Dosen Sosiologi UMM, Abdus Salam. Istimewa
Entertainment

FOMO Dorong Inovasi dan Kembangkan Minat Baru

Choirul Anam
Rabu, 24 Januari 2024 - 18:59
Bagikan

Bisnis.com, MALANG— Fear of Missing Out atau FOMO, kecemasan akan takutnya ketinggalan tertentu,  ternyata bermanfaat bagi masyarakat, yakni mendorong inovasi dan mengembangan minat baru, selain ada juga sisi negatifnya.

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Abdus Salam, mengatakan berada pada era yang dipenuhi informasi dan aktivitas beragam, fenomena ‘Fear of Missing Out’ (FOMO) telah menjadi bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan masyarakat. Kecemasan akan takutnya ketinggalan tren tertentu, kian menjadi keresahan baru.

“Sebagai makhluk sosial memiliki keinginan untuk diakui oleh orang lain. Jika dari perspektif sosiologi, ini termasuk dalam teori achievement mendorong seseorang  untuk meningkatkan kualitas diri,” katanya, Rabu (24/1/2024).

Dia menekankan, FOMO dapat berperan aktif dalam mendorong individu untuk terlibat lebih aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, juga memotivasi seseorang untuk mengikuti perkembangan terkini dalam berbagai bidang sehingga menciptakan iklim yang terus berinovasi dan mengembangkan minat baru.

Salah satu sisi positif dari FOMO adalah tren penjualan di Tiktok. “Ini adalah momentum berjualan yang dapat menunjang perekonomian, masyarakat dapat berkreasi dengan bebas melalui tren ini. Ini menjadi fakta sosial yang tidak bisa dihindari,” paparnya.

Selain itu, Salam menyoroti bahwa FOMO dapat mengubah paradigma sosial. Hal ini dikarenakan FOMO menjadikan masyarakat lebih terbuka terhadap keberagaman dan perkembangan budaya.

Dalam suatu kegiatan atau acara tertentu, masyarakat cenderung untuk berpartisipasi dalam aktivitas bersama, menciptakan jejaring sosial yang lebih kuat. FOMO juga berperan dalam memotivasi individu untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek sosial dan amal.

"Ketika seseorang merasa terdorong untuk tidak ketinggalan terhadap upaya kemanusiaan atau proyek-proyek sosial, ini dapat menciptakan gelombang positif solidaritas dan kontribusi masyarakat. Bahkan fenomena ini juga dapat menaikkan popularitas seseorang. Contohnya pendakwah di Madura yang tiba-tiba viral karena aksi dakwahnya yang dilakukan di sosial media,” sebutnya.

Meskipun demikian, dia juga memberi peringatan terkait dampak negatif yang ditimbulkan dari FOMO dalam masyarakat. Fenomena ini tak lepas kaitannya dengan perkembangan teknologi, termasuk gawai. Hal ini tentu akan merenggangkan hubungan antar sesama dan menimbulkan kesenjangan sosial.

“Saat ini citra dan fakta susah dibedakan, mengingat semua kegiatan dengan gampangnya diposting di media sosial. FOMO itu tidak dapat dihindari, tetapi tetap harus diimbangi dengan pola interaksi sosial seperti aktif berkontribusi dan berpartisipasi pada kegiatan di lingkungan masyarakat,” ucapnya. (K24)

Penulis : Choirul Anam
Bagikan

Tags :


Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro