Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hindari Monopoli, WHO dan World Bank Diminta Terlibat dalam Distribusi Vaksin Covid-19

Oleh sebab itu, dia mencoba memberikan pendapat tentang bagaimana vaksin Covid-19 nantinya bisa diberikan secara adil kepada seluruh negara di dunia, termasuk negara-negara berkembang dan negara miskin yang selama ini dikhawatirkan bakal terlambat menerima vaksin.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 12 Agustus 2020  |  11:25 WIB
Ilustrasi vaksin virus corona - istimewa
Ilustrasi vaksin virus corona - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Robin Shattock, ilmuwan terkemuka dari Imperial University telah memperingatkan bahwa negara-negara kaya bisa jadi melakukan monopoli terhadap vaksin virus corona baru.

Oleh sebab itu, dia mencoba memberikan pendapat tentang bagaimana vaksin Covid-19 nantinya bisa diberikan secara adil kepada seluruh negara di dunia, termasuk negara-negara berkembang dan negara miskin yang selama ini dikhawatirkan bakal terlambat menerima vaksin.

Menurutnya, organisasi internasional seperti World Health Organization (WHO) bisa menjadi pihak berwenang yang dapat bertindak guna mengurangi kesenjangan yang mungkin timbul terkait vaksin corona.

Sebagaimana diketahui, pandemi virus corona baru telah menjangkit ke lebih dari 120 negara di seluruh dunia. Jumlah orang yang terinfeksi sudah mencapai lebih dari 20 juta orang dan penyakit yang ditimbulkannya tak bisa dianggap enteng. Maka, vaksin menjadi alat penting yang dibutuhkan.

“Saya kira sudah ada kekhawatiran bahwa negara-negara kaya mungkin dapat memonopoli pemberian dosis vaksin untuk negara mereka sendiri, sebelum negara-negara yang kurang mampu dapat mengakses teknologi tersebut,” katanya seperti dikutip Express, Rabu (12/8).

“Saya pikir akan ada peran yang sangat penting bagi lembaga seperti World Bank dan WHO untuk terlibat dan memastikan bahwa vaksin tersedia secara global. Ini seharusnya tidak diprioritaskan oleh ukuran ekonomi saja,” imbuhnya.

Dia membandingkan upaya pendistribusian vaksin dunia dengan upaya domestik di Inggris. Menurutnya, negara tersebut sudah sangat praktis dalam hal ini karena juga memiliki layanan kesehatan yang memadai dan berkualitas.

Inggris menjalankan pendistribusian vaksin melalui lembaga negara National Health Services, “Saya dapat membayangkan dengan baik bahwa akan ada beberapa dorongan inovatif untuk memiliki pusat vaksinasi yang dapat memvaksin sebanyak mungkin orang,” katanya.

Dia menambahkan bahwa akan ada cukup vaksin di wilayah Inggris, misalnya melalui dosis vaksin Oxford yang sedang dikembangkan. Akan tetapi, lanjutnya, hal tersebut bagaikan tetesan air di lautan jika melihat gambaran kesehatan global.

Sementara itu, baik Imperial maupun Oxford hingga kini belum mengkonfirmasi vaksin yang berhasil dan aman digunakan, kendati keduanya sudah memasuki uji klinis pada manusia. Negara pertama yang menyetujui vaksin adalah Rusia.

Pemimpin Rusia Vladimir Putin mengatakan vaksin yang dikembangkan dalam lingkup lokal telah diberi persetujuan peraturan setelah kurang dari 2 bulan dilakukan pengujian pada manusia. Tindakan tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan dan reputasi sains.

Namun demikian, Rusia mengklaim bahwa vaksin mereka telah melewati semua pemeriksaan yang diperlukan dan akan mulai didistribusikan secara massal pada Oktober mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksin Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top