Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Studi : Ganja Picu Migrain Kronis Kambuh

Sakit kepala berulang yang juga dikenal sebagai sakit kepala akibat penggunaan obat-obatan (MOH), terjadi ketika seseorang yang sudah memiliki gangguan sakit kepala seperti migrain kronis, mengalami sakit kepala jenis baru atau sakit kepala yang sudah ada secara signifikan memburuk dari waktu ke waktu.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 02 Maret 2021  |  11:42 WIB
Ilustrasi - Healthmeup
Ilustrasi - Healthmeup

Bisnis.com, JAKARTA - Produk dari cannabis atau tanaman ganja ditengarai memicu sakit kepala berulang apabila dikonsumsi pada orang dengan migrain kronis. Hal ini didasari pada sebuah studi dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford.

Sakit kepala berulang yang juga dikenal sebagai sakit kepala akibat penggunaan obat-obatan (MOH), terjadi ketika seseorang yang sudah memiliki gangguan sakit kepala seperti migrain kronis, mengalami sakit kepala jenis baru atau sakit kepala yang sudah ada secara signifikan memburuk dari waktu ke waktu. Menurut International Classification of Headache Disorders (ICHD 3) ini bisa dipicu karena minum obat sakit kepala terlalu sering.

Diagnosis formal sakit kepala berulang berarti bahwa seseorang secara teratur menggunakan satu atau lebih obat secara berlebihan untuk mengobati sakit kepala mereka selama lebih dari tiga bulan.

Biasanya penderita minum obat penghilang rasa sakit atau antimigrain lebih dari dua atau tiga hari seminggu. Selain itu, orang yang didiagnosis akan mengalami sakit kepala selama 15 hari atau lebih setiap bulan. Sakit kepala berulang biasanya sembuh jika pasien berhenti menggunakan obat secara berlebihan.

Sakit kepala ini mempengaruhi sekitar 1-3 persen orang pada populasi umum dan hampir sepertiga dari pasien yang mencari pengobatan untuk sakit kepala di klinik khusus, seperti Pusat Sakit Kepala Stanford.

Asisten Profesor Klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford Dr. Niushen Zhang mengatakan dalam studi baru yang dilakukan ditemukan bahwa orang dengan migrain kronis enam kali lebih mungkin mengalami sakit kepala berulang jika mereka menggunakan ganja, dibandingkan dengan pasien migrain yang tidak menggunakan obat tersebut. Para ilmuwan akan mempresentasikan penelitian yang tidak dipublikasikan di Pertemuan Tahunan ke-73 American Academy of Neurology, yang akan diadakan secara virtual pada April.

"Studi ini menunjukkan bahwa ada semacam hubungan antara penggunaan ganja dan sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan pada orang dengan migrain kronis," kata Zhang, penulis utama penelitian ini seperti dilansir dari Live Science, Selasa (2/3/2021).

Namun, penelitian ini masih dalam tahap awal dan tidak jelas saat ini apakah pasien menggunakan ganja untuk mengobati sakit kepala akibat penggunaan obat atau ganja berkontribusi pada pengembangan sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan, atau keduanya. 

Menurut Zhang penelitian lanjutan diperlukan untuk menentukan apakah ganja berkontribusi pada munculnya sakit kepala berulang dan jika demikian, apa artinya bagi mereka yang menderita migrain kronis. "Masih terlalu dini untuk memberikan rekomendasi klinis berdasarkan temuan saat ini," tambah Zhang.

Zhang dan rekannya meluncurkan penelitian mereka setelah memperhatikan bahwa sejumlah pasien mereka dengan migrain kronis menggunakan produk ganja. Karena hanya ada sedikit penelitian tentang penggunaan ganja dan gangguan sakit kepala ini, tim memutuskan untuk mengeksplorasi hubungan tersebut lebih lanjut.

"Penelitian kami adalah yang pertama dari jenisnya untuk menilai risiko sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan pada pasien migrain kronis yang menggunakan ganja," kata Zhang.

Tim mengambil data dari Alat Penemuan Kelompok Repositori Penelitian Stanford, mengumpulkan informasi tentang pasien migrain kronis yang dirawat antara 2015 dan 2019. Mereka termasuk 368 orang dewasa yang telah mengalami migrain kronis selama setidaknya satu tahun; 150 dilaporkan menggunakan produk ganja, dan 218 tidak menggunakan apapun.

Tim kemudian menilai pasien mana yang telah didiagnosis dengan MOH dengan mempertimbangkan variabel lain, seperti seberapa sering mereka terkena migrain, berapa lama mereka telah menggunakan ganja, kapan mereka didiagnosis dengan MOH dan obat lain apa yang mereka minum untuk sakit kepala.

Mereka menemukan bahwa 212 pasien menderita MOH, dan pasien yang melaporkan penggunaan ganja jauh lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan tersebut. Ada juga hubungan yang signifikan antara penggunaan ganja, penggunaan opioid dan sakit kepala berulang."Beberapa pasien dalam penelitian ini yang menggunakan ganja juga mengonsumsi, atau memiliki riwayat mengonsumsi opioid," beber Zhang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ganja sakit kepala
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top