Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fusami Ito, Perancang Jepang Pecinta Batik

Bisnis.com, JAKARTA—  Fusami Ito, seorang perempuan Jepang, bergumul dengan batik Indonesia sejak 1973.
Gloria Natalia Dolorosa
Gloria Natalia Dolorosa - Bisnis.com 22 Agustus 2013  |  20:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—  Fusami Ito, seorang perempuan Jepang, bergumul dengan batik Indonesia sejak 1973.

Diawali dengan kegelisahan akan seni batik. Perempuan yang lahir di Jepang, 18 Maret 1950, ini mengenal batik kali pertama saat duduk di bangku sekolah menengah atas pada 1965 di Tokyo. Guru seni rupanya yang baru pulang dari Indonesia membawa sehelai kain batik.

Guru itu menunjukkannya di depan para siswa. Fusami memandangnya dan menilai betapa bagus dan uniknya kain batik itu. Beberapa tahun kemudian, Fusami masuk Universitas Joshibi, ambil studi art and design.

“Tapi, rasanya saya tidak cocok. Lalu, saya ingat batik yang pernah ditunjukkan guru saya,” kata Fusami kepada Bisnis saat berkunjung ke Jakarta, Kamis, (22/8/2013).   

Maka, berangkatlah Fusami ke Solo, salah satu tempat tradisi batik berkembang kuat. Di sana dia bertemu keluarga Martodiwarno, keluarga pebatik tradisional. Selama 2 tahun Fusami belajar membatik dari keluarga itu. Fusami pun sempat belajar batik di Institut Seni Indonesia (ISI).

“Saya dapat ilmu membuat kain soga. Ini ciri khas batik Solo tradisional,” ujar Fusami yang saat ini mengoleksi 300 kain batik di kediamannya di Jepang.

Soga merupakan warna coklat khas batik Solo yang berasal dari kulit pohon. Fusami telanjur cinta pada batik. Dia melihat ada filosofi di setiap batik tulis tradisional yang tergambarkan dalam corak. Namun, sayang, kekayaan budaya itu tidak dilirik banyak anak muda Indonesia.

“Kok tidak ada anak muda Indonesia yang perhatikan lagi, malah orang luar Indonesia yang belajar dan peduli,” katanya.

Pengetahuan Fusami soal batik kian luas saat dirinya menjadi anggota tim peneliti Indonesia-Jepang dari Toyota Foundation. Penelitiannya tentang teknik survei batik tradisional Indonesia, sejarah, dan teknik pembuatan batik. Pada 1995 Fusami menerbitkan buku yang ditulisnya sendiri soal batik Indonesia di pasar Jepang. Saat ini dia ingin menerbitkan ulang buku tersebut.

Kecintaan Fusami pada batik mendorongnya untuk mengenalkan batik Indonesia ke negara-negara lain, termasuk Jepang. Satu caranya, menghasilkan batik berkualitas tinggi yang sesuai selera pasar Jepang. Selama berjibaku memproduksi batik, Fusami kerap menemukan perbedaan kualitas yang signifikan, meski batik-batik itu keluar dari lokasi produksi yang sama.

Maka, solusi yang harus diterapkan yakni membangun sistem pengawasan kualitas yang baik. Di benak Fusami, perlu ada satu orang yang mengepalai seluruh bagian produksi batik dengan standar tertentu yang sudah ditetapkan. 

Selain itu, batik Indonesia dapat ditingkatkan kualitasnya lewat proses produksi yang ramah lingkungan. Pengelolaan limbah dan pewarnaan alam harus diperhatikan, termasuk regenerasi tumbuhan penghasil warna untuk batik.

Menurut Fusami, sebuah laboratorium di Jepang tengah mengembangkan teknologi pewarna alam untuk batik. Dengan begitu, pebatik bisa menggunakan pewarna alam, tidak lagi pewarna kimia, secara lebih mudah.

Sumber daya manusia pun tidak boleh dilupakan. Fusami ingin penghasilan pebatik meningkat sehingga banyak orang tertarik menjadi pebatik. Menurutnya, jika ada pabrik yang menawarkan penghasilan lebih tinggi daripada membatik, dengan mudah para pebatik meninggalkan pekerjaannya. Tentu saja ini melemahkan produksi batik sendiri.

“Batik Indonesia sudah diakui Unesco sebagai warisan kemanusiaan budaya lisan dan nonbenda. Tinggal kita memperkuat kualitasnya,” tutur Fusami yang suka akan batik Solo tradisional berwarna soga dan biru.

Dia yakin bila tiga solusi itu diterapkan, kualitas batik Indonesia akan meningkat dan dapat diterima pasar mancanegara. Saat ini batik Indonesia yang dijual di Jepang adalah batik printing  dan berharga jual murah. Orang-orang muda Jepang mengenal batik printing sebagai kain murah yang dapat dipakai sehari-hari. Mereka tidak tahu batik tulis. Berbeda dari orang-orang tua yang tahu dan menyukai batik tulis Indonesia.

Ide untuk meningkatkan kualitas batik Indonesia bakal Fusami tuangkan ketika sudah tinggal kembali di Indonesia. Saat ini Fusami mukim di Jepang dan beberapa kali datang ke Indonesia.

“Saya akan kembali tinggal di Solo mungkin tahun depan untuk membuat batik Indonesia yang lebih baik,” janji Fusami. (ltc)

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fusami ito batik indonesia
Editor : Linda Teti Silitonga
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top