Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Membentuk Kepribadian Anak

Pola pengasuhan orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan karakter dan kepribadian anak. Itu sebabnya, untuk bisa mendapatkan kepribadian anak yang diharapkan, orang tua harus bisa menggunakan pola pengasuhan yang tepat.
Nurudin Abdullah & Duwi Setiya Ariyanti
Nurudin Abdullah & Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 06 Maret 2016  |  01:00 WIB
Anak-anak.  - Bisnis.com
Anak-anak. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pola pengasuhan orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan karakter dan kepribadian anak. Itu sebabnya, untuk bisa mendapatkan kepribadian anak yang diharapkan, orang tua harus bisa menggunakan pola pengasuhan yang tepat.

Pada dasarnya, proses perkembangan kepribadian tersebut tidak bisa lepas dari pola pengasuhan yang didapatkan dari keluarga—khususnya orang tua—terutama pada masa kanak-kanak, bahkan sejak anak masih dalam kandungan.

Menurut Elly Risman Musa, Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati, dari cara berkomunikasi—yang merupakan bagian dari pola pengasuhan—orang tua kepada anak saja akan memengaruhi kepribadian anak hingga dewasa kelak.

Dia mengatakan komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak harus terus dilakukan dengan cara-cara yang baik, salah satunya dengan tidak memberikan ‘label’ buruk kepada buah hatinya agar dapat tumbuh menjadi manusia yang berkepribadian baik.

Orang tua jangan mudah memberikan ‘label’ buruk kepada anaknya, tidak meremehkan atau membanding-bandingkannya dengan anak lain karena dapat berakibat buruk bagi kepribadian anak.

“Sebab, pada dasarnya setiap orang itu unik dan mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Tuhan,” katanya dalam seminar bertema Sayang Anak Sayang Dunia di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terkait dengan pola pengasuhan, Elly mengatakan para orang tua hendaknya mampu dengan ikhlas untuk selalu berintrospeksi diri, terutama ketika mendapati buah hatinya bermasalah.

Selain itu, penting pula untuk menjalin komunikasi yang efektif dengan pasangan, sehingga bisa terus bersama-sama dalam upaya membentuk karakter dan kepribadian anak yang berkualitas.

Komunikasi mengenai pola pengasuhan tersebut, sebenarnya juga dapat dibicarakan pada saat awal-awal suami-istri menikah, sehingga nantinya tidak terjadi perbedaan ketika si buah hati sudah ada. “Karena sejatinya, tugas pengasuhan bukan hanya ibu saja, tapi ayah juga harus terlibat,” tegasnya.

Bonusnya, komunikasi yang efektif tersebut juga bisa mempermudah terbentuknya keluarga yang sakinah, mawadah, dan warrahmah.

GADGET

Sementara itu, psikolog Tika Bisono mengatakan keberadaan gadget menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua zaman sekarang. Bagaimanapun, gadget juga bisa memengaruhi pola pengasuhan orang tua terhadap anaknya.

Pasalnya, banyak orang tua zaman sekarang yang masih sering menggunakan gadget, padahal sedang bersama anaknya. Apalagi dengan kemudahan mendapatkan akses Internet, orang tua terkadang menjadi lupa dengan perannya di rumah sebagai pengasuh dan pendidik bagi anak-anaknya.

“Akibatnya, kuantitas pertemuan anak dengan orang tua dalam hal ini ibu, bukan jaminan bahwa anaknya akan tumbuh baik dan sesuai dengan norma yang berlaku,” ujarnya.

Begitu juga dengan para ayah yang seharian sibuk di luar rumah, acapkali masih menggunakan gadget—membalas sms ataupun hanya sekadar mengecek informasi dan perkembangan di media sosial—ketika masih berada di rumah.

Akibatnya, waktu bersama anak menjadi berkurang sehingga komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak juga terlupakan. Padahal, waktu untuk membentuk karakter dan kepribadian anak semakin terbatas, sejalan dengan pertambahan usia anak.

Terkait penggunaan gadget untuk anak-anak, psikolog dari Tiga Generasi Saskhya Aulia Prima mengatakan penggunaan gawai oleh anak berusia 2 tahun tidak disarankan. Apalagi, bila durasinya lebih dari 2 jam sehari.

Pasalnya, otak dan kekuatan saraf motorik serta daya fokus anak harus terus diasah dengan beragam kegiatan yang bisa membantunya menyelesaikan tugas pada tahapan perkembangan berikutnya.

Bila anak terbiasa menggunakan gawai, dampaknya pada saat memasuki usia prasekolah cenderung kesulitan mengikuti kegiatan. Sebagai contoh, untuk belajar menulis diperlukan kekuatan otot di bagian jari dan lengan.

Sementara itu, penguatan otot seperti ini tidak bisa didapatkan dengan kegiatan belajar dan bermain melalui gawai. Itu sebabnya, orang tua perlu memperkenalkan anak dengan benda lain yang akan membantunya menyelesaikan tugas pada tahapan tumbuh kembangnya. ()

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak-anak Kepribadian

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (6/3/2016)

Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top