Gusmen pajang 21 karya di pameran tunggal besok

JAKARTA: Gusmen Heriadi, perupa kelahiran Pariaman Sumatra Barat yang menetap di Yogyakarta, akan memajang 21 karyanya dalam pameran tunggal bertema Tamu di Edwins Gallery Jakarta Minggu besok.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 18 Desember 2010  |  05:00 WIB

JAKARTA: Gusmen Heriadi, perupa kelahiran Pariaman Sumatra Barat yang menetap di Yogyakarta, akan memajang 21 karyanya dalam pameran tunggal bertema Tamu di Edwins Gallery Jakarta Minggu besok.

Menurut Gusmen, pameran tunggal ini semula direncanakan berlangsung pada 2008 lalu, tapi terus tertunda. Banyak agenda pameran lain hingga pameran tunggal ini tertunda dan baru bisa terlaksana pada tahun ini, kata Gusmen, hari ini. Sebagai pelukis yang sedang naik daun memang Gusmen punya jadwal yang ketat untuk mengikuti berbagai pameran di berbagai kota di Indonesia, mulai dari di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali.

Yang menonjol dalam karya-karya Gusmen adalah kemampuannya yang kuat dalam menghadirkan 'suasana' luas, kelam, sunyi dan kemudian, melalui gestural sejumlah figurnya segera mempersuasi kita untuk mempertanyakan 'nasib' manusia sebagai 'tamu' di dunia, kata kurator Aminudin TH Siregar yang menangani pameran ini.Kesan luas ini hadir karena Gusmen peka dalam membangun latar panoramik. Oleh karena itu, latar lukisan Gusmen memiliki bobot arti yang sama dengan figur-figur manusianya. Keduanya sama-sama penting sebab saling mengikat makna. Latar ini bukanlah semata latar untuk menghias lukisan.Garis-garis horison, rimbunan pohon, garis pantai, keberadaan langit serta kehadiran bentuk pintu pada lukisan menandakan adanya sesuatu yang determinan terhadap kebebasan manusia di dunia. Kebebasan yang hendak dituju dalam karya Gusmen itu lebih bersifat relatif, yaitu kebebasan yang memiliki sejumlah tapal batasnya sendiri.Karya-karya Gusmen dalam serial Tamu ini memancing kita untuk merenungkan kembali mengapa kita 'datang' dan mengapa 'berangkat': mengapa kita mesti 'bertamu' ke dunia ini?Dari titik ini, kita beralih untuk mempersoalkan keberadaan manusia. Perkara ini bisa mengarah ke personifikasi Gusmen di dalam lukisan-lukisannya. Sementara dari arah yang lain, perkara ini lebih merupakan tawaran Gusmen kepada khalayak untuk merenungkan kembali soal-soal keberadaan manusia di dunia.(er)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top