Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CAPRES 2014: Pengamat Soroti Gerak Partai Politik Papan Tengah

Perolehan suara partai-partai politik papan tengah pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 menurut survei hitung cepat berkisar 10%, tetapi posisi tawar mereka untuk "dilamar" tiga poros besar cukup tinggi
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 April 2014  |  02:54 WIB

Bisnis.com, JAKARTA- Perolehan suara partai-partai politik papan tengah pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 menurut survei hitung cepat berkisar 10%, tetapi posisi tawar mereka untuk "dilamar" tiga poros besar cukup tinggi.

Hanya saja, di tengah gencarnya komunikasi politik, partai-partai politik papan tengah tampaknya juga sedang menjajaki kemungkinan untuk berkoalisi dengan sesamanya menjadi poros keempat.

Partai Demokrat misalnya, walau pergerakan arah koalisi makin menggeliat, masih bergeming karena menurut pakar komunikasi politik Universitas Mercu Buana, Heri Budianto, Demokrat sepertinya cenderung menunggu reaksi, arah dan langkah pergerakan parpol lainnya.

Namun dia berpendapat, mestinya Demokrat jangan terlalu lama menunggu situasi politik koalisi. Pasalnya, dengan perolehan suara lebih dari 9%, partai ini masih memegang peranan strategis di tengah tidak adanya partai yang dominan dalam perolehan suara.

"Justru Demokrat dapat menggagas poros baru dengan menawarkan capres alternatif hasil konvensi," katanya seperti dikutip Antara, Sabtu (19/4/2014).

Direktur Eksekutif Political Communication (Polcomm) Institute menyebutkan jika melihat pergerakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saat ini yang menawarkan Muhaimin Iskandar sebagai cawapres, Demokrat bisa menjadikan tawaran itu sebagai suatu peluang.

"Memang PKB menyasar PDIP dan kemudian alternatif berikutnya Gerindra. Namun itu bisa saja buntu, sebab PDIP dan Gerindra akan melihat sosok yang ditawarkan PKB.

Dia berpendapat, jika PKB tidak jadi membangun koalisi dengan PDIP atau Gerindra, maka Demokrat bisa mengajak partai berbasis Islam ini membuat poros baru dengan menawarkan capres pemenang konvensi dan calon dari PKB, ditambah satu partai baru PBB atau PKPI.

Alternatif koalisi lainnya, katanya, adalah Demokrat bisa menggagas poros baru dengan PAN dan PKS. Sebab, kedua partai ini tampaknya lebih nyaman bersama Demokrat.

"Hanya saja sangat disayangkan pergerakan Demokrat cenderung lambat," katanya.

Senada dengan pengamat politik di atas, Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Andi Nurpati berpendapat, partainya masih berpeluang mengajukan calon presiden sendiri dengan menggandeng partai-partai papan tengah dan Demokrat bisa saja memimpin koalisi tersebut.

Partai papan tengah kalau bergabung tentu bisa mengusung capresnya sendiri. Tentu muaranya ke Demokrat karena perolehan suaranya dalam Pemilu 2014 tertinggi di antara partai papan tengah, ujar Andi. Dengan demikian akan terbentuk empat poros koalisi bersama PDI-Perjuangan, Partai Golkar, dan Partai Gerindra.

Partai-partai papan tengah yang mungkin berkoalisi dengan Demokrat menurut dia antara lain PKB, Partai Keadilan Sejahtera, atau Partai Bulan Bintang.

"Tapi semuanya masih cair, belum ada satu pun yang mengajukan capresnya. Jikapun Demokrat mengajukan capres koalisi partai tengah, kemungkinan peserta Konvensi Partai Demokrat yang akan diusung.

Namun, katanya, belum ada keputusan apakah Demokrat akan memimpin koalisi partai tengah atau bergabung dengan salah satu kubu papan atas.

Ada juga kemungkinan Demokrat hanya akan mengajukan bakal calon wakil presiden yang mendampingi bakal capres partai-partai papan atas. Cawapres ini bisa berasal dari Konvensi Capres Demokrat, bisa juga tidak.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

capres capres 2014

Sumber : Antara

Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top