Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diskon Merajalela, Ini Tips Agar Kantong Tetap Aman

Masyarakat harus lebih bijak mengatur kebiasaan belanja online. Bila tidak, maka kebiasaan tersebut dapat menimbulkan kebiasaan boros yang baru.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 16 April 2020  |  19:36 WIB
Ilustrasi e-commerce - CC0
Ilustrasi e-commerce - CC0

Bisnis.com, JAKARTA - Penerapan pembatasan sosial di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) tak menghentikan aktivitas jual beli masyarakat. Sebab, masyarakat masih bisa melakukannya secara online seiring banyaknya marketplace yang bermunculan.

Namun di tengah kemudahan belanja orang, efek kecanduan menjadi ancaman. Terlebih pada saat ini banyak marketplace yang menawarkan diskon menarik dan seperti sayang untuk dilewatkan.

Menurut Perencana Keuangan dari OneShildt Financial Planning, Budi Raharjo sebenarnya sah-sah saja memanfaatkan diskon atau promosi dari marketplace. Namun yang pertama harus disadari, kenali bagaimana situasi keuangan dalam beberapa waktu ke depan.

Apakah keuangan mendapatkan keuntungan dari adanya wabah atau justru sebaliknya seperti terkena dampak negatif baik berupa dirumahkan, penghasilan usaha menurun atau bahkan ada yang mengalami PHK?

Kedua, lanjut Budi yakni tetap seksama membelanjakan uang dengan mengatur prioritas. Seharusnya dengan banyak di rumah, pengeluaran banyak yang mengalami penurunan karena berkurangnya beberapa pos pengeluaran seperti pos transportasi, pos makan di luar, pos pengeluaran anak selama sekolah, rekreasi, dan sebagainya. Tentunya berarti lebih banyak surplus.

Mungkin akan lebih banyak surplus lagi jika membeli barang yang diutuhkan saat harga diskon atau promo. Namun, juga jangan kalap dan berlebihan sehingga akhirnya terjadi penimbunan yang kurang perlu. Lebih baik alokasikan kelebihan ini untuk menambah cadangan dana darurat yang dapat digunakan saat kondisi keuangan terhimpit atau juga dapat digunakan untuk menambah investasi saat kondisi keuangan negara sudah pulih.

Ketiga, masyarakat harus berhati-hati dengan kebiasaan belanja online tanpa kendali karena dapat menimbulkan kebiasaan boros yang baru dan disebut dengan impulsive buying. Tanpa sadar, timbul rasa tidak enak atau kurang bahagia ketika sedang melihat-lihat platform online tanpa melakukan transaksi. Efek kecanduan belanja online ini bisa membahayakan keuangan.

"Promosi atau diskon dapat memicu dorongan untuk belanja dan ketakutan bahwa akan kehilangan peluang. Di saat itu rasionalitas kita menurun. Ada dorongan dari dalam untuk melakukan transaksi," tutur Budi kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Dalam situasi ini, pengguna harus segera mengatasinya. Budi merekomendasikan agar pengguna tunggu beberapa saat, misalnya 2 hari, sebelum memutuskan untuk membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan walaupun sedang diskon besar.

"Biasanya jika barang yang mau dibeli bukan prioritas hasrat kita untuk membeli akan turun," sebutnya.

Cara lain, bisa dengan langsung menutup aplikasi dan uninstall platform belanja online tersebut. Hal ini kata Budi untuk melakukan "detoks" apabila dorongan hasrat terlalu kuat dan sudah menjadi kebiasaan impulsif. Jauhi sementara waktu aplikasi dan sosial media yang hanya akan membuat dorongan untuk selalu belanja.

"Ingat biasanya aplikasi memiliki push notifikasi yang dapat memicu .untuk belanja. Jadi uninstall adalah salah satu cara," tukas Budi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

belanja online online shopping Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top