Ilustrasi: depresi, gangguan jiwa, gangguan kejiwaan, gangguan mental./Antara
Health

Penelitian Baru, Gangguan Mental Jadi Gejala Baru Virus Corona

Syaiful Millah
Sabtu, 25 Juli 2020 - 16:38
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 masih berlangsung di seluruh dunia. Hingga hari ini, virus corona baru itu telah menginfeksi lebih dari 15 juta orang dan menewaskan sekitar 600.000 orang secara global.

Ilmuwan dari berbagai negara terus melakukan penelitian untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang virus corona jenis baru tersebut. Secara umum, virus diketahui telah memengaruhi paru-paru dan saluran udara.

Dilansir dari Express, Sabtu (25/7) sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa virus itu tak hanya menyerang bagian pernapasan, tetapi dapat memengaruhi bagian-bagian lain dari tubuh manusia seperti otak.

Data dari aplikasi Covid Symptom Study, yang telah menganalisis data pada lebih dari 4 juta peserta menunjukkan bahwa pasien dengan virus corona baru ini seringkali menderita delirium, atau keadaan kebingungan akut dan disorientasi.

Untuk menyelidiki gejala lebih lanjut, para peneliti dari King’s College London berbicara dengan ahli geriatri konsultan Claire Steves. Dia menjelaskan bahwa delirium merupakan keadaan bingung akut yang dapat terjadi pada penyakit medis apa pun yang parah.

“Misalnya, penderita alzheimer atau demensia lebih sering mengalami delirium. Akan tetapi itu juga bisa terjadi ketika orang tidak memiliki masalah latar belakang kesehatan parah,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa kendati belum banyak dilaporkan, tetapi orang dengan infeksi virus corona baru atau penyakit Covid-19 juga seringkali mengalami delirium.

Untuk menyelidiki prevalensi gejala, Steves dan tim memasukkan pertanyaan sederhana dalam aplikasi Covid Symptom Study, dengan pertanyaan seperti ini “Apakah Anda merasakan kebingungan, disorientasi, atau kantuk?”.

“Kami menemukan bahwa itu adalah gejala yang cukup umum, terutama pada orang tua yang lemah. Delirium lebih sering terjadi pada mereka yang dites positif daripada mereka yang negatif terkait Covid-19,” ujarnya.

Data dari aplikasi itu juga mengungkapkan bahwa jika pasien mengalami delirium, maka pasien tersebut lebih mungkin dirawat di rumah sakit, dan lebih membutuhkan bantuan alat pernapasan seperti ventilator.

Studi lain juga menemukan bahwa sekitar 20 persen orang dirawat di rumah sakit dan 60 persen dalam perawatan intensif dengan Covid-19 menderita kebingungan.

Steves mencurigai bahwa virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit ini dapat memasuki sel-sel saraf di otak dan mengganggu sistem kerja sehingga menyebabkan gejala-gejala pada kondisi mental seperti delirium.

Gagasan bahwa virus corona baru mungkin menyerang sel-sel saraf didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa kehilangan bau (anosmia) yang dialami oleh beberapa pasien, juga disebabkan oleh virus yang memasuki sel saraf penciuman di bagian belakang hidung.

Adapun, delirium juga dikaitkan dengan hipoksia, yakni ketika tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen, yang dapat dikaitkan dengan kerusakan paru-paru dan pembekuan darah yang disebabkan oleh adanya virus.

Akan tetapi, dokter-dokter yang bekerja dengan pasien telah memperhatikan bahwa pasien Covid-19 mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda adanya hipoksia. Hanya saja, pengaruhnya terhadap sel otak bukan tidak mungkin dan merupakan gejala umum yang banyak ditemukan.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro