Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ilmuwan Temukan Varian Corona Baru yang Lebih Menular

Pandemi mematikan ini terus menyapu seluruh dunia dengan jumlah kasus infeksi mencapai lebih dari 11 juta kasus dan jumlah kematian lebih dari 500.000 kasus.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 07 Juli 2020  |  11:25 WIB
Petugas medis memperlihatkan sampel darah pengemudi angkutan umum saat tes cepat (Rapid Test) COVID-19 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Petugas medis memperlihatkan sampel darah pengemudi angkutan umum saat tes cepat (Rapid Test) COVID-19 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah studi dari para peneliti menemukan varian dalam virus corona baru atau Covid-19 yang mematikan dan lebih menular menular daripada yang asli.

Pandemi mematikan ini terus menyapu seluruh dunia dengan jumlah kasus infeksi mencapai lebih dari 11 juta kasus dan jumlah kematian lebih dari 500.000 kasus. Akan tetapi, para ilmuwan telah menemukan varian baru yang lebih mengerikan.

Dilansir dari Express, Selasa (7/7) mutasi dari virus SARS-CoV-2 dilaporkan telah memantapkan dirinya di seluruh dunia dan dapat menginfeksi sel manusia dengan upaya yang lebih mudah dibandingkan virus aslinya.

Hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Cell itu menemukan bahwa mutasi dengan kode D614G bisa lebih menular. Untai bermutasi tersebut ditemukan lebih umum di antara sampel virus dari Eropa dan Amerika Serikat.

Para ilmuwan dari Laboratoriun Nasional Los Alamos di New Mexico, Duke University di California, dan University of Sheffield melakukan kerja sama penelitian untuk menganalisis sekuens genom dari virus corona baru.

Mereka menemukan varian bermutasi membentuk lebih banyak spike protein, yang berarti dapat menginfeksi lebih banyak sel. Mereka menganalisis data dari 999 pasien Inggris dengan varian D614G tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa meskipun varian itu membawa lebih banyak partikel virus, itu tidak mengubah keparahan penyakit. Erica Ollmann Saphie dari La Jolla Insitute for Immunology mengatakan tampaknya virus corona menjadi lebih kuat.

Biasanya, virus berubah seiring waktu dan kesalahan acak terjadi ketika genom memproduksi dirinya sendiri. Sementara itu, Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) mengatakan masih belum pasti apakah varian itu akan memicu penyakit serius.

Adapun Nathan Grubaugh dari Yale Scholl of Public Health mengatakan mutasi tidak banyak berubah bagi kondisi manusia. Dia tidak mengharapkan D614G akan mengubah langkah kontrol yang telah dilakukan dan dapat memperburuk infeksi individu.

Para peneliti mengklaim bahwa virus corona baru dengan mutasi tersebut menyebar secara tidak sengaja di Eropa karena merupakan varian pertama yang mencapai benua lain, dari kasus pertama yang dilaporkan berasal dari Wuhan, China.

Wu Zunyou, kepala ahli epidemiologi di Chinese Center for Disease Control and Prevention mengatakan kepada CGTN bulan lalu bahwa sangat jelas terlihat jenis virus yang ada di beberapa negara berbeda dengan apa yang terjadi pada awal-awal masa pandemi.

“Strain virus adalah jenis epidemi utama di negara-negara Eropa. Jadi itu dari luar China yang dibawa ke Beijing,” katanya. China sebelumnya telah berhasil menahan laju penyebaran virus, tetapi belakangan kasusnya muncul lagi di kota Beijing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top