Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pandemi Virus Corona Jadi Pukulan Terbesar bagi Kesehatan Mental Sejak Perang Dunia Kedua

Kematian orang-orang yang dikasihi dan pengangguran akibat pandemi telah mengguncang kesehatan mental masyarakat.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 29 Desember 2020  |  12:08 WIB
Pandemi virus corona (Covid-19) telah menyebabkan gangguan kesehatan mental terbesar bagi dunia, setelah perang dunia II./Ilustrasi Depresi - Istimewa
Pandemi virus corona (Covid-19) telah menyebabkan gangguan kesehatan mental terbesar bagi dunia, setelah perang dunia II./Ilustrasi Depresi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Psikiater ternama mengatakan bahwa pandemi virus corona baru bisa menjadi pukul terbesar bagi kesehatan mental sejak peristiwa Perang Dunia Kedua.

Dilansir dari Metro UK, Selasa (29/12/2020) Adrian James, Presiden Royal College of Psychiatrists mengatakan bahkan ketika virus sudah cukup terkendali, akan ada konsekuensi jangka panjang yang mendalam.

“[Pandemi] ini mungkin merupakan pukulan terbesar bagi kesehatan mental sejak Perang Dunia Kedua. Dan itu tidak berhenti ketika virus terkendali atau hanya ada sedikit orang di rumah sakit. Kita harus menandai konsekuensi jangka panjang,” katanya.

Dia melanjutkan kematian orang yang dicintai akibat virus corona, ditambah dengan pengangguran massal serta efek sosial dari lockdown berkepanjangan telah terpatri dan merupakan peristiwa yang dialami oleh banyak masyarakat.

Lembaga amal kesehatan mental bernama Mind menggambarkan situasi Natal tahun ini sebagai darurat kesehatan mental. Mereka menambahkan bahwa 2020 telah menjadi tahun kecemasan dan ketidakpastian serta lebih banyak orang yang membutuhkan daripada sebelumnya.

Lembaga kesehatan mental tersebut pada November lalu mengatakan bahwa lebih banyak orang yang mengalami krisis kesehatan mental selama pandemi virus corona berlangsung, daripada peristiwa lain yang pernah tercatat sebelumnya.

Menurut Mind, ada peningkatan 15 persen dalam rujukan mendesak orang yang menderita krisis kesehatan mental dari Maret hingga Juli tahun ini. Sekitar 2.276 rujukan mendesak lebih banyak dilakukan pada Juli dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

Adapun menurut UK Centre for Mental Health sekitar 8,5 juta orang dewasa dan 1,5 juta anak membutuhkan dukungan baru atau tambahan sebagai akibat dari pandemi Covid-19. Artinya ada sekitar 10 juta orang yang mengalami krisis kesehatan mental.

Selama lockdown pertama di Inggris, Mind menemukan 60 persen orang menyatakan kesehatan mental mereka memburuk, tetapi sepertiga di antaranya tidak mencari bantuan karena percaya bahwa masalah mereka tidak cukup serius.

Sementara itu, Joe Rafferty, ketua Zero Suicide Alliance (ZSA) dan kepala eksekutif di Marsey Care NHS Foundation Trust – organisasi kesehatan mental dan komunitas terbesar di Merseyside – mengatakan bahwa mereka semakin sibuk dari minggu ke minggu selama masa pandemi.

“Seringkali, kami tidak memiliki tempat tidur dan kami harus bekerja sangat keras untuk memastikan kami dapat mengeluarkan pasien untuk membawa masuk pasien lain. Itu tantangan yang sangat berat,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona perang dunia ii pandemi corona kesehatan mental
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top