Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Demam Tifoid, Penyakit yang dapat Ditularkan Melalui Makanan

Secara umum, gejala demam tifoid terjadi di saluran cerna seperti, mual, muntah, diare, diare yang disertai darah, sakit perut dan konstipasi.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 11 November 2021  |  17:48 WIB
dr. Suzy Maria, dokter spesialis penyakit dalam
dr. Suzy Maria, dokter spesialis penyakit dalam

Bisnis.com, JAKARTA – Demam tifoid atau yang disebut dengan food borne merupakan salah satu penyakit yang dapat ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi kuman. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi  yang akan menginfeksi saluran cerna seseorang.
 
Kasus demam tifoid bersifat endemik dan merupakan masalah kesehatan masyarakat.  dr. Suzy Maria, dokter spesialis penyakit dalam, mengatakan, banyak orang Indonesia yang terkena penyakit ini. Penyakit ini juga ada dimana-mana dan kejadian ini bisa terjadi sepanjang tahun, tidak dipengaruhi musim, dan di Indonesia, terjadi kurang lebih 51 sampai 148 kasus demam tiroid dari 100.000 penduduk/tahun.
 
Lebih lanjut dr Suzy menjelaskan bahwa, penyakit ini juga berpotensi fatal, tidak hanya gangguan pada saluran cerna, tapi juga bisa menibulkan komplikasi yang bisa menyebabkan kematian. Dikatakan fatalitasnya sekitar 1 persen bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Dan di Indonesia ada sekitar 600 sampai 1.500 kasus kematian akibat demam tifoid yang berkomplikasi.
 
“Penyakit ini merupakan endemis ya. Orang Indonesia mungkin sudah pernah terpapar sebelumnya, sudah punya kekebalan sebelumnya, jadi bisa saja infeksi ini gejalanya ringan, atau tanpa gejala. Tapi bisa juga menunjukkan gejala yang berat, apalagi kalau sampai tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi yang bisa menyebabkan kematian,” kata dr. Suzy dalam peluncuran kampanye #SantapAman dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Nasional yang diadakan secara virtual pada Kamis (11/11/2021).
 
Secara umum, gejala terjadi di saluran cerna seperti, mual, muntah, diare, diare yang disertai darah, sakit perut dan konstipasi.
 
Selain itu, seseorang mungkin juga menunjukkan gejala seperti demam yang meningkat secara bertahap hingga mencapai 39 hingga 40 derajat C, nyeri otot, sakit kepala, merasa tidak enak badan, pembesaran ginjal dan hati, kelelahan dan lemas, berkeringat, batuk kering hingga muncul ruam pada kulit.
 
Banyak tahapan dimana seseorang bisa terkena penyakit demam tifoid akibat bakteri Salmonella Typhi. Tifoid yang ringan, umumnya jika diobati dengan antibiotik akan membaik. Tetapi, jika gejalanya berat, penanganan yang dilakukan tidak tepat atau terlambat memberikan antibiotik, atau usus menjadi bocor, ini dapat berpotensi fatal bahkan meninggal dunia.
 
“Sebenarnya, sebagian besar akan sembuh dengan baik jika diobati dengan antibiotik yang benar. Tetapi, jika pengobatan antibiotik misalnya sebenarnya kuman resisten atau kebal dari antibiotik, bisa saja gejalanya hilang namun kumannya menjadi carrier. Inilah yang berbahaya dan dia menularkan terus ke orang lain,” jelas dr. Suzy.

Vaksinasi dapat membantu pencegahan

Untuk melakukan pencegahan, menurut dr. Suzy ada pencegahan spesifik dan tidak spesifik.
 
Untuk yang tidak spesifik ini, kita wajib menerapkan standar kesehatan. Bagi orang yang menyiapkan makanan, orang tersebut sudah tentu harus menjaga kebersihannya, menjamin bahwa sumber makanan maupun seluruh rangkaian proses menyiapkan makanan tersebut tidak terkontaminasi.
 
Kemudian, meyakinkan bahwa makanan tersebut telah dimasak hingga matang.
 
Dan pencegahan spesifik adalah dengan melakukan vaksinasi.
 
“Jadi kita melakukan vaksinasi untuk mencetuskan kekebalan terhadap kuman Salmonella Typhi  tadi sehingga saat kita terinfeksi kita sudah punya kekebalan dan kalau terkena penyakit ini, tidak mengalami sakit berat,” katanya.
 
Vaksin demam tifoid ini bisa diberikan sejak usia 2 tahun ke atas sampai usia dewasa. Pemberiannya hanya satu dosis saja dan memberikan perlindungan selama kurang lebih tiga tahun. Setelah 3 tahun, kekebalan akan menurun sehingga Anda bisa kembali melakukan vaksinasi.
 
“Setidaknya, jika kita sudah punya kekebalan, kita sudah tidak khawatir lagi dengan penyakit ini,” tutupnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penyakit tifus
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top