Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Usmar Ismail dan Industri Film Indonesia Saat Ini

Salah satunya karya film buatannya adalah Darah dan Doa (1950) yang merupakan tonggak pembaharuan pembuatan film Indonesia. Usmar seolah menegaskan pembuatan film tidak tergantung pada soal komersial belaka, melainkan hasil karya seni yang bebas dan mencerminkan kepribadian nasional.
Luke Andaresta
Luke Andaresta - Bisnis.com 28 April 2021  |  14:50 WIB
Ilustrasi film - Istimewa
Ilustrasi film - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA- Menyimak sejarah Perfilman Nasional, tidak bisa mengabaikan Usmar Ismail. Sutradara, penulis skenario, dan produser kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat, 20 Maret 1921 ini dipandang telah meletakkan dasar yang kuat bagi kelahiran dan perkembangan film Indonesia.

Salah satunya karya film buatannya adalah Darah dan Doa (1950) yang merupakan tonggak pembaharuan pembuatan film Indonesia. Usmar seolah menegaskan pembuatan film tidak tergantung pada soal komersial belaka, melainkan hasil karya seni yang bebas dan mencerminkan kepribadian nasional.

Mengenang 100 tahun kelahiran Usmar, Rumata Artspace bersama beberapa praktisi dan kritikus film mencoba untuk mendiskusikan kembali sekaligus merefleksikan apa yang telah Umar lakukan pada masa itu dan pengaruhnya pada industri perfilman sampai saat ini. Diskusi tersebut dilakukan secara virtual pada Sabtu, 20 Maret 2021 di kanal Youtube Rumata Artspace.

Penulis sekaligus Kritikus Film JB Kristanto mengatakan bahwa ada satu garis besar yang membedakan film-film Usmar dengan yang lainnya pada masa itu adalah logika dalam bercerita. Menurutnya, Usmar membuat film sebagai medium dalam penyampaian gagasan atau pernyatan sikap yang tidak terpikirkan oleh para pelaku film sebelum masanya yang memiliki kecenderungan mengangkat cerita-cerita dongeng atau romansa.

“Usmar dalam sejarah film adalah memberi semacam batas yang menjadi pembeda pada film-film yang muncul baik sebelum maupun sesudahnya. Batas itulah yang membuat ia akhirnya menjadi tokoh dalam perfilman kita,” tutur Kris.

Misalnya dilihat dari film Darah dan Doa (1950), Kris melihat Usmar ingin menyampaikan buah pemikirannya yang berangkat dari pengalamannya sebagai tentara mayor. Usmar ingin menyampaikan bahwa sikap dasar tentara yang merasa paling berperan dalam membentuk negara bisa menimbulkan praktik dwifungsi termasuk efek negatifnya adalah korupsi. Kris mengatakan bahwa hasil gagasan Usmar ini secara tidak langsung nyatanya masih berlangsung pada kondisi perpolitikan kita saat ini.

“Begitupun dengan film Lewat Djam Malam (1954), sebenarnya sinematografi dan teknisnya biasa saja namun yang istimewa adalah bagaimana Usmar berhasil menyampaikan gagasan ide ceritanya lewat aktor dan gambar-gambar yang ditampilkan,” ungkap Kris.

Kris mengatakan bahwa dalam pembuatan cerita-cerita dalam filmnya, Usmar membuat kaitan yang jelas antara sebab dan akibatnya baik dalam film yang serius maupun yang cenderung komedi seperti Tiga Dara (1956).

Refleksi
Produser Mira Lesmana mengaku Usmar menginspirasi dirinya dalam membuat perusahaan film. Menurut Mira, Usmar dan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) membuat industri film bisa terus berproduksi secara berkesinambungan dan tidak terputus. Dalam realisasinya, Usmar juga memikirkan beberapa visi Perfini di antaranya keinginan film Indonesia sejajar dengan film kualitas tingkat dunia sekaligus memproduksi film yang berkualitas dan mencerminkan karakter bangsa Indonesia.

“Selain memikirkan cerita atau gagasan dalam film yang dibuat, Usmar juga berpikir bahwa perusahaan film bisa menjaga perfilman agar terus berkesinambungan. Menurut saya Usmar adalah sosok yang visioner. Itulah mengapa dia pantas disebut sebagai bapak perfilman,” ungkap Mira.

Lebih lanjut Mira mengatakan bahwa tidak jarang visi tersebut juga terbentur dengan pasar atau proses distribusi film. Misalnya, pergulatan Usmar yang sempat kesulitan dalam distribusi film ke bioskop-bioskop elit seperti Metropole, juga dialami oleh Mira dalam menjalankan sebuah perusahaan film.

“Kesulitan dalam proses distribusi film juga saya alami dalam Petualangan Sherina (2000) pada waktu itu. Saya harus bisa melobi atau mencoba meyakinkan kepada bioskop-bioskop. Sehingga saya sadar kalau masalah perfilman dahulu dan sekarang memiliki kesamaan dalam konteks perusahaan harus berhadapan dengan pasar dan distribusi,” tutur Mira.

Mira juga sempat membahas kondisi perfilman Indonesia yang cukup terpukul selama masa pandemi ini. Menurutnya, di saat seperti ini negara harus benar-benar hadir untuk memastikan bahwa industri bioskop tidak bangkrut. Mira mengatakan bagaimana pun film Indonesia sudah turut menyumbang dalam pendapatan negara, menjadi identitas bangsa, bagian dari sejarah dan bukan hanya menjadi hiburan.

“Meskipun sekarang ada digital platform untuk menonton film seperti Netflix, bisa dikatakan bahwa 90% sumber pendapatan produser film adalah bioskop,” tegas Mira.

Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) Edwin Nazir juga mengatakan bahwa maraknya digital platform yang menayangkan film secara streaming, memunculkan tindakan-tindakan pembajakan yang kian masif. Hal tersebut dikarenakan para pelaku pembajakan bisa dengan mudah mengakses film dengan kualitas yang baik.

“Perlu tindakan tegas terhadap pelaku pembajakan ini dan perlu juga kesadaran kolektif dari masyarakat untuk tidak menonton film dari platform yang tidak resmi,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film perfilman
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top