Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gejala Virus Corona MIS-C pada Anak Sulit Terdeteksi

Terbatasnya kualitas tenaga kesehatan dan sarana rumah sakit menjadi tantangan bagi anak-anak yang terinfeksi virus corona (Covid-19).
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 September 2020  |  09:32 WIB
Anak Sakit - boldsky.com
Anak Sakit - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi virus corona (Covid-19) yang belum berakhir menimbulkan rasa khawatir, termasuk pada anak-anak untuk keluar rumah karena takut terinfeksi virus.

Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Hermina Pasteur, Bandung, Dadang Hudaya Somasetia mengatakan gejala terinfeksi virus corona Covid-19 Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C) di Indonesia tergolong kurang terekspos. Dia mengungkapkan bahwa hal tersebut karena keterbatasan mulai dari sumber daya manusia (SDM) sampai dengan sarananya.

"Indonesia termasuk negara dengan keterbatasan sarana dan prasarana kesehatan (limited resources county). Mulai dari orang yang memeriksanya belum memahami MIS-C karena penyakit baru, belum tersosialisasi secara luas. Kasus yang satu ini dirujuk dengan nyeri perut dan syok atau renjatan," ungkapnya seperti dikutip dari Tempo, Selasa (22/9/2020).

Bila pakai BPJS Kesehatan, kata Dadang, maka deteksi dari sarana laboratorium sangat terbatas. Dia juga mengatakan alat pendeteksi penyakitnya terbatas, serta sarana seperti laboratorium, alat USG, dan Echocardiografi.

Dia mengatakan bahwa rumah sakit di Indonesia masih kekurangan sarana perangkat pendeteksi penyakit dan prasarana. Adapun dana untuk pemeriksaan penegakan diagnosa juga terbatas. “Jika pasien dijamin BPJS pun, dananya tidak mencukupi untuk pemeriksaan lengkap penyakit tersebut.”

Secara gamblang, Dadang mengaku harus memilih dan memilah mana pemeriksaan yang bisa dan tidak bisa dikerjakan berdasarkan skala prioritasnya. Selain itu, dengan keterbatasan sistem pencatatan dan pelaporan, secara umum di Indonesia sulit mendapatkan data lengkap penyakit.

"Semua hal tersebut bisa memunculkan fenomena gunung es atau iceberg phenomenon, hanya sedikit yang ketahuan, padahal kasusnya banyak," tutur Dadang.

Dadang mengungkapkan di rumah sakit swasta memiliki masalah yang berbeda yakni biaya pengobatannya yang sangat mahal, karena perlu diberikan transfusi imunoglobulin intravena.

Saat ini MIS-C yang mirip dengan penyakit Kawasaki terdeteksi pada seorang pasien anak di Rumah Sakit Hasan Sadikin, yang cocok dengan gejalanya, sekitar tiga bulan yang lalu. Gejala tersebut pertama kali dilaporkan di Inggris, di mana telah menjangkit anak-anak terutama kulit putih.

Gejalanya yang cukup khas, yaitu adanya tanda inflamasi ekstrem-peradangan berat (diketahui dari pemeriksaan laboratotium), demam (3-5 hari), nyeri perut, muntah dan/atau mencret.

Tanda dan gejala MIS-C bisa muncul 3-4 minggu sesudah kena infeksi Covid-19, baik Covid-19 tanpa gejala atau sakit ringan sehingga tidak ketahuan. "Anak tidak perlu menunjukkan gejala umum Covid-19, seperti demam, batuk dan sesak," ujar Dadang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak Virus Corona Gejala Penyakit covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top