8 Mitos dan Fakta Seputar Kanker

Faktor genetik atau keturunan tidak dapat dipungkiri merupakan faktor pen ng dalam pembentukan kanker.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 24 Februari 2020  |  11:51 WIB
8 Mitos dan Fakta Seputar Kanker
Kanker - telegraph.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA – Perbincangan tentang kanker banyak beredar di masyarakat.

Sebagian di antaranya tersebar tanpa fakta ilmiah. Apa saja yang berdasarkan fakta dan mana yang sekadar mitos?

Berikut beberapa mitos dan fakta seputar kanker

1. Kanker Dipengaruhi Faktor Keturunan

Faktor genetik atau keturunan tidak dapat dipungkiri merupakan faktor pen ng dalam pembentukan kanker. Namun faktanya, menurut dokter Noralene M. Lindor, ahli genetika medis dari Amerika Serikat, seper dikutip dari Cancer Causes: Popular Myths About the Causes of Cancer yang diterbitkan oleh Mayo Clinics pada 2018, dinyatakan bahwa hanya 5%—10% penderita kanker yang mewarisi mutasi gen dari orang tuanya.

Sisanya justru mengalami mutasi gen setelah lahir akibat gaya hidup yang tidak sehat. Hal ini lantaran terlalu sering mengonsumsi atau menerima paparan zat kimia karsinogenik, kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol serta obesitas. Beberapa virus yaitu human papillomavirus, Epstein Barr, herpes juga bisa menyebabkan kanker.

2. Konsumsi Gula Berlebih Menyebabkan Kanker

Konsumsi gula berlebih dianggap menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sel kanker. Namun, faktanya, ternyata tidak demikian. Diku p dari Cancer: A Mechanis c Perspective, Interna onal Journal of Diabetology & Vascular Disease Research belum ada penelitian yang berhasil membuk kan hal tersebut.

Walaupun tidak menjadi pendorong pertumbuhan sel kanker. Dua penyakit yang diakibatkan oleh konsumsi gula berlebih, yakni obesitas dan diabetes berpeluang meningkatkan risiko kanker. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika Anda mengurangi konsumsi gula dengan tujuan untuk mencegah kanker.

3. Salah Cara Memasak Berakibat Kanker

Sejumlah metode memasak yang tidak tepat, tak dipungkiri bisa membuat makanan menjadi pemicu kanker. Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) menyebut memasak dengan pemanasan tinggi dengan cara barbeque, grilled, pan-fried terhadap bahan-bahan makanan yang mengandung lemak hewani akan meningkatkan terbentuknya zat pemicu kanker atau karsinogenik, yaitu amina heterosiklik dan hidrokarbon polisiklik.

4. Radiasi Ponsel Mengakibatkan Kanker

Hingga kini masih banyak perdebatan terkait dengan radiasi telepon genggam yang dianggap sebagai penyebab kanker. Diku p dari Is There Any Link Between Cellphones and Cancer yang diterbitkan oleh Mayo Clinics pada 2018, seorang onkolog asal Amerika Serikat, Edward T. Creagan menyatakan bahwa belum ada bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa radiasi telepon genggam merupakan salah satu penyebab kanker.

5. Deodoran Memicu Kanker Payudara

Beberapa waktu lalu sempat beredar informasi yang menyebutkan bahwa penggunaan deodoran atau anti perspirant untuk mengurangi bau badan akibat keringat bisa memicu kanker payudara. Adapun, pemicunya adalah zat-zat tertentu seper aluminium yang terkandung dalam deodoran atau anti perspirant yang masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori kulit.

Namun, seperti dikutip dari Do Antiperspirant Cause Breast Cancer?, Canadian Cancer Society menyatakan belum ada penelitian yang berhasil membuk kan hubungan antara paparan aluminium atau zat lainnya yang terkandung dalam deodoran atau an perspirant dengan peningkatan risiko kanker payudara.

6. Wadah Plastik Menimbulkan Kanker

Banyak yang menyebut jika mengonsumsi minuman atau makanan di dalam wadah plastik yang terpapar suhu panas, tak terkecuali yang dimasukkan ke dalam microwave dapat menjadi salah satu penyebab kanker. Akan tetapi, tidak semua jenis plastik berbahaya saat dipanaskan. Tentunya jika Anda ingin menghangatkan makanan atau minuman menggunakan wadah plastik, maka pilihlah wadah yang berlabel microwave safe. Selain itu, seper dikutip dari Should I Be Concerned If Disposable Water Bottles Freeze or Overheat. Canadian Cancer Society menyebut bahwa tidak ada penelitian yang membuk kan bahwa botol plastik terpapar panas melepaskan zat karsinogenik.

7. Pengobatan Alternatif Sembuhkan Penderita Kanker

Pengobatan menggunakan obat-obatan tradisional atau herbal dari tumbuh-tumbuhan atau herbal menjadi salah satu alternatif yang banyak diminati oleh penderita kanker di Tanah Air. Alasannya tentu bermacam-macam, mulai dari harga yang lebih terjangkau hingga dianggap lebih aman lantaran kandungannya berasal dari bahan-bahan alami. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang kuat mengenai obat herbal yang mampu menyembuhkan kanker.

Menurut Ketua Formularium Nasional Iwan Dwiprahasto masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menyatakan apakah obat herbal tertentu mampu menyembuhkan kanker atau setidaknya aman dikonsumsi penderita kanker untuk mendukung proses penyembuhan. Dia meminta agar penderita kanker tidak sembarangan mengonsumsi obat-obatan herbal lantaran khasiatnya dipengaruhi oleh banyak faktor, tak terkecuali kondisi lingkungan tempat budi daya tanaman.

8. Pengobatan Kanker Menyakitkan

Kesan bahwa pengobatan kanker menyebabkan sakit muncul lantaran efek ekstrem yang terlihat pada penderita kanker saat mereka menjalani kemoterapi dan terapi radiasi. Sebagian masyarakat menganggap penanganan kanker konvensional sangat berbahaya bagi tubuh penderita serta tidak berguna atau hanya menyebabkan ketidaknyamanan.

Namun hal itu hanya mitos. Situs resmi RS Gleneagles Singapura pemahaman itu muncul lantaran kebanyakan dari penderita kanker yang masuk ke rumah sakit sudah berada pada stadium akhir sehingga memerlukan penanganan yang agresif dan menyakitkan agar memiliki peluang untuk pulih. Peluang keberhasilan penanganan konvensional pada pasien kanker lebih tinggi jika kanker berhasil didiagnosis pada stadium awal.

9. Mewarnai Rambut Berisiko Kanker

Mitos ini berangkat dari penelitian yang dilakukan pada dekade 1970-an. Saat itu, masih banyak pewarna rambut yang menggunakan bahan-bahan pemicu kanker. Seper dikutip dari situs resmi RS Gleneagles Singapura, untuk saat ini zat-zat tersebut sudah tidak lagi digunakan sebagai bahan pewarna rambut. Menurut situs itu, hingga kini tidak ada satupun penelitian terbaru yang menemukan peningkatan risiko kanker pada orang yang mewarnai rambutnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kanker

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top