Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peneliti Australia Kembangkan Terapi yang Berhasil Matikan Viral Load Covid-19

Sementara itu peneliti utama Prof. Kevin Morris menambahkan, terapi ini dirancang untuk mengatasi semua betacoronavirus seperti virus SARS asli (SARS-CoV-1) serta SARS-CoV-2 dan MERS.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 20 Mei 2021  |  15:48 WIB
Peneliti Australia Kembangkan Terapi yang Berhasil Matikan Viral Load Covid-19
Ilustrasi Virus Corona (Covid/19)
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti dari Griffith University Australia bersama tim dari Amerika Serikat berhasil mengembangkan terapi antivirus yang telah membunuh viral load Covid-19 pada tikus yang terinfeksi dengan tingkat efektivitas mencapai 99,9 persen.

Peneliti utama Profesor Nigel McMillan dari Griffith University menyebut terapi ini sebagai "misi pencarian dan penghancuran" karena secara genetik menargetkan virus yang berpotensi mematikan.

Tim ilmuwan dari Menzies Health Institute Queensland dan lembaga penelitian City of Hope di AS memulai penelitian kolaboratif sejak April lalu.

Mereka menggunakan pendekatan virus generasi lanjut menggunakan teknologi asam ribonukleat (ribonucleic-acid/RNA) yang membungkam gen untuk menyerang genom virus secara langsung, dan menghentikan penyebaran virus.

"Hal itu menghancurkan genom sehingga virus tak dapat berkembang lagi. Kami menyuntikkan nano-partikel yang akan mencari virus dan menghancurkannya. Untuk pertama kalinya kami dapat mengemasnya sebagai partikel, lalu meluncurkannya melalui aliran darah untuk menyerang virus," kata Nigel mengutip ABC Australia pada Kamis (20/5/2021).

Selanjutnya, menurut Nigel nano-partikel itu akan menuju ke paru-paru dan akan memasuki semua sel paru-paru. Namun hanya sel paru-paru yang terkena virus yang bakal dihancurkannya. Sel-sel normal sama sekali tidak terluka oleh terapi ini.

Meskipun terapi ini bukan dianggap sebagai obat, namun hasil uji coba menunjukkan pengurangan jumlah virus di paru-paru hingga 99,9 persen. Artinya, hampir sama baiknya dengan obat.

“Terapi ini sangat penting misalnya untuk pasien di ICU yang vaksinnya sudah terlambat,” ujar Nigel.

Dia menambahkan, antivirus tradisional seperti zanamivir dan remdesivir diketahui mampu mengurangi gejala dan membantu orang pulih lebih awal.

“Sedangkan terapi ini justru menghentikan replikasi virus, sehingga tubuh bisa memperbaiki dirinya sendiri dan pemulihannya akan jauh lebih cepat lagi,” jelasnya.

"Kita seharusnya mampu meniadakan pasien yang sekarat akibat penyakit ini - jika ditangani lebih cepat," ujar Prof. Nigel.

Sejauh ini, sudah banyak vaksin yang telah dikembangkan dan digunakan untuk melawan COVID-19, namun terapi langsung untuk melawan virus ini masih sangat terbatas.

"Terapi ini menjadi salah satu yang pertama," katanya.

Dalam penggunaannya nanti, Nigel menjelaskan, pasien Covid-19 di ruang perawatan intensif (intensive care unit/ICU) akan menerima suntikan harian selama empat atau lima hari. Sedangkan orang yang baru terpapar Covid-19, akan disuntik sekali.

Dia mengatakan pengobatan ini dapat tersedia pada awal 2023, tergantung pada hasil uji klinis fase berikutnya.

"Virus ini tidak akan hilang. Kita akan hidup dengannya untuk selamanya," ujar Nigel.

Sementara itu peneliti utama Prof. Kevin Morris menambahkan, terapi ini dirancang untuk mengatasi semua betacoronavirus seperti virus SARS asli (SARS-CoV-1) serta SARS-CoV-2 dan MERS.

"Juga untuk setiap varian baru yang muncul di masa depan karena terapi menargetkan wilayah yang sangat terkonservasi dalam genom virus," tutur Kevin.

"Uji coba kami juga menunjukkan bahwa nano-partikel ini stabil pada suhu 4 derajat Celcius selama 12 bulan serta pada suhu kamar lebih dari satu bulan," jelasnya.

Itu berarti terapi hanya memerlukan sumber daya yang standar untuk mengobati pasien yang terinfeksi.

"Nano-partikel ini dapat diskalakan dan relatif hemat biaya untuk diproduksi dalam jumlah besar," kata Kevin.

"Penelitian kami didanai oleh Medical Research Futures Fund dan merupakan jenis obat RNA yang dapat diproduksi secara lokal di Australia," tambahnya.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Molecular Therapy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia Virus Corona
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top