Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Punya 50 Juta Dosis Vaksin Corona Sebelum Digunakan

Pemerintah AS telah berinvestasi di perusahaan vaksin tuntuk mendapatkan akses cepat ke produk vaksin virus corona.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  20:42 WIB
Botol vaksin CoronaVac SARS-CoV-2 Sinovac ditampilkan di acara media di Beijing, China, pada 24 September.  - Bloomberg\\r\\n
Botol vaksin CoronaVac SARS-CoV-2 Sinovac ditampilkan di acara media di Beijing, China, pada 24 September. - Bloomberg\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Anthony Fauci memastikan produksi vaksin tetap berjalan walaupun belum dipastikan penggunaannya.

Diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) diprediksi tidak akan mengeluarkan izin vaksin Covid-19 dalam waktu dekat.

Namun Fauci menyebut antara Moderna dan Pfizer, AS tetap berencana menyediakan akses 50 juta dosis vaksin pada akhir 2020, dengan asumsi setiap orang menerima dua dosis untuk kekebalan maksimum, itu cukup untuk memvaksinasi 25 juta orang Amerika atau kurang dari 10 persen populasi AS. Tetapi sampai FDA memberikan lampu hijau, dosis tersebut harus disimpan dalam penyimpanan dingin.

Melansir Quartz, CEO Pfizer Albert Bourla menyatakan bahwa perusahaanya telah membuat ratusan ribu dosis kandidat vaksin Covid-19. Dia berharap dapat memiliki 30 juta hingga 40 juta dosis yang siap dikirim ke AS pada akhir tahun, dengan rencana mencapai 100 juta pada Maret 2021.

Sementara itu, Tal Zaks, kepala petugas medis Moderna hari ini mengatakan pihaknya berharap bisa memberikan 20 juta dosis calon vaksin buatannya ke AS pada akhir tahun ini.

Pemerintah AS telah berinvestasi di kedua perusahaan tersebut untuk memastikan akses cepat ke produk mereka jika terbukti aman dan efektif. Mereka telah mengeluarkan hampir US$2 miliar untuk Pfizer melalui Operation Warp Speed, dan hampir US1 miliar untuk Moderna melalui investasi di Biomedical Advanced Research and Development Authority.

Kedua perusahaan sedang menyelesaikan uji klinis tahap akhir mereka, tetapi belum membagikan data yang memeriksa profil keamanan dan kemanjuran vaksin tersebut.

Sementara itu, AS juga berinvestasi di Johnson & Johnson, AstraZeneca, dan Novovax, yang juga meningkatkan produksi vaksin. Namun Pfizer dan Moderna telah membuat kemajuan paling besar dalam uji coba fase 3 mereka.

Saat ini, uji coba fase 3 Novovax telah ditunda hingga bulan depan, dan Johnson & Johnson serta AstraZeneca baru saja mendapat izin untuk melanjutkan uji coba fase 3 mereka minggu lalu setelah berhenti untuk menyelidiki kemungkinan reaksi merugikan dan berbahaya.

Di sisi lain, produsen obat gelisah tentang kemacetan produksi yang dapat terjadi segera setelah vaksin selesai. Setiap vaksin dalam pipa memerlukan pengaturan pabrik dan peralatannya sendiri. Ruang dan perlengkapan adalah sumber daya yang terbatas, bahkan setelah seorang kandidat melewati rintangan uji klinis fase 3, pabrik-pabrik ini dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memenuhi permintaan.

Inisiatif Operation Warp Speed dari AS membeli 300 juta dosis vaksin Covid-19 potensial untuk mengantisipasi kemacetan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Vaksin Virus Corona Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top