Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Vaksin Merah Putih Diprediksi Siap Edar Tahun Depan

Peneliti LBM Eijkman, R. Tedjo Sasmono memproyeksikan pada pertengahan2021, vaksin Merah Putih bisa dipasarkan secara luas.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 03 September 2020  |  12:59 WIB
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menyebut Indonesia kemungkinan akan memiliki vaksin virus Corona sendiri pada 2021. Saat ini lembaga tersebut tengah mengembangkan vaksin yang diberi nama Merah Putih. 

Peneliti LBM Eijkman, R. Tedjo Sasmono memproyeksikan pada pertengahan2021, vaksin Merah Putih bisa dipasarkan secara luas. Sebelumnya dikatakan uji klinis pada hewan akan rampung pada akhir tahun ini. 

"Kami memproyeksikan pertengahan tahun depan sampai akhir tahun depan, setelah uji klinis. Secara teknis, ada preklinis dan klinis. Kami akan mempercepat fase preklinis dengan mitra kami Bio Farma, misalnya dalam produksi protein, karakterisasi di hewan coba, itu dilakukan secara paralel, jadi lebih cepat," ujar Tedjo dalam Media Briefing 'Dukungan untuk Percepatan Penelitian Vaksin Covid-19', yang digelar Merck Indonesia, Kamis (3/9/2020).

Tedjo menambahkan percepatan juga bisa dilakukan oleh regulator, dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 

Sejauh ini dalam situasi normal, uji klinis yang terdiri atas Tahap 1, Tahap 2, dan Tahap 3, bisa dilakukan bertahun-tahun atau paling cepat 1 tahun. Namun, lanjut Tedjo, dalam masa pandemi ketiga fase tersebut bisa dilakukan secara lebih cepat dan tidak perlu berurutan.

"Aturan WHO juga ada yang bisa memfasilitasi perkembangan uji klinis pada masa pandemi," tegasnya. 

Dalam pengembangan vaksin Merah Putih, LBM Eijkman membeberkan ada 8 tahapan yang perlu dilalui.

Berikut tahapannya:

Tahap 1, dilakukan pemetaan genetik virus SARS-CoV-2 di Indonesia. Pada tahap ini, virus yang menjadi bahan dasar penelitian diisolasi dari spesimen pasien dan dilakukan ekstraksi genom RNA penyandi protein virus.

Tahap 2, dilakukan isolasi dan amplifikasi gen S dan N pada virus SARS-CoV-2. Gen yang mengkode protein S (spike protein/ gen S) dan nucleocapsid (gen N) diisolasi dan diperbanyak dengan menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR).

Tahap 3, kloning gen target ke dalam vektor dan verifikasi sekuens gen target. Gen target dimasukkan ke dalam vektor dan bila sudah berhasil dimasukkan akan diverifikasi dengan menggunakan teknik sekuensing.

Tahap 4, memasukkan vektor dengan gen virus SARS-CoV-2 ke dalam sel mamalia. Pada tahap ini vektor dimasukkan ke dalam sel-sel mamalia dengan tujuan untuk mengekspresikan gen target dan menghasilkan antigen.

Tahap 5, menghasilkan antigen (kandidat vaksin). Antigen adalah zat atau senyawa yang merangsang respons imun (kekebalan tubuh) dengan terbentuknya antibodi. Dalam kondisi yang tepat, sel-sel mamalia dapat menghasilkan antigen virus SARS-CoV-2.

Tahap 6, perbanyakan dan pemurnian antigen. Tujuan dari perbanyakan dan pemurnian ini untuk memperoleh antigen target dalam jumlah besar dan memisahkan/menghilangkan zat atau senyawa yang tidak dibutuhkan dalam pembuatan vaksin, sehingga didapatkan antigen yang murni tidak terkontaminasi zat lain. Proses ini biasanya memakan waktu lama dan melibatkan banyak pengujian untuk kemurnian.

Tahap 7, uji klinis. Untuk memastikan vaksin berpotensi sesuai harapan, maka vaksin diuji coba pada hewan. Uji ini untuk menilai keamanan kandidat vaksin dan menentukan dosis.

Selanjutnya masuk tahap uji klinis pada manusia untuk melihat apakah ada efek samping akibat vaksin dan menilai kemanjuran (efikasi) pada populasi uji yang lebih besar.

Tahap 8, skala produksi vaksin. Setelah melalui tahapan uji klinis dan terbukti berhasil, vaksin diajukan atau didaftarkan ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk penilaian sebagai syarat untuk disetujui penggunaannya secara masif

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksin eijkman covid-19
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top