Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kehilangan Indera Pencium dan Perasa, Gejala Baru Virus Corona

Namun, sebuah studi dari ENT UK, asosiasi dokter telinga, hidung, dan tenggorokan di Inggris menyebut ada gejala baru yang menunjukkan seseorang terinfeksi virus ini. Gejala tersebut yakni kehilangan indra penciuman secara total atau anosmia.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  08:36 WIB
Hidung - Istimewa
Hidung - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Gejala infeksi virus Corona atau COVID-19 berbeda-beda pada setiap orang. Mayoritas gejalanya yang muncul yakni demam, batuk, pilek, dan gangguan pernapasan.

Namun, sebuah studi dari ENT UK, asosiasi dokter telinga, hidung, dan tenggorokan di Inggris menyebut ada gejala baru yang menunjukkan seseorang terinfeksi virus ini. Gejala tersebut yakni kehilangan indra penciuman secara total atau anosmia.

Dari penelitian ENT UK, sekitar 40% kasus anosmia terjadi setelah infeksi virus berlangsung. Namun, banyak data dari pasien COVID-19 di beberapa negara menunjukkan jumlah yang signifikan anosmia menjadi salah satu gejalanya.

Mereka yang mengalami gejala ini, tidak merasakan gejala COVID-19 pada umumnya, yakni demam, batuk, dan pilek.

Jika orang yang menderita anosmia tetapi tidak memiliki gejala lain, disarankan untuk melakukan isolasi diri selama tujuh hari di rumah. "Kita mungkin dapat mengurangi jumlah individu yang asimtomatik, yang terus bertindak sebagai vektor," menurut pernyataan ENT UK dikutip dari Live Science, Selasa (24/3/2020)

Adapun kasus anosmia telah dilaporkan di Iran, AS, Prancis dan Italia utara. President of the British Rhinological Society Professor, Clare Hopkins, mengatakan empat pasien yang diperiksanya selama seminggu terakhir, tidak menunjukkan gejala selain kehilangan bau yang tiba-tiba. Semua pasien berusia di bawah 40 tahun.

"Saya pikir mungkin beberapa pasien-pasien ini menjadi hidden carrier (pembawa virus) yang telah memfasilitasi penyebaran COVID-19 secara cepat," kata Hopkins.

Bukan hanya kehilangan indra penciuman, Akademi Otolaringologi Amerika - Bedah Kepala dan Leher (Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery/AAO-HNS) di Alexandria, Virginia, pada 22 Maret 2020 menyebut, kehilangan indra pengecap (rasa) atau dysgeusia juga menjadi salah satu gejala COVID-19.

Oleh karena itu, AAO-HNS merekomendasikan kehilangan rasa dan bau ditambahkan ke daftar tanda-tanda gejala COVID-19.

Sementara itu, Dr. Hendri Streeck, Kepala Rumah Sakit Universitas Bonn di Jerman baru-baru ini mewawancarai lebih dari 100 pasien yang terinfeksi COVID-19. Mereka menemukan bahwa hampir 70% pasien kehilangan bau dan rasa selama beberapa hari.

"Sejauh ini seorang ibu tidak bisa mencium bau popok penuh anaknya. Yang lain tidak bisa lagi mencium bau sampo mereka, dan makanan mulai terasa hambar," sebutnya.

Meskipun para dokter tidak dapat mengatakan dengan pasti kapan hilangnya bau dan rasa muncul pertama kali pada pasien ini, mereka menduga bahwa gejala tersebut bermanifestasi sebagai tahap infeksi selanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top