Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sekolah Kedokteran Singapura dan Australia Kembangkan Vaksin Corona

Kali ini vaksin virus corona dibuat dengan menggabungkan antibodi yang menargetkan bagian sistem kekebalan dengan antigen.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 21 September 2020  |  15:17 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Para peneliti dari National University of Singapore (NUS) dan Monash University di Australia sedang mengembangkan vaksin Covid-19 yang siap untuk uji klinis pada akhir tahun depan.

Vaksin yang dimodifikasi dari obat kanker, telah menjalani penelitian pada hewan, dan para peneliti berharap dapat melakukan uji klinis di Singapura dan Australia. Diberi nama Clec9A-RBD, ini adalah vaksin virus corona ketiga yang dikembangkan Singapura.

Dikenal sebagai vaksin protein fusi, vaksin ini dibuat dengan menggabungkan antibodi yang menargetkan bagian sistem kekebalan dengan antigen, yang menginduksi respons kekebalan untuk melindungi dari patogen yang dipilih.

Dengan demikian, Mireille Lahoud, peneliti dari Monash University menyebut para ilmuwan dapat mengandalkan antibodi yang sama untuk melawan penyakit yang berbeda hanya dengan mengganti antigen yang melekat padanya.

Dikutip dari Strait Times, Senin (21/9/2020) dia mengatakan bahwa antibodi dalam Clec9A-RBD sebelumnya telah digunakan untuk membuat vaksin guna melawan berbagai penyakit seperti kanker, influenza, dan penyakit tangan, kaki, dan mulut.

Jadi ketika pandemi melanda pada Februari, dia dan dua peneliti lainnya memutuskan untuk menggunakannya untuk membuat vaksin yang dapat melawan Covid-19. Vaksin tersebut menargetkan bagian tertentu dari sistem kekebalan yang dikenal sebagai sel dendritik.

Sel-sel ini "mengambil contoh" bagian-bagian lingkungan di sekitarnya dan menandai bahaya bagi sistem kekebalan lainnya. Para peneliti mengembangkan protein yang mengikat reseptor pada sel-sel ini, mengajarkan sistem kekebalan untuk melawan Sars-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19.

Sylvie Alonso dari departemen mikrobiologi dan imunologi di NUS Yong Loo Lin School of Medicine menyebut ada tiga hal utama yang membedakan vaksin ini dengan vaksin lainnya yang sedang dikembangkan.

Pertama, vaksin ini sangat baik dalam menstimulasi sistem kekebalan yang lemah pada orang tua. Dijelaskan bahwa hal ini dikarenakan sel dendritik yang ditargetkannya hadir dalam jumlah yang signifikan pada manusia sepanjang umurnya.

Ini berarti bahwa vaksin yang menargetkan sel-sel tersebut kemungkinan besar akan sama efektifnya pada orang tua seperti halnya pada anak muda. Ini didukung oleh model hewan yang telah dijalankan oleh tim, dengan tingkat antibodi yang tinggi yang diamati pada tikus tua dan muda yang disuntik vaksin.

Kedua, setiap vaksin hanya membutuhkan satu dosis dan sedikit antigen karena sistem pengiriman yang ditargetkan. Alonso menjelaskan biasanya ketika orang menyuntikkan vaksin, ini seperti menunggu sistem kekebalan menangkap hal tersebut. Dalam vaksin ini, kerjanya seperti mengirimkan melalui email langsung ke sel tujuan.

"Ini adalah atribut yang penting dalam situasi pandemi di mana Anda perlu menghasilkan jutaan dosis ... satu suntikan juga berarti orang tersebut tidak harus kembali untuk kedua kalinya untuk mendapatkan dosis lain."katanya.

Dia menambahkan bahwa salah satu kegagalan vaksin multi-suntikan adalah bahwa orang yang telah disuntik dengan dosis pertama mungkin merasa bahwa mereka telah diberikan perlindungan dari virus dan tidak kembali untuk suntikan penting kedua atau ketiga.

Ketiga, karena sifatnya sebagai vaksin protein fusi, Clec9A-RBD berpotensi dapat diadaptasi untuk melawan tidak hanya Sars-CoV-2, tetapi juga mutasi virus corona dan penyakit baru lainnya di masa depan.

Alfonso mengatakan strategi ini harus dilihat sebagai platform plug=and-go yang dapat dengan cepat digunakan untuk mengatasi setiap ancaman yang datang, “Saya berharap ada vaksin untuk Covid-19, tapi juga untuk mengembangkannya sehingga kami dapat membuktikan di masa depan,” katanya.

Para peneliti saat ini sedang mencari persetujuan dan pendanaan untuk melanjutkan penelitian mereka, dan bermaksud untuk mendekati otoritas kesehatan di kedua negara dalam beberapa bulan mendatang agar penelitian terus berlanjut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Vaksin Virus Corona Fakultas Kedokteran
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top