Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengenal Sindrom Metabolik, Si Penghantar Penyakit Struk Hingga Jantung

Terkadang, kita merasa tubuh kita sehat-sehat saja. Namun ternyata, potensi terkena penyakit-penyakit kronis tersebut sudah ada.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 16 Juni 2020  |  19:57 WIB
Ilustrasi stroke
Ilustrasi stroke

Bisnis.com, JAKARTA - Gaya hidup tidak sehat dan pola makan yang asal berpengaruh buruk bagi kesehatan. Akibatnya, serangan penyakit kronis seperti struk, jantung, hipertensi, dan diabetes pun tak terhindarkan.

Terkadang, kita merasa tubuh kita sehat-sehat saja. Namun ternyata, potensi terkena penyakit-penyakit kronis tersebut sudah ada.

Certified Nutrition and Wellness Consultant Nutrifood, Aldis Ruslialdi mengatakan ada kondisi perantara sebelum seseorang menderita penyakit kronis. Kondisi itu disebut sindrom metabolik yang merupakan serangkaian gejala atau penanda.

Sindrom metabolik yang menjadi penanda berupa tingginya trigliserida yang merupakan salah satu jenis lemak yang banyak ditemukan di dalam darah. Kemudian, tekanan darah tinggi, lingkar perut besar atau perut buncitnya, gula darah, dan kolesterol baik yang rendah.

"Kondisi ini harus dicegah sedini mungkin. Misal punya minimal 3 gejala, sudah masuk gangguan sindrom metabolik," ujarnya dalam diskusi online yang digelar Tropicana Slim, Selasa (16/6/2020).

Dari semua gangguan tersebut, menurutnya ada satu benang merah untuk bisa mengontrol gaya hidup. Yakni obesitas atau kegemukan.

"Dengan berat badan berlebih, bisa punya peluang yang besar untuk semua gangguan metabolik sindrom," tuturnya.

Apabila berat badan bisa dikontrol dengan baik, berpeluang memperbaiki semua gangguan metabolisme. Namun kata Aldis perlu diingat, berat badan ideal belum tentu bebas dari sindrom metabolik. Perlu dilihat dari proporsi lemak.

Ada yang disebut TOFI atau thin outside, fat inside. Seseorang tampak kurus di luar namun ternyata menimbun lemak di dalam tubuhnya. "Ini bisa bahaya, banyak badan kurus tapi kalau makan tiga porsi," imbuhnya.

Untuk mengetahui apakah lemak di dalam tubuh ternyata berlebih, cukup mengukur lingkar perut. Cara mengukurnya bisa menggunakan telapak tangan. Dikatakan buncit, apabila lingkar perut lebih dari 4 jengkal.

Lebih lanjut dia menerangkan faktor risiko sindrom metabolik ada yang tidak bisa diubah dan bisa dikendalikan. Adapun yang tidak bisa diubah yakni faktor genetik, misal orang tua memiliki diabetes.

Sementara itu, faktor yang bisa diubah yakni mengubah pola makan dan berolahraga. "Untuk makanan yang meningkatkan kolesterol harus mulai dibatasi," tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penyakit kolesterol
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top