binatang kembali muncul. Daniel pun memilih untuk mengoleksi burung selain karena tak terlalu susah merawatnya, kicauan burung dianggap sebagai relaksasi usai menjalani aktifitas yang padat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR.

Kerap kali dia berbincang dengan belasan burung tersebut walaupun dibalas hanya dengan kicauan. Waktu berjam-jam seakan tak terasa saat Daniel mengobrol dengan mereka.

Bermula dari Chucky “Si Bawel”

Semula, keturunan etnis Tionghoa generasi ke-4 di Indonesia ini hanya membeli 1 burung yang diberi nama Chucky berjenis Blue Gold Macaw yang berasal dari Brazil. Daniel memilih jenis ini karena usia burung tersebut bisa mencapai 50 tahun. Selain itu, warna biru dan warna emas yang terdapat pada sekujur tubuhnya cukup memanjakan mata.

"Chucky bisa jadi teman seumur hidup," ujarnya saat berbincang dengan Bisnis beberapa waktu lalu.

Ya, Daniel mengaku sangat mencintai hewan. Dia sempat sangat merasa sedih saat kehilangan hewan peliharaannya. 

Saat mengenyam bangku sekolah dasar (SD), pria berusia 48 tahun ini pernah menangis meraung-raung hingga merajuk selama berminggu-minggu ketika sekitar 50 ekor ayam Kate peliharaannya mati tertular virus flu burung dari ayam negeri yang dibawa pamannya.

Bahkan saat beranjak dewasa, dia juga sempat mengalami kesedihan hingga sepekan lebih ketika parkit asal Belanda, burung kedua yang dibelinya setelah Chucky, lepas.  "Sedih banget. Mikirin terus, nggak bisa tidur, sampai seminggu. Ringneck, termasuk yang jago ngomong," kenang Daniel.

Sepekan merenung, Chucky akhirnya mampu menghibur mantan Direktur Utama PT. Harsco Nusantara itu. Sebagai burung pertama yang dipelihara Daniel seharga Rp25 juta, Chucky kerap mengeluarkan tingkah lucu dan mengoceh layaknya seorang bocah.

Hubungan Chucky dan Daniel lama kelamaan semakin erat walaupun Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu membeli kembali beberapa burung. "Chucky paling nurut, lucu, manja, dan paling bisa ngomong, ngoceh seperti anak balita," sebutnya.

Daniel berencana akan membawa Chucky kemanapun dia pergi, termasuk dalam perjalanan dinas sebagai legislator dari Kalimantan Barat. Pengagum Presiden ke4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini akan melatih Chucky terlebih dahulu agar bisa terbang dengan gaya free fly.

Free fly adalah gaya memelihara burung dimana para penghobi menikmati pemeliharaan burung tidak hanya dari warna dan suara kicau burung saja, tetapi juga menikmati gaya terbang burung dengan melepaskan burung lali memanggilnya kembali. 

Selain berencana membawa burung dalam agenda kepergiannya, Daniel ingin membangun sangkar besar di pekarangan belakang rumahnya. Kandang yang bisa menampung belasan burung yang dalam waktu dekat akan bertambah jumlahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hobi burung
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top