Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Apakah Sehat Kalau Banyak Keringat?  

Apabila manusia tidak berkeringat, tubuh tidak dapat mendinginkan suhunya dan akan menyebabkan overheating atau heatstroke?
Annasa Rizki
Annasa Rizki - Bisnis.com 20 September 2021  |  12:10 WIB
Beberapa orang menghasilkan keringat saat makan atau saat duduk santai. - menhealth
Beberapa orang menghasilkan keringat saat makan atau saat duduk santai. - menhealth

Bisnis.com, JAKARTA – Tubuh mengeluarkan keringat sebagai respon untuk regulasi suhu tubuh. Keringat dapat terbentuk karena perubahan suhu tubuh, temperatur ruangan, bahkan perubahan emosi.  

Lingkungan dan udara yang panas akan mengakibatkan suhu tubuh naik. Kondisi tersebut akan membuat saraf otonom memberikan sinyal kepada kelenjar ekrin atau kelenjar keringat.  

Kelenjar ekrin terdapat di seluruh permukaan tubuh terutama paling banyak pada telapak tangan dan kaki, dahi, serta ketiak. Hadley King, MD, seorang dermatologi mengatakan bahwa saat keringat diproduksi maka akan mendorong hilangnya panas melalui penguapan. Dalam kata lain, keringat menurunkan suhu tubuh.  

Kondisi ini merupakan normal terjadi. Apabila manusia tidak berkeringat, tubuh tidak dapat mendinginkan suhunya dan akan menyebabkan overheating atau heatstroke.  

Tidak selamanya keringat dihasilkan karena panas atau olahraga. Pada beberapa orang mungkin menghasilkan keringat saat makan atau saat duduk santai. Kondisi ini disebut sebagai hiperhidrosis, dimana saraf memicu kelenjar keringat untuk menghasilan terlalu banyak keringat.  

Menurut Corey L. Hartman, dermatologi di Birmingham, ada dua jenis  hiperhidrosis yaitu primer dan sekunder. 

Hiperhidrosis primer biasanya terjadi di ketiak, tangan, dan kaki. Hal ini tentunya mengganggu aktivitas sehari-hari dan terkadang membuat malu akibat bau yang ditimbulkan. Selain itu, keringat berlebih pada tangan, orang akan kesulitan memegang benda karena kondisi tangan yang basah.  

“Keringat berlebihan dapat lebih merusak secara psikologis daripada merusak secara fisik,” tambah Dr. Hartman. 

Sebuah studi dalam jurnal Health and Quality of Life Outcomes mengungkapkan bahwa hiperhidrosis dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis, kehidupan sosial, dan profesional. Terlebih lagi, penelitian di Journal of American Academy of Dermatology menemukan hubungan antara kecemasan, depresi, dan hiperhidrosis, dengan kedua kondisi kesehatan mental lebih umum terjadi pada orang dengan kondisi keringat berlebih daripada yang tidak mengalaminya.

Sementara itu, hiperhidrosis sekunder terkait dengan kondisi kesehatan yang lebih serius seperti diabetes, gagal jantung, atau hipertiroid. Keringat berlebihan juga bisa menjadi efek samping dari obat-obatan tertentu seperti antidepresan, migrain,dan parasetamol.  

Hiperhidrosis menyebabkan orang berkeringat lima kali lebih banyak dari kondisi normal. Secara umum, kondisi ini tidak dapat disembuhkan, namun dapat diatasi. Keringat berlebih dapat dicegah dengan obat-obatan atau suntikan untuk mengontrol aktivitas kelenjar keringat.  

Selain itu, dapat juga menggunakan deodoran yang mengandung antiperspirant untuk menjaga ketiak tetap kering dan harum.  

Perawatan lainnya yaitu dengan suntik botox yang dapat mengurangi keringat berlebih hingga 87 persen dan bertahan hingga 12 bulan.  

Segera temui dokter kulit apabila merasa keringat sudah berlebih dan mengganggu kehidupan. Selain itu, bisa jadi keringat berlebih sebagai tanda penyakit serius.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

olahraga keringat

Sumber : Real Simple

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top