Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Begini Cara Orang Berkepribadian Gelap Merespons Pandemi Virus Corona

Orang memiliki ciri kepribadian gelap, berjuang secara emosional dengan konsekuensi terhadap pergolakan sosial saat pandemi.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  09:57 WIB
Orang yang berkepribadian gelap menghadapi masa-masa sukar selama pandemi virus corona. - Antara
Orang yang berkepribadian gelap menghadapi masa-masa sukar selama pandemi virus corona. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Tidak terlalu mengejutkan bahwa orang-orang menanggapi dampak pandemi Covid-19 dengan cara yang berbeda-beda. Akan tetapi, penelitian baru menunjukkan ada perbedaan yang besar dalam cara orang dengan ciri kepribadian tertutup atau gelap (dark) bereaksi terhadap pandemi.

Ciri-ciri kepribadian gelap ini termasuk narsisme, psikopat, dan sadisme yang dijelaskan dalam ilmu psikologi sebagai dark tetrad. Mayoritas karakteristik dalam kepribadian ini umumnya terkait dengan hasil sosial yang negatif.

Dilansir dari Express UK, Selasa (5/1/2020) sebuah penelitian ilmiah kecil menunjukkan bahwa ciri-ciri kepribadian seperti itu dapat membantu memprediksi bagaimana individu menanggapi krisis global seperti pandemi Covid-19 saat ini.

Setelah memantau 402 warga Amerika Serikat berusia 18-78 tahun, para peneliti dari University of Mississippi menemukan adanya perbedaan yang terlihat jelas terkait dengan ciri-ciri orang dengan kepribadian kelam tersebut.

Para penulis mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa selama tahap awal pandemi di Amerika Serikat, orang dengan dark personality memprediksi respons kognitif dan emosional secara berbeda terhadap pandemi.

Jawaban ini didapatkan dengan meminta peserta mengisi kuesioner daring yang merinci pikiran, perasaan, dan perilaku mereka selama pandemi virus corona. Ciri kepribadian gelap mereka kemudian diberi peringkat menggunakan pengukuran Dirty Dozen dan tes Assessment of Sadistic Personality.

Mereka yang memiliki ciri kepribadian lebih gelap berjuang secara emosional dengan konsekuensi pergolakan sosial yang menyertai pandemi. Namun, penelitian menemukan mereka sebenarnya melaporkan efek sangat positif sebagai tanggapan terhadap Covid-19.

“Mungkin orang-orang ini memperoleh kesenangan dari peristiwa yang secara umum dianggap memiliki dampak negatif pada masyarakat, kata penulis penelitian.

Penelitian ini melibatkan pelaporan diri dan jawaban biner ‘ya’ atau ‘tidak’, yang berarti lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mencapai kesimpulan kategoris. Peneliti juga menggarisbawahi bagaimana mereka yang terlibat dalam penelitian bukanlah narsisis klinis atau sadis, tapi hanya memiliki beberapa sifat itu.

Namun, studi ini diakui menawarkan wawasan penting bagaimana berbagai kepribadian menanggapi pergolakan sosial. Para peneliti juga memeriksa bagaimana tipe kepribadian mengembangkan perilaku mereka sebagai respons terhadap pandemi virus corona baru.

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada ciri-ciri kepribadian gelap yang dapat menjadi prediktor perilaku menimbun. Mereka yang memiliki sifat narsistik atau psikopat cenderung tidak melakukan perilaku higienis secara teratur, seperti pembersihan sistematis.

Semakin tinggi skor orang tersebut dalam hal narsisme dan psikopat, semakin sedikit mereka berkorelasi dengan perilaku hidup sehat dan bersih.

Sementara itu, lebih banyak orang berkarakter machiavellian dengan sifat lebih gelap juga takut tertular virus corona dan mereka yang memiliki sifat narsistik tampaknya berpartisipasi dalam perilaku membantu masyarakat yang terkena pandemi.

Meskipun ini terlihat tampak kontra-intuitif, peneliti mengkonfirmasi bahwa hal ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang menemukan narsisis dapat mengambil bagian dalam perilaku prososial untuk menerima persetujuan dari orang lain.

Dua penelitian sebelumnya yang diterbitkan tahun lalu mengkonfirmasi beberapa ciri kepribadian gelap dapat memprediksi seberapa besar kemungkinan orang mengikuti saran kesehatan masyarakat, seperti menjaga jarak dan mengenakan topeng.

Dan pada catatan positif, sebagian besar peserta mengatakan bahwa mereka sudah terlibat dalam social distancing, sering mencuci tangan, menghindari perjalanan dan pertemuan langsung. Para peneliti berpendapat perbedaan ini mungkin karena pandemi adalah situasi yang kuat di mana isyarat situasional mengalahkan peran kepribadian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stres Virus Corona Depresi Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top