Serba-serbi Soal Kesehatan dan Cedera Lutut

Seorang sahabat hampir selalu bersikap seolah anti menggunakan lift. Jika bisa menggunakan tangga, dia akan mengabaikan lift, kendati kosong melompong. Lebih sehat, begitu katanya.
Rezza Aji Pratama
Rezza Aji Pratama - Bisnis.com 06 Maret 2016  |  10:20 WIB
Serba-serbi Soal Kesehatan dan Cedera Lutut
Cedera lutut. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Seorang sahabat hampir selalu bersikap seolah anti menggunakan lift. Jika bisa menggunakan tangga, dia akan mengabaikan lift, kendati kosong melompong. “Lebih sehat,” begitu katanya.

Namun, benarkah naik atau turun tangga lebih sehat ketimbang menggunakan lift? Faktanya, naik tangga memang sangat bagus untuk kesehatan jantung. Namun, bukan berarti aktivitas tersebut tidak memiliki efek samping.

Menurut Dokter Spesialis Bedah Ortopedi L. Andre Pontoh, naik atau turun tangga membawa dampak buruk bagi kesehatan lutut. “Naik tangga membebani lutut 2,5 kali lipat, sedangkan turun tangga menambah beban hingga 3,5 kali lipat,” tuturnya.

Akibat tekanan yang berlebihan tersebut, akan terjadi pengapuran atau kerusakan pada tulang rawan. Oleh karena itu, dia menyarankan untuk menghindari naik tangga jika ada lift atau escalator yang tersedia.

Kalaupun terpaksa menggunakan tangga, sebaiknya berpegangan pada pengaman tangga untuk mengurangi beban pada lutut.

Selain persoalan tangga, juga ada beberapa persepsi yang salah soal kesehatan lutut yang banyak beredar di masyarakat. Salah satunya adalah kepercayaan bahwa olahraga lari bagus untuk menurunkan berat badan bagi penderita obesitas.

Faktanya, lari tidak dianjurkan bagi penderita obesitas karena akan sangat memperburuk kesehatan lutut.

Menurut Andre, penanganan yang paling tepat untuk orang yang obesitas adalah mengatur pola makan. Olahraga juga disarankan yang tidak terlalu membebani lutut seperti berenang, bersepeda, atau jalan kaki.

Andre menuturkan faktor penyebab cedera lutut sebenarnya bervariasi, mulai dari faktor usia, obesitas, dan jenis aktivitas yang dilakukan. Olahraga yang memberikan dampak besar seperti sepak bola dan basket juga menyimpan risiko besar.

“Apabila seseorang jarang melakukan aktivitas fisik dan tiba-tiba melakukan aktivitas olahraga high impact, risiko terjadinya cedera akan lebih besar,” tuturnya.

Banyak masyarakat yang beranggapan nyeri lutut disebabkan oleh kekurangan cairan. Padahal, nyeri lutur disebabkan oleh osteorarthritis atau pengapuran sendi lutut. Andre menjelaskan pengapuran sendi ini termasuk penyakit degeneratif yang lebih disebabkan oleh  usia, gerakan sendi yang berlebihan, dan tekanan berat badan.

Beberapa gejala yang muncul antara lain nyeri, pembengkakan, gerakan tidak sempurna, lutut terasa longgar atau terasa kaku. Cedera lutut juga rentan dialami kaum perempuan yang selalu menggunakan sepatu high heels dalam waktu lama.

CEDERA LIGAMEN

Anterior cruciate ligament (ACL) atau yang lebih dikenal dengan nama cedera ligamen merupakan momok menakutkan bagi para atlet. Jajaran pesepakbola top seperti Kevin De Bruyne, Danny Ings, hingga yang terbaru Wayne Rooney sudah pernah mengalami cedera ligamen.

Andre menjelaskan cedera ligamen merupakan salah satu cedera lutut yang membutuhkan waktu lama untuk bisa kembali pulih. Berdasarkan pengalaman Andre, mayoritas pasien yang mengalami cedera ligamen justru bukan berasal dari kalangan atlet. “Kebanyakan mereka orang biasa yang cedera ACL ketika olahraga seperti futsal,” katanya.

Untuk penyembuhan, biasanya dilakukan operasi ligamen dengan cara menanamkan urat yang diambil dari tubuh pasien tersebut. Pascaoperasi, pasien harus menjalani serangkaian tahapan agar bisa kembali beraktivitas.

Bagi atlet, biasanya akan dilakukan tes untuk memastikan benar-benar sembuh. Prosesnya bisa memakan waktu 6 bulan-9 bulan. Cedera ligamen tidak bisa dilihat dengan x-ray, tetapi harus menggunakan MRI.

“Banyak yang berfikiran setelah operasi lutut tidak bisa kembali olahraga. Dengan penanganan yang tepat sebenarnya bisa beraktivitas seperti semula,” paparnya. ()

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Cedera Lutut

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (6/3/2016)

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top