Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Tips Cegah Kebocoran Data saat Belanja Online

PT Digital Forensic Indonesia membagikan tips mencegah kebocoran data saat berbelanja online.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 30 September 2021  |  15:14 WIB
Ilustrasi belanja online. / istimewa
Ilustrasi belanja online. / istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Belanja online kini menjadi kebiasaan masyarakat seiring dengan kondisi pandemi Covid-19. Namun, pengguna aplikasi belanja online wajib mengetahui tips untuk mencegah kebocoran data.

Chief Digital Forensic PT Digital Forensic Indonesia (DFI) Ruby Alamsyah mengatakan kebocoran situs belanja online dibedakan menjadi dua kategori utama.

“Pertama, kebocoran yang terjadi secara masif, kebocoran secara langsung alias banyak secara bersamaan dalam waktu yang sama. Kedua, kebocoran yang bersifat individual, atau dari sisi pengguan itu sendiri,” katanya pada Bisnis.com, Rabu (29/9/2021).

Ruby menjelaskan, kebocoran data masif akan digunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab guna mengambil keuntungan pribadi. Penyebabnya, karena kebocoran cari sistem atau platform belanja online itu sendiri.

Contohnya, kata Ruby, kasus kebocoran data di Bukalapak pada 2019. Saat itu, data sebanyak 12,9 juta pengguna bocor di forum daring. Kemudian pada Mei 2020, kebocoran data terjadi di aplikasi Tokopedia.

Jika kasus kebocoran masif, pengguna atau pelanggan platform online tidak bisa mencegahnya. Hanya pemilik platform belanja oline yang punya wewenang melindungi sistem data penggunanya.

“Berkaca dari dua kasus tersebut, kebocoran data ini terjadi karena kesalah pemilik plaform belanja online yang lengah sehingga mudah diretas. Lalu datanya di bocorkan oleh para peretas,” kata Ruby.

Kemudian, kebocoran data yang bersifat individual terjadi karena kesalahan terjadi dari pengguna atau pelanggan. Misalnya menjadi korban phising, penipuan OTP pasword, kemudian penipuan teknik sosial engineering.

Adapun hal yang harus dihindari, Ruby menyebutkan lima hal yang harus dilakukan pengguna platform belanja online untuk mencegah kebocoran data individu.

Pertama, meningkatkan kesadarandalam menggunakan internet. Salah satunya dengan memastikan semua akun pasword aman, sulit ditebak, dan tidak mudah diketahui orang.

Kedua, menyalakan fitur factor authetication (2FA). Dengan fitur tersebut, ada faktor tambahan lain jika akun atau pasword pribadi dikatahui orang lain. Fitur 2FA akan membuat sedikit kemungkinan data untuk diretas.

Ketiga, jangan mudah memberikan informasi pribadi. Terutama jika ada platform atau website yang meminta data pribadi.

Keempat, jangan sembarang klik. Harus berpikir dulu agar terhindar dari korban phising. Pastikan link tersebut resmi dan asli sebelum melakukan akses.

Kelima, pastikan perangkat gawai saat menggunakan platform belanja online sesuai dengan sistem operasi. Sistemnya aman selalu terupdate, lalu pastikan menggunakan software perlindungan yang benar, misalnya ada antivirus yang tepat dan terbarukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce keamanan siber
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top